Iran Sukses Permalukan AS-Israel usai Anak Khamenei Jadi Pemimpin Baru

Senin, 09/03/2026 12:29 WIB
Iran Sukses Permalukan AS-Israel usai Anak Khamenei Jadi Pemimpin Baru. (Istimewa).

Iran Sukses Permalukan AS-Israel usai Anak Khamenei Jadi Pemimpin Baru. (Istimewa).

law-justice.co - Sebagaimana diketahui, hari ini, Senin 9 Maret 2026, Majelis Ahli Iran secara resmi menunjuk putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, menggantikan sang ayah sebagai pemimpin tertinggi negara tersebut.

Penunjukan ini berlangsung sepekan lebih setelah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.

Meski berhasil mengeliminasi Ali Khamenei, serangan AS-Israel disebut tak banyak menguntungkan Negeri Paman Sam dan Tel Aviv, malah sebaliknya.

Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute,bahkan menilai penunjukan Mojtaba merupakan penghinaan besar bagi AS dan Israel.

Sebab, kedua negara sudah susah payah membunuh Khamenei dan membakar triliunan rupiah selama 10 hari terakhir demi membunuh Khamenei dan para petinggi Iran dengan harapan memicu perubahan rezim di Republik Islam Iran. Namun nyatanya tidak demikian.

Iran malah tetap berdiri kukuh hingga berani mengumumkan pengganti Khamenei yang merupakan putra keduanya sendiri dan notabene sama-sama ulama garis keras.

"Merupakan penghinaan besar bagi Amerika Serikat untuk melakukan operasi sebesar ini, mengambil risiko sebesar itu, dan akhirnya menewaskan seorang pria berusia 86 tahun, hanya untuk kemudian digantikan oleh putranya yang juga berhaluan keras," kata Vatanka, seperti dikutip Reuters.

Pada 28 Februari lalu, AS-Israel melancarkan serangan ke Teheran hingga menewaskan Khamenei. Serangan itu memantik balasan dari Iran hingga perang besar meletus di Timur Tengah.

AS menggunakan dua kapal induk dalam operasi militernya ke Iran. Bahkan, AS berencana mengirim kapal induk ketiga untuk memperkuat pertahanannya.

Penggunaan kapal induk, serta aset-aset militer lainnya, tentu bukan hal murah bagi AS. Apalagi, aset-aset itu dipakai cuma untuk mencegat drone Iran yang harganya tak seberapa.

Selain itu, Presiden AS Donald Trump juga sebelumnya sempat mengejek Mojtaba Khamenei sebagai sosok yang "enteng" dan memamerkan ia seharusnya memiliki peran dalam penunjukan pemimpin baru Iran.

"Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," katanya kepada ABC News sebelum pengumuman itu dibuat.

Militer Israel juga memperingatkan setiap penerus Khamenei bahwa Tel Aviv "tidak akan ragu untuk menargetkan Anda".

Operasi militer AS-Israel sia-sia

Belum lagi dampak dari perang yang membuat harga minyak dunia meroket imbas Selat Hormuz yang ditutup Iran.

Para pengamat menilai operasi AS-Israel ke Iran sia-sia karena Iran tetap dipimpin oleh sosok garis keras seperti Khamenei.

Penunjukan Mojtaba disebut memberi pesan tegas bahwa Iran menolak prospek kompromi apa pun dengan AS, serta bahwa konfrontasi dan resiliensi akan menjadi dasar negara itu.

"Menunjuk Mojtaba untuk mengambil alih (kekuasaan) adalah taktik yang sama," kata Vatanka.

Meski begitu, menurut sejumlah sumber internal, kepemimpinan Mojtaba akan menghadapi tekanan internal dan eksternal yang sangat besar dari penduduk yang tidak puas dengan ayahnya. Namun, mereka meyakini situasi ini akan mendorong Mojtaba bergerak cepat untuk mengonsolidasikan kekuasaan.

Ini artinya Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) akan mendapat wewenang yang lebih luas dan Iran akan menerapkan kontrol domestik yang lebih ketat.

"Dunia akan merindukan era ayahnya," kata seorang pejabat regional yang dekat dengan Teheran kepada Reuters.

"Mojtaba tidak punya pilihan selain menunjukkan tangan besi...bahkan jika perang berakhir, akan ada penindasan internal yang parah," lanjutnya.

Mojtaba adalah putra kedua Khamenei yang punya hubungan kuat dengan IRGC, badan militer paling kuat di negara itu, serta dengan pasukan paramiliter sukarelawan Iran, Basij.

Meski bukan ulama pangkat tinggi dan tak punya peran resmi di pemerintahan, Mojtaba diyakini memiliki pengaruh signifikan atas Iran.

Iran sedang bergulat dengan krisis ekonomi yang kian parah. Penindasan terhadap warga juga dilaporkan terus meningkat hingga memicu kemarahan publik.

Penduduk Iran akan dibayangi hari-hari yang lebih sulit di bawah kepemimpinan Mojtaba.

"Mojtaba bahkan lebih buruk dan lebih garis keras daripada ayahnya," kata Alan Eyre, mantan diplomat AS dan pakar Iran.

"Dia menyimpan banyak hal untuk dibalas," lanjutnya.

Menurut peneliti senior di Middle East Institute, Paul Salem, Mojtaba juga bukan sosok tepat untuk mencapai kesepakatan dengan AS maupun untuk melakukan manuver diplomatik.

"Tidak seorang pun yang muncul sekarang akan mampu berkompromi. Ini adalah pilihan garis keras, yang dibuat pada saat yang genting," kata Salem.

 

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar