MEMBONGKAR MITOS SI RAJA BATAK (1) Tulisan Edward Simanungklit
Atlantis: The Lost Continent Finally Found Ada di Jawa
mitos raja batak ilustrasi
law-justice.co -
Selama ribuan tahun, kisah tentang Atlantis — sebuah peradaban megah yang dikabarkan lenyap ke dasar samudra — terus menggugah rasa ingin tahu manusia. Legenda ini pertama kali dicatat oleh filsuf besar Yunani, Plato, sekitar tahun 360 sebelum Masehi. Dalam dua dialog terkenalnya, Timaeus dan Critias, Plato menggambarkan Atlantis sebagai negeri yang kaya, berteknologi maju, dan terletak di luar “Pilar Herkules”, yang kini dikenal sebagai Selat Gibraltar. Namun kemegahan itu berakhir tragis: dalam semalam, benua makmur tersebut dikisahkan tenggelam akibat bencana besar yang melanda secara tiba-tiba.
Sekitar 70.000 tahun lalu, gelombang besar perpindahan manusia modern (Homo sapiens) dimulai dari benua Afrika — tempat asal spesies manusia modern. Perjalanan panjang itu membawa sebagian kelompok menyeberangi Timur Tengah, melewati daratan Asia Selatan, hingga akhirnya mencapai wilayah yang kini dikenal sebagai Sundaland — kawasan luas yang mencakup Semenanjung Melayu, Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan sebagian besar wilayah yang kini tenggelam di bawah Laut Jawa.
Pada masa itu, permukaan laut jauh lebih rendah dibanding sekarang, sehingga pulau-pulau besar Asia Tenggara masih terhubung dalam satu daratan luas. Kondisi ini memudahkan manusia prasejarah berpindah dan menetap di berbagai daerah tropis yang kaya sumber makanan.
Migrasi menuju Sundaland ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah penyebaran manusia modern di dunia. Dari wilayah inilah, keturunan mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur — menuju Papua, Australia, hingga kepulauan Pasifik.
Jejak genetik dan arkeologis yang ditemukan di kawasan Asia Tenggara menunjukkan bahwa pergerakan manusia ini bukan hanya sekadar perjalanan migrasi, tetapi juga awal terbentuknya keragaman budaya dan genetik yang kini mewarnai masyarakat Nusantara.
Setelah Gunung Toba meletus 74.000 tahun lalu yang memusnahkan hampir semua manusia dan kalderanya menjadi Danau Toba, maka terjadi kembali migrasi manusia dari Afrika ke Sundaland di sekitar 70.000 tahun lalu. Mereka bermigrasi menyusuri pesisir pantai melalui India Selatan sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Stephen Oppenheimer dari Oxford University, Inggris, yang dikenal menulis buku: “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1999).
Dia menulis buku ini setelah memimpin proyek besar yang dipercayakan HUGO (Human Genome Organizatioan) melakukan pemetaan DNA manusia sedunia (Kompas, 20/10-2011). Kemudian 90 orang lebih ilmuwan Asia dari konsorsium Pan-Asian SNP di bawah naungan Human Genome Organization (HUGO) memetakan jalur migrasi manusia ini sebagai satu-satunya jalur migrasi ke Sundaland secara lebih tegas.
Para ilmuwan ini telah melakukan studi terhadap 73 populasi Asia Tenggara dan Asia Timur, yang selain berhasil memetakan jalur migrasi tadi, mereka menyimpulkan bahwa akar genetik manusia berhubungan sangat erat antara kelompok etnik dan kelompok bahasa (Detik, 11/12-2009; Kompas, 14/12-2009 & 12/12-2011). Migrasi dari Afrika yang tejadi ini sebagian melewati Sundaland hingga sampai ke Papua dan Australia, yang sekarang disebut Aborigin di Australia. Migrasi dari Afrika ini sesuai dengan teori “Out of Africa” yang terkenal itu.
Sejak 20.000 tahun lalu, menjelang tenggelamnya Sundaland, terjadi banyak letusan gunung berapi, gempa bumi, dan banjir, sehingga membuat para penghuni Sundaland berhamburan ke Asia Daratan, yang disebut sebagai peristiwa “Out of Sundaland”. Dengan demikian, selama 50.000 tahun sudah banyak manusia mendiami Sundaland, sehingga Stephen Oppenheimer tiba pada kesimpulan bahwa Sundaland merupakan induk peradaban dunia (Kompas, 27/10-2010).
Di sisi lain, Prof. Arysio Nunes dos Santos, Ph.D. dalam bukunya: “Atlantis The Lost Continent Finally Found” (2005), malah menguraikan sebuah teori yang menempatkan secara definitif bahwa Atlantis berada di wilayah Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Brunei (Wikipedia). Kemudian terkait dengan keterlibatannya dalam penelitian atas situs megalitik Gunung Padang di Cianjur, geolog Dr. Danny Hilman (2013), menulis dan meluncurkan bukunya dalam acara seminar: “PLATO TIDAK BOHONG: Atlantis Ada di Indonesia”. Lebih jauh lagi, Dhani Irwanto, dalam bukunya: “ATLANTIS: The Lost City is in Java Sea” (2015), menyampaikan sebuah hipotesis baru bahwa Atlantis ada di Laut Jawa, dekat Pulau Bawean, yaitu di antara pulau Bawean dengan daratan Kalimantan. Semuanya ini menyebabkan Indonesia menjadi perhatian para ilmuwan dunia sekarang ini dengan sebuah pertanyaan: “Apakah yang mereka kerjakan selama 50.000 tahun di Sundaland?”. Stephen Oppenheimer dan Arysio Nunes dos Santos telah berjasa mempromosikan Indonesia ke seluruh dunia melalui buku yang mereka tulis.
Atlantis: The Lost Continent Finally Found
Selama berabad-abad, legenda tentang Atlantis — sebuah peradaban maju yang konon hilang ditelan laut — terus memikat imajinasi manusia. Catatan pertama tentang benua misterius ini berasal dari filsuf Yunani kuno, Plato, sekitar 360 SM. Dalam dialognya Timaeus dan Critias, ia menggambarkan Atlantis sebagai negeri makmur di luar “Pilar Herkules” (Selat Gibraltar) yang tenggelam dalam satu malam akibat bencana dahsyat.
Kini, teori-teori baru kembali menghidupkan misteri itu. Sejumlah peneliti dan ahli geologi meyakini bahwa jejak Atlantis mungkin tidak sepenuhnya mitos. Temuan arkeologis, citra satelit dasar laut, serta pola migrasi purba menunjukkan kemungkinan bahwa Atlantis bisa saja merujuk pada wilayah yang kini dikenal sebagai Sundaland — dataran luas Asia Tenggara yang tenggelam sekitar 12.000 tahun lalu akibat kenaikan permukaan laut pasca zaman es.
Jika benar, maka kawasan yang meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Melayu itu bukan hanya rumah bagi manusia purba, tetapi juga saksi tenggelamnya salah satu peradaban paling awal di muka Bumi.
Hipotesis ini sejalan dengan catatan geologis dan kisah banjir besar yang muncul di berbagai budaya dunia — mulai dari kisah Noah’s Ark di Timur Tengah hingga Gunung Toba di Nusantara. Semua mengisyaratkan bahwa manusia pernah mengalami bencana global besar yang menenggelamkan daratan luas.
Meski bukti konkret Atlantis belum ditemukan sepenuhnya, semakin banyak ilmuwan dan peneliti yang percaya bahwa rahasia itu mungkin tersembunyi di bawah perairan Asia Tenggara — bukan di Samudra Atlantik seperti yang dikira selama ini.




Komentar