Sebut Dialog Bukan Tanda Manut, Iran: AS Tetap Kolonialis dan Kriminal
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Istimewa).
law-justice.co - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa saat ini merupakan waktu terbaik bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Pezeshkian menyebut kondisi Iran yang dinilainya tetap bersatu dan kuat menjadi peluang untuk menyelesaikan berbagai persoalan melalui jalur diplomasi.
"Ketika orang berbicara tentang mencapai kesepakatan, saya percaya sekarang adalah waktu terbaik karena negara ini tetap bersatu, kuat, dan kompak. Sejauh yang saya ketahui, Iran dianggap telah keluar dari perang dan konflik ini sebagai pihak yang menang dan kuat," ujar Pezeshkian dalam konferensi pers keduanya sejak menjabat, Sabtu (8/8), dikutip dari Middle East Monitor.
Menurut Pezeshkian, situasi saat ini memberikan kesempatan bagi Iran untuk mengejar kesepakatan sekaligus menyelesaikan persoalan yang masih belum tuntas melalui dialog.
Dia mengatakan Iran dapat memperjuangkan hak-haknya lewat jalur diplomasi dan tidak menginginkan apa pun di luar hak Iran dan rakyatnya.
Pezeshkian menegaskan perang saja tidak akan mampu menyelesaikan seluruh perselisihan. Karena itu, pemerintahannya tetap berkomitmen mengejar perdamaian berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani Iran dan AS pada Juni.
"Persoalan tidak dapat diselesaikan hanya melalui perang. Kami berusaha menuju perdamaian berdasarkan ketentuan dalam nota kesepahaman tersebut," katanya.
Namun, Pezeshkian mengatakan Iran hanya akan menjadikan nota kesepahaman itu sebagai dasar pendekatan jika AS meninggalkan ketidakpercayaan yang selama ini dibangun dan kepercayaan antara kedua negara dapat dipulihkan.
Meski membuka peluang dialog, Pezeshkian tetap mempertahankan kritik keras terhadap AS.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita resmi Iran IRNA, ia mengatakan dialog tidak mengubah sikap Iran terhadap Washington.
"AS adalah negara kolonialis, AS adalah negara kriminal, dan Republik Islam tetaplah Republik Islam. Tidak ada keraguan mengenai hal itu," imbuh Pezeshkian.
Namun, ia menilai diplomasi telah memaksa Washington kembali berunding dengan Teheran.
"Fakta bahwa kami melakukan pembicaraan dan menjalankan diplomasi memaksa AS untuk datang ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan serta pemahaman dengan Iran," ujarnya.
Pezeshkian juga membantah kritik terhadap nota kesepahaman tersebut. Ia menegaskan tidak ada ketentuan yang mengharuskan Iran menyerahkan kepentingan ataupun posisinya.
"Anda tidak akan menemukan satu klausul pun dalam nota kesepahaman di mana kami menyerahkan sesuatu," pungkasnya.



Komentar