Respon Bos soal KAI KRL Belum Mampir di Stasiun Gambir
KAI Commuter menambah perjalanan pada commuter line Jabodetabek per 1 Februari 2025 sehingga waktu perjalanan semakin singkat. KRL Jabodetabek ditambah 15 perjalanan dari yang sebelumnya sebanyak 1.048 perjalanan menjadi 1.063 perjalanan. Penambahan ini menjadi bagian dari implementasi Grafik Perjalanan Kereta (GAPEKA) 2025 yang resmi dilaksanakan mulai Sabtu, 1 Februari 2025. Selain penambahan jumlah perjalanan, KAI Commuter juga melakukan optimalisasi kecepatan perjalanan. Robinsar Nainggolan
law-justice.co - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menjelaskan alasan Commuter Line (KRL) yang melintas di Stasiun Gambir hingga kini belum melayani naik dan turun penumpang.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebut pembukaan layanan KRL di Gambir masih memerlukan sejumlah tahapan agar operasional tetap aman dan andal.
Dia mengatakan rencana integrasi layanan KRL di Gambir memang menjadi bagian dari pengembangan stasiun tersebut. Namun, pelaksanaannya tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat karena harus didukung kesiapan infrastruktur dan sistem operasi.
"Integrasi itu perlu tahap. Pelanggan harus mendapat akses yang lebih mudah, tetapi keselamatan dan keandalan operasi tetap nomor satu. Karena itu, kesiapan peron, alur pelanggan, listrik, persinyalan, kapasitas lintas, dan koneksi moda lanjutan harus dihitung dengan benar," ujar Bobby dalam keterangan resmi, Rabu (8/7).
Bobby menjelaskan saat ini KRL Bogor Line memang melintas di jalur layang Stasiun Gambir. Dalam sehari, terdapat 326 perjalanan KRL lintas Jakarta Kota-Bogor dan Jakarta Kota-Nambo pulang pergi yang melewati stasiun tersebut.
Kendati demikian, KAI menegaskan KRL belum melayani aktivitas naik dan turun penumpang di Gambir.
Pembahasan mengenai layanan tersebut masih dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan prasarana, kapasitas lintas, kelistrikan, persinyalan, aspek keselamatan, pola operasi, hingga koordinasi dengan regulator.
Menurut Bobby, pengembangan Gambir bukan untuk menggantikan peran Stasiun Manggarai sebagai pusat transit antarlintas. Kedua stasiun, kata dia, akan memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam sistem transportasi Jabodetabek.
"Gambir tidak kami benturkan dengan Manggarai. Manggarai tetap menjadi pusat perpindahan antarlintas, sementara Gambir kami siapkan sebagai pintu KA Jarak Jauh di pusat kota, akses ke kawasan Monas, dan bagian dari integrasi transportasi publik Jakarta," kata Bobby.
Dia juga menilai akses transportasi umum menuju pusat Jakarta perlu terus diperkuat, terutama bagi masyarakat dari Bogor, Depok, Cibinong, Nambo, dan wilayah penyangga lainnya.
"Kita ingin masyarakat Jabodetabek punya akses yang lebih mudah ke pusat kota. Orang dari Depok, Bogor, Cibinong, Nambo, dan wilayah lain harus punya pilihan transportasi publik yang lebih baik untuk menuju kawasan Monas dan Gambir. Jadi akses ke pusat kota tidak bertumpu pada kendaraan pribadi," ujarnya.
KAI mencatat kebutuhan integrasi tersebut semakin penting seiring meningkatnya jumlah pengguna KRL Jabodetabek.
Volume perjalanan KRL naik dari sekitar 217,9 juta pada 2022 menjadi 344,6 juta pada 2025 atau meningkat sekitar 58 persen dalam tiga tahun. Bogor Line menjadi lintas dengan jumlah pelanggan terbesar, dengan total 155 juta perjalanan sepanjang 2025.
Selain menyiapkan pengembangan Gambir, KAI juga meningkatkan kapasitas layanan di lintas Bogor melalui pengembangan peron jalur 6, 7, dan 8 di Stasiun Bogor. Proyek tersebut ditujukan untuk mendukung operasional rangkaian Stamformasi 12 (SF12) di Bogor Line dan ditargetkan rampung pada 15 Juli 2026.
Bobby mengatakan peningkatan kapasitas layanan tak cukup hanya dengan menambah rangkaian kereta.
"Menambah rangkaian tidak bisa berdiri sendiri. Peron harus siap, listrik harus siap, persinyalan harus siap, dan pola operasinya juga harus siap. Kalau semuanya tertata, kepadatan bisa dikelola lebih baik dan pelanggan mendapat layanan yang lebih nyaman," jelasnya.

Komentar