Dikepung Asap, Singapura Siap Usut Perusahaan Penyebab Karhutla RI

Kamis, 15/10/2026 22:44 WIB
Kasus Covid-19 melonjak lagi, Singapura lockdown (kompas)

Kasus Covid-19 melonjak lagi, Singapura lockdown (kompas)

law-justice.co - Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong buka suara terkait kabut asap yang kembali melanda negaranya. Wong mengonfirmasi bahwa kepungan asap pekat tersebut berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang diperparah oleh musim kemarau panjang.

Wong menegaskan otoritas Singapura tengah mengusut perusahaan-perusahaan yang disinyalir menjadi pemicu kebakaran hutan di lahan konsesi mereka.

Pemerintah Singapura, kata Wong, tidak ragu menerapkan sanksi hukum di bawah Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act / THPA).

"Jika terbukti dan diperlukan, kami akan mengambil tindakan berdasarkan Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas Singapura, serta mengeksplorasi tindakan bersama dengan negara-negara lain," tegas Wong melalui unggahan di akun Instagram resminya @lawrencewongst.

Guna mengatasi dampak pencemaran udara tersebut, Wong menyatakan Pemerintah Singapura telah secara resmi menawarkan bantuan teknis dan pemadaman kepada Indonesia, serta terus berkoordinasi intensif dengan negara-negara anggota ASEAN.

"Kabut asap ini berasal dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia, yang diperparah oleh periode kemarau panjang. Kami telah menawarkan bantuan kepada Indonesia, dan akan terus bekerja sama secara erat dengan mereka serta mitra ASEAN untuk mengatasi masalah ini," jelas Wong. 

Di dalam negeri, Pemerintah Singapura menerapkan langkah mitigasi darurat untuk melindungi warga dari paparan udara tidak sehat. Penyaluran masker standar N95 mulai difokuskan kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit pernapasan.

Selain itu, posko perlindungan (shelter) ber-AC disiagakan di Community Club (CC) serta pusat-pusat komunitas warga (Residents` Network dan Residents` Committee) di berbagai wilayah Singapura.

Wong mengakui bahwa faktor alam dan kondisi di luar perbatasan negara berada di luar kendali langsung pemerintahannya. Kendati demikian, ia memastikan keselamatan dan kesehatan warga Singapura tetap menjadi prioritas utama.

"Kita tidak bisa mengendalikan cuaca atau angin, dan kita juga tidak bisa secara langsung mengendalikan apa yang terjadi di luar perbatasan kita. Namun, kami akan melakukan segala upaya untuk melindungi warga Singapura, sembari bekerja sama dengan negara tetangga untuk mengatasi penyebab mendasar dari kabut asap ini," pungkasnya.

(Yudi Rachman\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar