Aparat Buru Pria Berompi Semprot Cairan Merica ke Ketua SEMA UGM

Kamis, 03/09/2026 16:38 WIB
Kampus UGM (Foto: Wowkeren)

Kampus UGM (Foto: Wowkeren)

law-justice.co - Satpol PP DIY menyatakan akan menelusuri keberadaan pria berompi `Jaga Warga` yang terekam kamera video menyemprotkan cairan diduga air merica ke arah wajah Ketua Umum SEMA UGM, Mesa Syafitra saat aksi demo di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9) kemarin.

"Akan kami akan akan kami lakukan penelusuran. Ya dicek ya keberadaannya itu," kata Kepala Satpol PP DIY, Bagas Senoadji saat dihubungi, Kamis (3/9).

Sebagai informasi, Jaga Warga adalah lembaga masyarakat yang dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 28 Tahun 2021 dan ada di tiap lingkungan. Bagas mengatakan kewenangan Jaga Warga ada di tingkat kelurahan, sementara Satpol PP punya tugas membina.

Bagas menjelaskan Jaga Warga terdiri dari berbagai elemen masyarakat. Tapi, yang jelas pihaknya telah menginstruksikan setiap anggota Jaga Warga untuk cukup menjaga lingkungan masing-masing saat terjadi aksi mahasiswa pada Selasa lalu.

Dia mengklaim telah menyampaikan kepada Jaga Warga bahwa pengamanan lokasi aksi unjuk rasa adalah kewenangan kepolisian.

"Jadi untuk menjaga di lingkungan masing-masing terkait untuk warganya untuk tidak terprovokasi. Nah itu tak sampaikan kepada Jaga Warga itu," ungkap Bagas.

Bagi Bagas, tak menutup kemungkinan pula jika aksi penyemprotan cairan merica itu dilakukan oleh oknum yang memakai rompi Jaga Warga.

"Saya belum bisa memastikan apakah itu anggota Jaga Warga asli atau hanya sekedar memakai rompi," ucapnya.

"Kalau memang iya dia, mohon maaf ya, umpamanya itu memang benar anggota Jaga Warga. Ya akan kami lakukan pembinaan," sambung Bagas.

Terpisah, Mesa Syafitra, Ketua Umum SEMA UGM mengaku dirinya telah jadi korban penyemprotan dengan cairan diduga air merica saat aksi demo di Simpang Empat Gramedia, Selasa malam kemarin.

Mesa membagikan rekaman video berdurasi 21 detik saat dirinya disemprot dengan cairan diduga air merica langsung ke arah wajahnya.

"Saya menggunakan baju putih itu, berjalan mundur sembari memastikan tidak ada kawan yang tertinggal atau tersandera. Namun, seseorang menggunakan vest [rompi] Jaga Warga menyemprot merica ke wajah saya," kata Mesa mendeskripsikan momen pada video saat dihubungi, Kamis.

Pernyataan Polda DIY

Mesa juga mengecam pernyataan institusi penegak hukum yang justru menuding massa aksi memakai semprotan merica ketika unjuk rasa kemarin.

Klaim massa aksi menggunakan cairan semprotan ini datang melalui unggahan media sosial resmi Polda DIY, dengan narasi `Fakta Lapangan`.

Akun media sosial Polda mengunggah video momen sewaktu demo kemarin dan menyorot temuan botol oranye yang dibawa salah seorang massa aksi. Mereka menyebut botol tersebut berisi cairan merica.

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan dalam video itu menyebut personel Polresta Yogyakarta terkena semprotan diduga cairan merica sehingga harus mendapat perawatan.

Mesa menegaskan massa aksi--utamanya yang bertugas sebagai relawan medis--saat itu justru membawa cairan untuk membantu demonstran terdampak gas air mata kepolisian.

"Saya sangat menyayangkan klaim tersebut. Sangat menggelikan sekaligus memprihatinkan ketika institusi keamanan negara gagal membedakan antara cairan obat maag pelindung lambung dengan senjata kimia pelumpuh," beber Mesa merespons video Polda DIY.

Mesa menjelaskan, secara ilmiah dan pada praktiknya di seluruh dunia, cairan antasida macam obat maag yang dilarutkan air merupakan protokol standar tim medis lapangan untuk membilas mata dan wajah korban paparan gas air mata.

Kata dia, sifat basanya mampu membantu menetralkan efek asam korosif dari senyawa kimia gas air mata.

"Menuduh obat maag sebagai semprotan merica adalah bentuk ketidakpedulian terhadap keselamatan kemanusiaan, atau yang lebih buruk adalah upaya menjustifikasi tindakan represif di lapangan," lanjut Mesa.

Mesa sendiri sempat ditangani dengan air dari dari botol oranye oleh tim medis massa aksi usai dirinya kena semprotan cairan diduga air merica. Video Mesa dibasuh dengan air dari botol oranye ini juga sudah banyak beredar.

"Kawan-kawan medis sigap membantu dengan menyemprotkan cairan Mylanta dari botol oranye. Tim medis yang turun ke jalan bukan membawa senjata untuk menyerang, melainkan membawa obat-obatan untuk merawat kemanusiaan yang terluka. Ketika penawar rasa sakit distigmatisasi sebagai ancaman, di situlah kita tahu bahwa akal sehat publik sedang coba dikaburkan," tegas Mesa.

Atas dasar itu, tegas Mesa, Polda DIY harus bertanggung jawab secara hukum atas narasi publik yang mereka unggah di media sosial. Ia berujar, selak penegak hukum yang dibekali oleh negara dengan instrumen intelijen, tim penyelidikan, dan infrastruktur verifikasi data yang lengkap, unggahan `fakta lapangan` dari Polda DIY semestinya memiliki standar akurasi ilmiah dan integritas data yang kredibel.

"Bukan justru memproduksi misinformasi yang menyesatkan akal sehat publik," jelas Mesa.

Mesa melanjutkan, SEMA UGM menuntut Polda DIY tidak hanya meralat klaim tersebut, tetapi juga meminta maaf secara terbuka kepada publik demi menjaga marwmarwah kredibilitas kepolisian itu sendiri

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan sementara itu menyatakan pihaknya sangat menghormati dan menampung klarifikasi informasi dari rekan-rekan mahasiswa.

"Perlu kami sampaikan terkait isi tabung, karena pada saat aksi belum sempat diamankan oleh petugas akibat situasi di lapangan yang sangat dinamis, maka sejak awal narasi resmi kami menggunakan diksi `diduga` demi mengedepankan asas praduga tak bersalah," jelas Ihsan dalam keterangannya, Kamis.

Ihsan menambahkan, fokus utama pihaknya adalah fakta klinis adanya tujuh personel pelayanan yang nyata mengalami sesak napas serta iritasi sewaktu meredam keributan.

"Alhamdulillah, seluruh korban baik dari mahasiswa maupun petugas saat ini sudah ditangani medis dan telah pulih sepenuhnya. Situasi Kamtibmas Yogyakarta juga tetap terjaga, aman dan kondusif," imbuh Ihsan.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar