Gara-gara Digempur Ukraina, Putin Ngaku Rusia `Krisis` Bahan Bakar
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Sindonews)
law-justice.co - Presiden Rusia, Vladimir Putin mengakui bahwa negaranya saat ini mengalami "kekurangan" bahan bakar, setelah serangan berulang Ukraina dalam empat tahun terakhir.
Ukraina menyebut serangan itu sebagai "pembalasan yang adil" atas serangan Rusia yang setiap hari menargetkan warga sipil dan infrastruktur energi Ukraina sejak Februari 2022.
"Mengenai serangan terhadap infrastruktur penting secara umum, dan infrastruktur energi khususnya, tentu saja serangan terhadap fasilitas ini menimbulkan masalah, itu jelas," kata Putin dalam sebuah wawancara.
"Saat ini kami mengamati kekurangan tertentu, namun tidak kritis," imbuhnya, dikutip AFP.
Putin mengatakan tugas utama Rusia sekarang adalah meningkatkan kapasitas pertahanan anti-pesawat dan memastikan pasokan bahan bakar, khususnya ke Krimea.
Dalam wawancara itu, Putin juga mengaku berharap tim negosiator Amerika Serikat datang ke Moskow untuk membahas akhir perang dengan Ukraina, setelah AS tidak lagi terlalu sibuk dengan Iran dan konflik Timur Tengah.
"Kami berhadap bahwa setelah semua peristiwa berakhir, setelah fase aktif di jalur Iran berlalu, kami akan melihat kedatangan perwakilan AS yang telah berulang kali kami temui di Moskow," ungkap Putin.
"Kami siap untuk melanjutkan negosiasi dan siap untuk membahas semua detailnya," tambahnya.
Pekan lalu, otoritas di Krimea yang dianeksasi Rusia mengumumkan situasi darurat terkait kekurangan bahan bakar dan pemadaman listrik, yang dipicu oleh serangan Ukraina terhadap rantai logistik dan fasilitas minyak.
Rusia menganeksasi wilayah Krimea dari Ukraina pada 2014, sebuah langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar negara.
Pekan lalu, serangan Ukraina menyebabkan kebakaran besar di sebuah kilang minyak di tenggara Moskow, hingga menyelimuti pinggiran ibu kota dengan kepulan asap hitam tebal.


Komentar