Perang AS-Iran Memanas, Harga Batu Bara Meledak ke US$145 per Ton

Minggu, 22/03/2026 07:31 WIB
Ilustrasi bongkar muat batubara

Ilustrasi bongkar muat batubara

law-justice.co -  

Harga batubara menunjukkan penguatan signifikan di tengah ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Menurut data Trading Economics, Kamis (19/3), harga batubara di pasar global mengalami kenaikan harian sebesar 4,20%, mencapai US$ 145,20 per ton. Dalam sebulan terakhir, harga batubara telah meningkat sebesar 24,96%, dan sejak awal tahun ini (year to date/ytd), harganya telah melesat sebesar 35,07%.

 

Ketegangan memanas antara Amerika Serikat dan Iran telah picu lonjakan harga batu bara di pasar global, mencapai puncaknya di US$145,20 per ton pada Rabu (21 Maret 2026), naik 4,20% harian. Fenomena ini bukan sekadar spekulasi, tapi dampak langsung dari eskalasi konflik yang mengancam jalur energi vital, termasuk penutupan Selat Hormuz dan serangan ke infrastruktur minyak Iran. Investor dan produsen batu bara kini untung besar, tapi konsumen dunia terbebani inflasi yang lebih tinggi.

Dampak Ekonomi dan Pasar
Lonjakan Harga : Harga batu bara naik gila-gilaan karena gangguan pasokan gas alam (LNG) akibat perang, mendorong pembangkit listrik beralih ke batu bara sebagai alternatif murah. Di Eropa, harga naik 17,95% ke US$138 per ton, tertinggi sejak Desember 2024, sementara di Asia, produksi Indonesia diprediksi naik untuk isi gap ini.

Reaksi Pasar : Saham miner batu bara seperti Exxaro naik 8 juta metrik ton ekspor di 2026, tapi saham airline dan ritel anjlok karena biaya logistik naik. Wall Street sentuh level terendah 6 bulan, dengan S&P 500 terpengaruh.

Impak Lebih Luas
Global dan Indonesia : Krisis ini picu kenaikan harga urea 34% dan komoditas lain, sementara Indonesia boleh tingkatkan produksi batu bara untuk tambah pendapatan. Namun, risiko demand destruction jika harga naik ke US$200 per ton.

 

 

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar