Rosadi Jamani, Mantan Wartawan
Ketika Karhutla Membara, Mereka Malah Lakukan Korupsi
Gedung BNPB/Gugus Tugas Nasional Penanganan Covid-19 (Foto:Ulin Nuha/Law-Justice)
law-justice.co - Sungguh tak berperikemanusiaan, di saat ribuan warga terkena ISPA karena Karhutla semakin membara, mereka malah korupsi, maling dana penanganan bencana. Seandainya bisa, mereka ini layak dijatuhkan dari helikopter water bombing.
Mereka ada 14 orang, termasuk Sekretaris Utama BNPB sendiri. Tertangkap basah dengan Rp1,4 miliar dan emas batangan di tangan.
Sementara di luar sana langit Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, bahkan sampai Papua sudah berubah menjadi neraka abu yang menyesakkan.
Anak-anak terbatuk darah, orang tua sekarat di rumah sakit yang kekurangan oksigen, ibu-ibu menangis menatap bayinya yang sesak napas, dan mereka? Mereka sibuk menghitung lembaran uang bencana seharusnya dipakai untuk memadamkan api, bukan untuk memperkaya diri.
Dana siap pakai yang digelontorkan negara untuk menyelamatkan nyawa, untuk membeli pompa, masker, obat, dan logistik, justru berubah menjadi banjir rezeki bagi para pengkhianat berjas.
Satu koma empat miliar. Cukup untuk menyelamatkan ratusan bahkan ribuan orang dari maut. Tapi tidak. Uang itu lebih nyaman mengendap di saku pejabat dan rekanan swasta yang lega melihat kebakaran hutan sebagai ladang panen abadi.
Sehari sebelumnya Presiden masih memimpin rapat terbatas, memerintahkan fokus ke Tanjung Puting, meminta seluruh sumber daya dikerahkan.
Sementara di balik layar justru ada yang sibuk membagi-bagi jarahan dari penderitaan rakyat. Kepala BNPB hadir di istana menyampaikan laporan seolah semua terkendali, tapi pejabat nomor duanya diduga sedang menikmati hasil bancakan.
Mereka menatap orang-orang terkapar di tanah gambut sambil tersenyum karena kontrak pengadaan sudah aman di tangan.
Emas batangan berkilau, uang tunai menumpuk, sementara di luar sana anak kecil menangis minta udara bersih yang tak pernah datang.
Apakah ada lebih keji dari mencuri di tengah penderitaan? Lebih jahat dari menghisap darah orang yang sedang sekarat? Mereka bukan sekadar koruptor. Mereka adalah monster yang menjadikan air mata rakyat sebagai sumber kekayaan.
Netizen sudah mengamuk liar. Mereka bilang maling, garong, bilang pejabat sekarang serba dikorup, bilang pantesan karhutla tak kunjung padam karena duitnya ditelan sendiri. Mereka benar. Mereka sangat benar.
Di negeri ini bencana terbesar bukan lagi api membakar hutan, melainkan manusia-manusia tanpa nurani menari di atas penderitaan sesamanya. Empat belas orang itu harus dihukum seberat-beratnya. Bukan hanya penjara. Mereka harus merasakan apa dirasakan rakyat: sesak, putus asa, dan tak punya tempat mengadu.
Kalau masih ada berani bilang “ini hanya dugaan”, maka biarlah amarah ini membakar lebih dahsyat dari semua titik panas yang ada. Mereka telah mencuri di atas ribuan warga terkena ISPA.
“Kalau cerita duit, yang dipikirkan dulu, berapa persen masuk kantong sendiri. Mental korupsi sudah sangat parah di negeri kita, Bang.
“Bukan lagi parah, wak. Sudah mendarah daging. Sebelum dana itu dirasakan korban karhutla, sudah dikorupsi di sana-sini. Lapor ke Presiden karhutla sudah berkurang 80 persen. Padahal berkurang karena ada hujan.”




Komentar