Ada Peringatan Tsunami, 2.200 Warga Pulau Mayau Lari ke Gunung
ilustrasi gempa bumi� (foto: beritasatu.com)
Mereka yang mengungsi mayoritas dari anak-anak, perempuan hingga lansia.
Camat Batang Dua, Kota Ternate, Robyanto Koloca mengatakan hingga saat warga masih terus menuju pegunungan.
Ia mengatakan gempa susulan dengan skala magnitudo kecil masih terus terjadi.
"Warga masih terus mengungsi, mereka takut karena kondisi tanah di sini masih terasa bergetar," jelasnya seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, Kamis (2/4).
Warga memutuskan untuk mengungsi ke daratan yang lebih tinggi akibat Pulau Mayau merupakan salah satu dari pulau di Ternate yang cukup merasakan dampak guncangan yang cukup dahsyat.
Oleh sebab itu, mereka memutuskan untuk pergi dan meninggalkan perkampungan karena tanah di Pulau Mayau masih terus bergoyang.
Meski begitu, BMKG saat ini sudah mencabut peringatan dini tsunami. Ia meminta warga tidak perlu khawatir namun warga tetap mengungsi dan tinggal di hutan.
"Mudah-mudahan setelah dicabut peringatan tsunami tidak ada info tsunami," imbuh dia.
Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis (2/4). Gempa berpotensi tsunami.
Warga di Keluruhan Mayau dan Liliwi, Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate sempat panik dan berlarian ke pegunungan setelah air laut mendadak surut.
Sekretaris Daerah Kota Ternate Rizal Marsaoly mengatakan air laut sempat surut dan memicu kepanikan warga. Mereka langsung berlarian ke daratan yang lebih tinggi karena khawatir tsunami.
Saat ini, sebagian besar warga sementara mengungsi dan membangun tenda di pegunungan. Mereka masih bertahan dan belum memutuskan turun ke rumah setelah BMKG sempat mengeluarkan peringatan tsunami.
"Saat ini warga masih berlindung di gunung karena adanya fenomena air surut yang menimbulkan kekhawatiran akan potensi tsunami," jelas Rizal melalui keterangan tertulis, Kamis (2/4).




Komentar