Mahasiswa Turun ke Jalan Besok, Agenda Besar Serukan 5 Tuntutan

Kamis, 11/06/2026 21:26 WIB
Ribuan Buruh dan Mahasiswa menggelar aksi May Day 2026 di depan Gedung DPR RI Jakarta, Jumat (01/05/2026). Pengunjuk rasa menggelar aksi memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (1/5/2026). Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya pengesahan RUU Ketenagakerjaan, penghapusan sistem outsourcing, serta penolakan terhadap praktik upah murah. Robinsar Nainggolan

Ribuan Buruh dan Mahasiswa menggelar aksi May Day 2026 di depan Gedung DPR RI Jakarta, Jumat (01/05/2026). Pengunjuk rasa menggelar aksi memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (1/5/2026). Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya pengesahan RUU Ketenagakerjaan, penghapusan sistem outsourcing, serta penolakan terhadap praktik upah murah. Robinsar Nainggolan

law-justice.co - Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari beberapa perguruan tinggi di Jabodetabek berencana turun ke jalan untuk menggelar aksi unjuk rasa pada Jumat (11/6) besok.

Ketua BEM UI, Anandaku Dimas Rumi memastikan seluruh BEM fakultas kampusnya akan turun dalam aksi besok. Sementara, beberapa BEM lain yang akan bergabung mulai dari BEM IPB, Pancasila, hingga BEM Universitas Gunadharma.

Menurut Dimas, aksi rencananya akan digelar di kawasan Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, mulai pukul 10.00 WIB.

"Beberapa organisasi dan simpul pergerakan yang ikut konsolidasi nasional di Kampus Ul kemarin masih akan memastikan kehadiran dan estimasi massa yang ikut di rapat malam ini," jelas Dimas saat dihubungi, Kamis (11/6).

Dalam aksi besok, dia bilang mahasiswa akan membawa lima tuntutan utama. Pertama, meminta pemerintah menghentikan pemborosan APBN. Kedua, turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.

Ketiga, hentikan program MBG dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Keempat, hentikan militerisme sipil, dan kelima, menuntut Presiden Prabowo Subianto berhenti mengelak dan mengakui kesalahan pemerintah.

Saat ini, kata Dimas, pihaknya masih melakukan sejumlah persiapan terutama terkait pendalaman lewat sejumlah diskusi.

"Apakah ini akan menjadi Reformasi Jilid 2 atau enggak, sekiranya mungkin ini bisa jadi retorika kita bersama ya. Apakah pemerintah dalam kondisi saat ini masih merasa layak ketika mereka mengisi jabatan yang ada? Apakah mereka masih merasa bisa merepresentasikan rakyatnya atau tidak?" Ujar Dimas.

"Apakah kita mengusung tema Reformasi Jilid 2, tadi seperti yang saya sampaikan, tuntutan kami itu tadi," imbuhnya.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar