Serangan Iran Terhadap Pusat Data Amazon
Sabtu, 07/03/2026 00:00 WIB
[INTRO]
Kerusakan pada tiga fasilitas pusat data milik Amazon Web Services (AWS) di Timur Tengah akibat serangan drone yang dikaitkan dengan Iran menjadi peringatan serius bagi industri teknologi global. Insiden ini menyoroti bagaimana pesatnya pembangunan pusat data di kawasan Timur Tengah juga diiringi risiko baru, terutama terkait konflik geopolitik.
Serangan tersebut dilaporkan merusak dua pusat data AWS di Uni Emirat Arab dan satu fasilitas di Bahrain. Kerusakan yang terjadi mengganggu pasokan listrik dan sistem pendingin, bahkan memicu kebakaran serta kerusakan tambahan akibat sistem pemadam otomatis yang aktif. Akibatnya, sejumlah layanan komputasi awan AWS sempat mengalami gangguan dan memengaruhi berbagai perusahaan serta lembaga keuangan yang bergantung pada infrastruktur tersebut.
Kerusakan pada tiga fasilitas Amazon Web Services di Timur Tengah akibat serangan drone Iran menyoroti pertumbuhan pesat pusat data di kawasan tersebut, serta kerentanan industri terhadap konflik.
Divisi komputasi awan perusahaan, Amazon Web Services, mengatakan pada Senin malam bahwa dua pusat data di Uni Emirat Arab "terkena serangan langsung" dan fasilitas lain di Bahrain juga rusak setelah sebuah drone mendarat di dekatnya.
"Serangan ini telah menyebabkan kerusakan struktural, mengganggu pasokan listrik ke infrastruktur kami, dan dalam beberapa kasus memerlukan kegiatan pemadaman kebakaran yang mengakibatkan kerusakan air tambahan," kata AWS dalam pembaruan di dasbor daringnya.
Pada Selasa malam, AWS mengatakan bahwa upaya pemulihan di pusat data UEA menunjukkan kemajuan.
Tidak seperti gangguan AWS sebelumnya yang melibatkan perangkat lunak yang mengakibatkan pemadaman global yang meluas, serangan yang melibatkan kerusakan fisik ini tampaknya hanya mengakibatkan gangguan lokal dan terbatas.
Amazon Web Services menampung banyak layanan daring yang paling banyak digunakan di dunia, menyediakan infrastruktur komputasi awan di balik layar untuk banyak departemen pemerintah, universitas, dan bisnis.
Perusahaan tersebut menyarankan pelanggan yang menggunakan server di Timur Tengah untuk bermigrasi ke wilayah lain, dan mengarahkan lalu lintas online menjauh dari UEA dan Bahrain.
“Amazon umumnya telah mengkonfigurasi layanannya sehingga hilangnya satu pusat data akan relatif tidak penting bagi operasinya,” kata Mike Chapple, seorang profesor TI di Mendoza College of Business, Universitas Notre Dame.
Pusat data lain di zona yang sama dapat mengambil alih, dan sebagian besar waktu hal ini terjadi dengan lancar setiap hari untuk menyeimbangkan beban kerja, katanya.
“Meskipun demikian, hilangnya beberapa pusat data dalam zona ketersediaan dapat menyebabkan masalah serius, karena keadaan dapat mencapai titik di mana kapasitas yang tersisa tidak cukup untuk menangani semua pekerjaan.”
Peristiwa ini sekaligus menunjukkan bahwa pusat data—yang selama ini dianggap sebagai tulang punggung ekonomi digital—juga rentan terhadap serangan fisik di wilayah konflik. Seiring semakin banyaknya investasi teknologi dan pembangunan pusat data di Timur Tengah, isu keamanan infrastruktur digital kini menjadi perhatian utama bagi perusahaan teknologi global dan pemerintah di kawasan tersebut.
Komentar