Petani di Kalimantan Barat Masih Miskin

Minggu, 08/07/2018 14:28 WIB
(foto:asuransimikroindonesia)

(foto:asuransimikroindonesia)

law-justice.co - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat menyatakan rata-rata kesejahteraan petani di Kalimantan Barat (Kalbar) terus mengalami penurunan dari standar normal. Hal itu dapat dilihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) Kalbar pada Juni 2018 hanya 95,69 poin atau turun 0,61 persen dibanding NTP bulan Mei 2018 yaitu 96,27 poin

"NTP di bawah 100 poin masuk katagori rendah atau masih miskin. Itu tentu perlu ditingkatkan,” ujar Kepala BPS Kalbar Pitono di Pontianak, Minggu (8/7) dikutip dari Antara.

Pitono menjelaskan rendahnya NTP pada Juni itu karena indeks harga yang diterima petani turun 0,01 persen. Selain itu, nilai indeks harga yang dibayar petani atau biaya pengeluaran naik 0,60 persen.

Ia merinci sejumlah subsektor pertanian mengalami penurunan seperti tanaman padi dan palawija Juni 2018 94,50 poin, turun 0,58 persen dibanding Mei 2018. Selain itu NTP hortikultura Juni 2018 100,30 poin, turun 0,99 persen dibanding bulan sebelumnya. Adapun NTP tanaman perkebunan rakyat Juni 2018 95,07 poin, turun 0,99 persen dibanding bulan sebelumnya.

"Kenaikan NTP justru terjadi pada sektor peternakan dan perikanan, pada Juni 2018 94,22 poin, naik 0,19 persen dibanding Mei 2018. Begitu juga NTP perikanan Juni 2018 105,42 poin, naik 1,41 persen dibanding Mei 2018," kata Pitono.

Ia menambahkan kondisi pertanian Kalbar sendiri pada Juni 2018 berbanding terbalik dengan provinsi lain di Pulau Kalimantan. Faktor penyebabnya, kata Pitono, yakni sektor perkebunan karet dan kelapa sawit terlalu mendominasi.

“Padahal harga dolar sudah tembus Rp14.00an dan minyak dunia tembus 78 dolar As per barel. Biasanya petani kelapa sawit dan karet, lada dan kelapa ketiban untung dari situasi ini. Namun sebaliknya, harga komoditas-komoditas andalan masyarakat Kalbar malah anjlok," imbuhnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak, Eddy Suratman meyebut kondisi pertanian yang lesu cukup mengkhawatirkan karena berpengaruh ke daya beli masyarakat. Harga-harga sawit dan karet ini sangat berpengaruh ke ekonomi masyarakat. Jika harga terus anjlok, sementara biaya produksi naik maka daya beli masyarakat dalam bahaya.

"Apabila demikian maka imbasnya ke semua sektor. Pemerintah lokal harus mengambil langkah cepat dan tepat. Supaya petani tidak terlalu terbebani. Caranya adalah dengan mengucurkan dana untuk menyubsidi biaya produksi para petani. Subsidi itu bisa disalurkan ke pupuk atau biaya lainnya. Sementara sumber pendanaanya bisa menggunakan kas daerah maupun APBN," papar dia.

Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menargetkan produksi beras sebanyak 1,6 juta ton dari pertanian di seluruh wilayah kabupaten dan kota yang ada di Kalimantan Barat pada tahun 2018 ini. Penetapan target tersebut sesuai dengan hasil pertanian dalam kurun dua tahun terakhir terjadi peningkatan hasil produksi yang cukup baik yaitu dari 1,3 juta ton pada tahun 2016 meningkat menjadi 1,5 juta ton pada tahun 2017.

(Tim Liputan News\Editor)

Share:
Tags:




Berita Terkait

Komentar