Harga Energi Naik, Indonesia Hadapi Ancaman Defisit dan Beban Subsidi
Harga Energi Naik, Indonesia Hadapi Ancaman Defisit dan Beban Subsidi
law-justice.co - Konflik di kawasan Timur Tengah mulai terasa dampaknya ke ekonomi global, termasuk Indonesia. Ketegangan yang meningkat di wilayah tersebut mengganggu jalur perdagangan penting dunia, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas. Jika jalur ini terganggu, sekitar 20% pasokan energi dunia bisa ikut terdampak.
Akibatnya, harga energi global pun melonjak. Di Eropa, harga gas alam cair (LNG) diperkirakan naik hingga 50%, sementara di Asia sekitar 39%. Bahkan dalam skenario terburuk, harga minyak mentah dunia bisa menembus kisaran USD 150 hingga 180 per barel.
Dampak lanjutan juga dirasakan pada sektor logistik. Biaya pengiriman barang, baik lewat udara maupun laut, diperkirakan bisa naik hingga dua kali lipat karena banyak jalur yang harus dialihkan untuk menghindari wilayah konflik.
Bagi Indonesia, kondisi ini berpotensi menambah tekanan pada anggaran negara. Kenaikan harga minyak akan meningkatkan beban subsidi energi, yang diperkirakan bisa bertambah hingga Rp35–40 triliun. Selain itu, defisit APBN juga berisiko melebar hingga 4,06%, melampaui batas aman 3%.
Tidak hanya itu, nilai tukar rupiah juga bisa tertekan hingga sekitar Rp17.500 per dolar AS dalam skenario terburuk, seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Secara keseluruhan, konflik ini bukan hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu efek berantai terhadap ekonomi global dan domestik, mulai dari harga energi, biaya logistik, hingga kondisi fiskal negara.




Komentar