Demi Hindari Rudal Iran, Kapal di Selat Hormuz Mengaku Milik China
Demi Hindari Rudal Iran, Kapa di Selat Hormuz Mengaku Milik China foto :Precious Shipping Plc
law-justice.co -
Demi meminimalkan risiko , pentas sandiwara ternyata bisa diterapkan pada perang di timur tengah. Sejumlah kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dan Teluk Persia kini menggunakan taktik unik untuk menghindari serangan. Mereka mengubah identitas digital kapal dan mengaku sebagai milik China guna meminimalkan risiko menjadi sasaran militer Iran.
Berdasarkan data lalu lintas maritim, fenomena ini marak terjadi sejak pecahnya perang antara koalisi AS-Israel dengan Iran pada 28 Februari 2026 lalu.
Pesan "China Owner" di Transponder Data dari platform pelacakan kapal MarineTraffic menunjukkan sedikitnya delapan kapal besar di Teluk Persia dan Teluk Oman mengubah sinyal tujuan mereka. Bukannya mencantumkan pelabuhan tujuan, mereka justru memasukkan pesan singkat seperti “CHINA OWNER” atau “CHINA OWNER&CREW”.
Analis risiko perdagangan dari Kpler, Ana Subasic, menjelaskan bahwa langkah ini murni dilakukan demi keamanan awak dan muatan. Baca juga: AS Akan Kawal Kapal-kapal Minyak Lintasi Selat Hormuz Iran “Tujuan utama kapal-kapal yang secara terbuka mengidentifikasi diri sebagai `kapal China` adalah untuk mengurangi risiko diserang, bukan untuk mempermudah perjalanan melalui selat itu sendiri,” ujar Subasic, Kamis (12/3/2026).
China Dianggap Aman dari Serangan Iran dan kelompok afiliasinya cenderung menghindari target yang berhubungan dengan China. Hal ini disebabkan posisi China yang relatif netral dan memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Teheran.
Baca juga: AS Mulai Gunakan Pangkalan Inggris untuk Lawan Iran, Bomber B-1 Sudah Mendarat
Sejak perang dimulai, Iran tercatat tetap mengirimkan lebih dari 11 juta barel minyak ke China melalui Selat Hormuz. Direktur klien Reddal, Kun Cao, menyebut identitas ini berfungsi sebagai pesan peringatan bagi penyerang. “Pesannya adalah: `jangan salah sangka, saya bukan jenis kapal yang Anda katakan akan Anda tabrak`,” kata Cao. Lihat Foto Foto udara Selat Hormuz.
Baca juga: Iran Tegaskan Masih Sanggup Perang Intens Lawan AS-Israel Selama 6 Bulan
Fakta di Lapangan Meski mengaku milik China, mayoritas kapal tersebut sebenarnya menggunakan bendera Panama atau Kepulauan Marshall. Dalam dunia pelayaran, bendera kapal sering kali tidak mencerminkan kewarganegaraan pemilik aslinya. Hingga saat ini, efektivitas taktik "menyamar" ini masih dipertanyakan oleh para pakar ekonomi transportasi. Namun, bagi para pengusaha pelayaran, langkah ini menjadi upaya terakhir di tengah situasi yang makin berbahaya. Hingga Kamis, tercatat sudah ada 19 kapal komersial yang rusak akibat konflik tersebut.
Dampak Penutupan Selat Hormuz Blokade di Selat Hormuz oleh Iran telah memicu krisis energi global. Data dari Global Petrol Prices menunjukkan harga BBM sudah naik di 85 negara. Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak dunia bisa menembus 200 dollar AS per barel jika agresi militer tidak segera dihentikan.
Amerika Serikat (AS) mengklaim telah menyerang sejumlah kapal angkatan laut Iran, termasuk 16 kapal penebar ranjau yang beroperasi di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia.
Komando Pusat AS atau US Central Command mengunggah video di platform media sosial X yang disebut menunjukkan sejumlah serangan tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak global melonjak di tengah kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi melalui selat strategis itu.




Komentar