Advokat Kecam Abu Janda: Menghina Masyarakat Jabar dan Sumbar
Tangkapan Layar: Video Abu Janda berikan klarifikasi soal Islam Arogan di Twitter @permadiaktivis1. (Foto: Law-Justice).
"Saya adalah seorang advokat. Namun lebih dari itu, saya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang beragama Kristen. Atas dasar itu, saya menyampaikan kecaman yang keras terhadap pernyataan Permadi Arya alias Abu Janda yang menyebut Jawa Barat dan Sumatera Barat sebagai daerah yang `barbar` dalam pidatonya di luar negeri," kata Boen dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).
Boen menekankan pernyataan Abu Janda tersebut bukanlah kritik yang konstruktif ataupun bagian dari perdebatan publik yang sehat. "Pernyataan itu merupakan generalisasi yang merendahkan dan menghina jutaan masyarakat yang hidup di Jawa Barat dan Sumatera Barat," imbuh dia.
Boen juga menekankan pernyataan Abu Janda bukanlah kebebasan berekspresi, melainkan justru berpotensi menimbulkan permusuhan.
"Yang lebih memprihatinkan, pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks yang secara langsung maupun tidak langsung memainkan sentimen identitas sosial dan keagamaan. Terlepas dari apa pun motivasi yang melatarbelakanginya, ucapan semacam ini berpotensi mengadu domba masyarakat, mempertentangkan kelompok-kelompok warga negara berdasarkan identitasnya, serta memunculkan permusuhan yang tidak perlu di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara," bebernya.
Boen juga menegaskan isu SARA bukan bahan bercandaan. "Isu SARA bukanlah bahan candaan dan bukan instrumen untuk mencari perhatian publik. Isu SARA juga bukan komoditas yang dapat diperdagangkan demi popularitas atau sensasi sesaat," jelasnya.
Boen lantas membahas sejarah tragedi 1998. Saat itu keturunan Tionghoa menjadi korban. Memori sejarah itu, kata dia, harusnya menjadi pengingat bagi Abu Janda dalam menyampaikan pernyataan
"Tragedi tersebut menjadi pengingat bahwa kebencian yang diawali oleh stigma, prasangka, dan penghasutan terhadap kelompok tertentu dapat berkembang menjadi diskriminasi, kekerasan, bahkan tragedi kemanusiaan yang meninggalkan trauma lintas generasi," tuturnya.
"Bangsa ini telah belajar dengan sangat mahal bahwa perpecahan sosial tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Konflik sering kali diawali oleh kata-kata yang merendahkan, stereotip yang dinormalisasi, serta narasi yang secara perlahan membangun kebencian terhadap kelompok tertentu. Ketika provokasi semacam itu dibiarkan, dampaknya dapat jauh lebih besar daripada yang dibayangkan," lanjut dia.
Lebih jauh, Boen menyoroti fakta bahwa pernyataan Abu Janda disampaikan di hadapan jemaat gereja di luar negeri. Menurut dia, alih-alih menunjukkan wajah Indonesia sebagai bangsa yang dewasa, toleran, dan menghormati keberagaman, Abu Janda justru dinilai menciptakan kesan bahwa isu agama dan identitas masih terus dieksploitasi untuk menyerang kelompok masyarakat lain.

Komentar