Selat Hormuz Kembali Ditutup, Bagaimana Nasib Tanker Pertamina?

Minggu, 19/04/2026 22:46 WIB
Dua Kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga Ahad (19/4) belum dapat melintasi Selat Hormuz. (Kompas)

Dua Kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga Ahad (19/4) belum dapat melintasi Selat Hormuz. (Kompas)

[INTRO]

Dua kapal tanker milik Pertamina masih tertahan di Teluk Arab setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz, memperburuk ketegangan geopolitik dan mengancam jalur distribusi energi global. 

Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini belum dapat melintasi Selat Hormuz menyusul penutupan kembali jalur pelayaran vital tersebut oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran. Penahanan ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang berdampak langsung pada keamanan salah satu rute energi paling strategis di dunia. Selat Hormuz diketahui menjadi jalur transit sekitar sepertiga pasokan minyak global.

Pelaksana tugas Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyatakan kedua kapal saat ini masih berada di kawasan Teluk Arab sambil menunggu situasi memungkinkan untuk pelayaran yang aman. Perusahaan, kata dia, terus melakukan pemantauan intensif serta koordinasi dengan otoritas terkait guna memastikan keselamatan awak kapal dan muatan energi yang dibawa. “Prioritas utama adalah keselamatan kru, keamanan kapal, dan muatan. Kami terus menyiapkan perencanaan pelayaran yang aman di tengah situasi yang sangat dinamis,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (19/4/2026) sebagaimana dilansir Antaranews.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri juga melakukan pemantauan ketat. Koordinasi dilakukan dengan Kedutaan Besar RI di Tehran serta otoritas setempat untuk memastikan perlindungan terhadap kepentingan nasional, termasuk keselamatan pelayaran kapal berbendera Indonesia.

Penutupan Selat Hormuz diumumkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran pada Sabtu (18/4/2026), dengan alasan Amerika Serikat dinilai belum mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Otoritas Iran bahkan memperingatkan bahwa kapal yang mencoba melintas berpotensi dianggap sebagai pihak yang bekerja sama dengan musuh.

Laporan keamanan maritim internasional juga mencatat adanya insiden tembakan oleh kapal cepat Iran terhadap tanker yang melintas di kawasan tersebut, mempertegas tingginya risiko pelayaran.

Situasi ini menempatkan kapal-kapal Pertamina dalam posisi rentan sekaligus mencerminkan dampak langsung konflik geopolitik terhadap operasional energi global. Selama Selat Hormuz masih ditutup, distribusi minyak dunia diperkirakan akan terus terganggu, dengan implikasi pada harga energi dan stabilitas pasokan internasional.

(Bandot DM\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar