OJK Beberkan Penyebab IHSG Rontok hingga Asing Minggat Bawa Rp4,1 T

Jum'at, 05/06/2026 17:47 WIB
gedung OJK  (foto: republika.co.id)

gedung OJK (foto: republika.co.id)

law-justice.co - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap sejumlah faktor yang menjadi penyebab Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok sepanjang Mei 2026 hingga memicu aksi jual investor asing senilai Rp4,1 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan tekanan di pasar saham mencerminkan respons investor terhadap kombinasi berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun global.

"Koreksi dan tekanan yang tercermin dari penurunan IHSG yang terjadi saat ini tentu mencerminkan respons pasar yang telah memperhitungkan kombinasi dari berbagai faktor, baik yang bersumber dari domestik maupun juga dari global," kata Hasan dalam konferensi pers RDKB Mei 2026 secara daring, Jumat (5/6).

Dia juga menjelaskan salah satu faktor yang memengaruhi pasar adalah penyesuaian portofolio investor atau rebalancing menyusul perubahan komposisi indeks yang dilakukan sejumlah penyedia indeks global.

"Faktor tersebut di antaranya adalah penyesuaian portofolio atau rebalancing portofolio dari para investor yang terkait dengan proses rebalancing akibat adanya keputusan dari pengumuman penghuni indeks dari para penyedia indeks global," jelasnya.

Selain itu, Hasan mengatakan investor juga mempertimbangkan berbagai perkembangan indikator ekonomi dan sentimen pasar, baik dari dalam maupun luar negeri, dalam mengambil keputusan investasi.

Karena itu, OJK mengimbau investor untuk tetap mencermati perkembangan pasar secara objektif dan rasional dengan mengedepankan analisis yang memadai serta memanfaatkan informasi yang valid dan terkonfirmasi.

OJK mencatat pasar saham domestik masih berada dalam fase tekanan dan konsolidasi sepanjang Mei 2026 di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi serta penyesuaian portofolio investor.

IHSG ditutup di level 6.127,38 pada akhir Mei 2026. Posisi tersebut terkoreksi 11,92 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan merosot 29,14 persen secara year to date (ytd).

Memasuki awal Juni 2026, OJK melihat pasar masih melanjutkan pergerakan yang dinamis dan konsolidatif sehingga perkembangan kondisi pasar akan terus dipantau. Di tengah tekanan tersebut, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp4,1 triliun di pasar saham selama Mei 2026.

Meski pasar saham mengalami tekanan, Hasan menilai kondisi fundamental pasar modal Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik.

Menurut dia, likuiditas pasar saham masih terjaga dengan rata-rata bid-ask spread berada di level rendah, yakni 1,5 persen sepanjang Mei 2026. Selain itu, laporan keuangan emiten pada kuartal I 2026 juga masih mencatatkan pertumbuhan positif.

"Berdasarkan laporan keuangan emiten terakhir yaitu untuk periode kuartal I di tahun 2026 ini, terlihat sebetulnya kinerja emiten-emiten kita secara umum secara agregat masih mencatatkan pertumbuhan yang positif," ungkap Hasan.

Dia juga menyebut mayoritas perusahaan tercatat masih mampu membukukan laba, dengan pertumbuhan laba agregat lebih dari 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Hasan berharap data fundamental tersebut tetap menjadi salah satu pertimbangan investor dalam menyusun strategi investasi di tengah volatilitas dan tekanan pasar yang masih berlangsung.

"Tentu data historis kinerja emiten terakhir ini dan juga dengan terus mencermati proyeksi dan perhitungan konsensus kinerjanya ke depan, tentu dengan mempertimbangkan berbagai risiko yang berkembang sebagai dampak dari berbagai faktor yang terjadi, ini yang kita harapkan terus menjadi bagian pertimbangan rasional untuk strategi investasi para investor ke depannya," ujarnya.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar