Sudaryono: Tak Peduli SPPG Punya Siapa, Saya Tutup Jika Tidak Standar

Senin, 17/08/2026 23:33 WIB
Foto: Sudaryono, calon Wamentan. (Instagram @sudaru_sudaryono)

Foto: Sudaryono, calon Wamentan. (Instagram @sudaru_sudaryono)

law-justice.co - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan akan menutup permanen Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak memenuhi standar, tanpa melihat pihak yang memiliki atau mengelola dapur tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Sudaryono saat merespons evaluasi BGN setelah insiden dugaan keracunan makanan MBG yang dialami sejumlah siswa SMAN 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara.

"Ya, saya enggak peduli itu SPPG-nya misalnya apa, punya siapa, saya enggak lihat. Saya lihat sistem. Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen," kata Sudaryono di halaman Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8).

Sudaryono mengatakan, tindakan tersebut berlaku bagi seluruh SPPG yang tidak dapat memenuhi standar operasional yang ditetapkan BGN. Menurutnya, dapur yang tidak dapat diperbaiki akan ditutup secara permanen.

Ia mengungkapkan BGN telah menutup sekitar 1.300 SPPG dalam tiga pekan sejak dirinya menjabat sebagai kepala BGN. Perinciannya, sekitar 800 SPPG telah ditutup, kemudian 500 SPPG lainnya menyusul.

Selain penutupan dapur yang tidak memenuhi standar, BGN juga mengevaluasi prosedur pemeriksaan makanan setelah insiden Berastagi.

Sudaryono mengatakan, pemeriksaan makanan secara organoleptik, seperti melihat bau dan mencicipi makanan, tidak selalu dapat mendeteksi potensi persoalan yang menyebabkan keracunan.

"Jadi, bahwa keracunan ini bukan hanya misalnya dicek organoleptik tadi dibau, dirasa, dicicipi, ya. Sudah dibau enggak ada masalah, dicicipi juga enggak ada persoalan, akhirnya dikonsumsi," bebernya.

Oleh karena itu, BGN mempertimbangkan penggunaan test kit di setiap dapur SPPG. Alat tersebut nantinya digunakan dengan bahan kimia tertentu untuk memeriksa kemungkinan adanya zat berbahaya maupun kondisi makanan.

"Jadi ini sedang kami pertimbangkan untuk kemudian di setiap dapur itu nanti kita lakukan test kit. Jadi dites, diberi dikasih chemical untuk ngecek apakah ada arsen, ada basi, ada apa," jelasnya.

BGN, lanjut Sudaryono, sedang mempelajari penggunaan test kit dari sejumlah SPPG yang selama ini menerapkannya. Salah satunya adalah SPPG yang dikelola Bhayangkari dari Polri.

Sebelumnya, BGN telah mencopot kepala SPPG yang terkait dengan insiden dugaan keracunan makanan pada siswa SMAN 1 Berastagi. BGN juga menyegel dapur operasional SPPG tersebut sebagai langkah administratif.

"BGN juga memastikan kondisi mereka (siswa) dan kemudian mencari akar persoalannya," kata Sudaryono dalam unggahan Instagram resminya.

BGN juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Karo. Pemeriksaan terhadap sampel sisa lauk-pauk dilakukan bersama Dinas Kesehatan setempat untuk mengetahui penyebab kejadian.

Sebelumnya, sejumlah murid SMAN 1 Berastagi diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumatra Utara Wilayah IV Zulkarnain Barus membenarkan adanya insiden tersebut, tetapi belum memberikan keterangan lebih lanjut karena proses evakuasi masih berlangsung.

Sudaryono mengatakan, evaluasi juga dilakukan terhadap SPPG yang dinilai belum menjalankan standar dengan baik. Namun, ia mengingatkan satu kasus tidak dapat dijadikan gambaran umum bahwa seluruh dapur SPPG mengalami persoalan serupa.

"Dari 27 ribu dapur, Alhamdulillah sebagian besar itu bekerja dengan baik dan kita harus upayakan yang baik itu terus tambah baik gitu, dan kita mengevaluasi bagi yang belum baik. Yang tidak bisa dievaluasi, tidak bisa diperbaiki, mohon maaf harus saya tutup," ia menegaskan.

Sudaryono juga menyatakan akan mencopot atau memberhentikan personel yang tidak mampu mengikuti standar yang ditetapkan BGN.

"Dan bagi personel-personel yang tidak bisa mengikuti standar tinggi yang saya punya, mohon maaf harus saya copot atau saya pecat status ASN PPPK-nya," ujar Sudaryono.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar