Sisi Gelap Starlink Beroperasi di Angkasa Raya

Sabtu, 11/05/2024 14:33 WIB
Starlink Disebut Ancaman Bagi Operator Telko Di RI Bakal Bangkrut foto

Starlink Disebut Ancaman Bagi Operator Telko Di RI Bakal Bangkrut foto

[INTRO]

Akhirnya Layanan internet Starlink milik milyader Elon Musk sebentar lagi bakal hadir di Indonesia dalam waktu dekat. Bahkan perusahaan telah menginformasikan paket produk layanannya di situs mereka.

 

Beberapa paket yang ditawarkan pun beragam. Setidaknya, ada enam paket yang bisa calon pelanggan pilih sesuai kebutuhan.

 

Starlink akan memperluas jangkauan pasarnya di Indonesia, dimana pada pertengahan Mei 2024 ini akan masuk ke pasar ritel. Namun, ada sisi lain Starlink yang berpotensi jadi ancaman ketika beroperasi di Indonesia.
Konstelasi satelit internet tersebut sebelumnya sudah hadir di Indonesia. Hanya saja, kehadirannya untuk melayani pelanggan bisnis, tepatnya menjadi backhaul Telkomsat yang merupakan anak perusahaan Telkom.

Seiring berjalannya waktu, Elon Musk ingin menyasar target lebih besar dengan membidik pelanggan ritel Indonesia.

Untuk jangka pendek, Starlink adalah jawaban mengatasi ketersediaan akses internet, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur telekomunikasi daratan. Starlink pun mampu menyediakan internet yang andal. Namun di sisi lain ada juga sejumlah potensi persoalan yang mungkin timbul karena satelit tersebut.


  1. Diberitakan Luhut: Starlink Elon Musk Resmi Beroperasi Pertengahan Mei 2024


1. Pengamatan Astronomi
Berkaca pada kasus yang terjadi di mancanegara, kehadiran Starlink rupaya membawa masalah dalam pengamatan astronomi. Gelapnya malam jadi waktu yang cocok mengawasi angkasa, tapi itu terganggu gegara adanya Starlink yang jumlah ribuan itu muncul dan memancarkan cahaya di angkasa.

Persatuan Astronomi Internasional atau International Astronomical Union (IAU) mengoordinasikan pengamatan dari seluruh Bumi, dan hasilnya diketahui bahwa satelit tersebut hampir seterang bintang seperti Antares dan Spica.

Untuk diketahui, Antares dan Spica masing-masing merupakan bintang ke-15 dan ke-16 paling terang di langit malam. Studi lain menemukan, keberadaan satelit membuat Antares dan Spica menjadi kurang reflektif. Kedudukannya kini setara dengan bintang paling terang ke-22 atau lebih.

2. Berpotensi Bahayakan Pesawat
Starlink merupakan satelit berjenis Low Earth Orbit (LEO) mengitari Bumi dengan ketinggian sekitar 550 km dari daratan. Dari sisi teknis untuk layanan internet, tentu itu memberikan dampak oke dengan latensi yang jauh lebih cepat dari satelit pada umumnya.

Tetapi, lantaran jaraknya tidak jauh dari Bumi, sistem satelit ini bisa membahayakan pesawat di masa mendatang. Hal itu diungkapkan Andy Lawrence, Profesor Regius Astronomi di University of Edinburgh

Dari posisinya, memang tidak akan banyak puing jika Starlink jatuh ke Bumi. Sebagian besar akan terbakar di atmosfer, namun beberapa akan melewatinya dan bahkan sebagian kecil dinilai bisa menjatuhkan sebuah pesawat.

3. Monopoli
Jumlah Starlink yang terbang di orbit rendah Bumi dan jumlahnya mencapai ribuan itu menimbulkan dugaan kalau SpaceX mencoba memonopoli luar angkasa, meskipun, Elon Musk membantah tudingan itu.

Badan Antariksa Eropa (ESA) menilai Musk `membuat aturan` untuk industri luar angkasa komersial yang sedang berkembang. Sedangkan, pesaingnya jumlahnya sangat sedikit.

Baca juga:
Kominfo Tak Larang Starlink Dipakai Warga di Luar 3T, Ini Sebabnya

4. Bisnis Operator Lokal
Starlink yang disebut akan menyediakan akses internet di timur Indonesia mengundang kekhawatiran bagi operator seluler yang sudah lebih dulu berbisnis di industri telekomunikasi tanah air.

Operator seluler mendesak pemerintah yang dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk bertindak dan tidak membuka pintu selebar-lebarnya untuk perusahaan asing yang kekuatan modalnya sangat besar.

Sementara itu, dalam beberapa waktu terakhir, Kominfo memastikan menerapkan level playing field ketika Starlink terjun ke pasar ritel Indonesia.

5. Keamanan Nasional
Berada di atas ketinggian, Starlink disebut berpotensi mengancam keamanan nasional. Apalagi, konstelasi satelit internet itu sering wara-wiri di orbit Bumi.

Sebuah studi militer China menyebut bahwa jaringan komunikasi Starlink SpaceX sebagai potensi ancaman bagi keamanan nasional China dan mendesak pengembangan kemampuan untuk menonaktifkan atau menjatuhkannya.

Peneliti militer China khawatir bahwa satelit-satelit ini dapat memberikan layanan komunikasi kepada saingan atau menabrak stasiun ruang angkasa atau satelit China, dan bertindak sebagai `agen bunuh diri` untuk menonaktifkan infrastruktur ruang angkasa China selama perang.

Persoalan yang sama juga diungkapkan ketika Starlink akan melakukan uji coba di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang notebene adalah pengganti Jakarta sebagai ibu kota negara Indonesia.

Dr Dipl. Ing. Lilly S. Wasitova, seorang aerospace engineer dan praktisi teknologi kedirgantaraan, mengatakan mengatakan satelit sudah mengalami revolusi yang sangat cepat, membuat ruang angkasa dan ruang antariksa di atas Indonesia menjadi sangat strategis. Selain adanya besarnya potensi sampah antariksa, menurut Lilly faktor keamanan dan kedaulatan harus menjadi pertimbangan pemerintah dalam memberikan izin operator satelit yang akan berusaha.

"Itu yang membuat sampai saat ini India menolak operasional Starlink di negaranya. Masuknya Starlink bisa menjadi faktor keamanan dan kedaulatan India menjadi rentan. Saya tak yakin Indonesia memiliki kajian yang mendalam mengenai aspek keamanan dan kedaulatan ketika Starlink diberikan izin berusaha," kata Lilly.

 

 

1.Observasi Astronomi Melihat kasus di luar negeri, keberadaan Starlink sepertinya akan menimbulkan kendala dalam observasi astronomi.
Kegelapan malam adalah saat yang tepat untuk mengamati langit.
Namun, hal ini menjadi membingungkan ketika ribuan Starlink muncul di langit dan memancarkan cahaya.
Persatuan Astronomi Internasional (IAU) mengoordinasikan pengamatan dari seluruh planet ini, dan hasilnya menunjukkan bahwa bulan sama terangnya dengan bintang-bintang seperti Antares dan Spica.
Referensi: Antares dan Spica masing-masing adalah bintang paling terang ke-15 dan ke-16 di langit malam.
Studi lain menemukan bahwa kehadiran satelit mengurangi pantulan Antares dan Spica.
Posisinya saat ini setara dengan bintang ke-22 dan yang lebih terang.


2.Berpotensi Berbahaya bagi Pesawat Terbang Starlink merupakan satelit berjenis Low Earth Orbit (LEO) yang mengorbit Bumi pada ketinggian kurang lebih 550 km di atas daratan.
Tentu saja dari segi teknis, latensinya umumnya jauh lebih cepat dibandingkan satelit, sehingga berdampak positif pada layanan internet.
Namun, sistem satelit ini tidak jauh dari Bumi dan dapat membahayakan pesawat di masa depan.
Hal ini dijelaskan oleh Andy Lawrence, Profesor Astronomi Regius di Universitas Edinburgh Dari sudut pandangnya, saat Starlink jatuh ke Bumi, tidak akan banyak puing yang tersisa.
Sebagian besar terbakar di atmosfer, namun ada pula yang menembus atmosfer, dan diperkirakan sebagian kecil saja dapat menjatuhkan pesawat.


3.Monopoli Jumlah kendaraan Starlink di orbit rendah Bumi telah mencapai ribuan, menimbulkan kecurigaan bahwa SpaceX berupaya memonopoli ruang angkasa, tuduhan yang dibantah oleh Elon Musk.
Badan Antariksa Eropa (ESA) yakin Musk sedang "menetapkan aturan" untuk industri luar angkasa komersial yang sedang berkembang.
Saat ini, jumlah pesaingnya sangat sedikit.
Artikel terkait: Kominfo tidak melarang warga non-3T menggunakan Starlink.

Starlink, operator lokal yang disebut-sebut menyediakan akses internet di wilayah timur Indonesia, menyampaikan kekhawatiran berikut: Perusahaan telepon seluler sudah aktif di negara asal industri telekomunikasi.
Perusahaan telepon seluler meminta pemerintah, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), untuk sebisa mungkin menutup pintunya bagi perusahaan asing yang bermodal besar.
Baru-baru ini Kominfo mengizinkan Starlink memasuki pasar ritel Indonesia secara setara.


5.Keamanan Nasional Starlink dikatakan dapat menimbulkan ancaman bagi keamanan nasional karena lokasinya yang berada di ketinggian.
Selain itu, konstelasi satelit Internet sering kali bergerak mengelilingi orbit bumi.
Penelitian militer Tiongkok mengatakan jaringan komunikasi Starlink SpaceX merupakan ancaman potensial terhadap keamanan nasional Tiongkok dan mendesak pengembangan kemampuan untuk menonaktifkan atau menetralisirnya.
Peneliti militer Tiongkok mengatakan satelit-satelit ini adalah "perangkat bunuh diri" yang dapat memberikan layanan komunikasi kepada lawan, bertabrakan dengan stasiun ruang angkasa atau satelit Tiongkok, atau melumpuhkan infrastruktur luar angkasa Tiongkok selama perang Persoalan yang sama juga mengemuka saat Starlink ingin melakukan uji coba di ibu kota nusantara (IKN) yang sebenarnya menggantikan Jakarta sebagai ibu kota Indonesia.
Dr.BA Ing Lily S.


Wasitba, seorang insinyur dirgantara dan praktisi teknik dirgantara, mengatakan satelit mengalami revolusi yang sangat pesat dan antariksa di Indonesia telah menjadi isu yang sangat strategis.
Lilly mengatakan, selain potensi pemborosan ruang angkasa yang besar, pemerintah juga perlu mempertimbangkan faktor keamanan dan kedaulatan saat memberikan izin beroperasi kepada operator satelit.
"Hal ini menyebabkan India menolak operasi Starlink di negaranya.
Masuknya Starlink bisa menjadi faktor keamanan dan kedaulatan India akan terancam.
"Starlink Kami tidak tahu apakah Indonesia akan menjalani penyelidikan rinci tentang aspek keamanan dan kedaulatan jika mendapat izin.
izin beroperasi,” kata Lilly.

 

 

 

 

Pandangan Imam Mahdi


Imam Mahdi: Sbg konsumen, makin murah makin bagus
🤩
[06.14, 11/5/2024]

tp persaingan tidak sehatkan? pemerintah menggampangkan investasi luar jualan di RI padahal di indo masih mahal semua dan ketidak pastian, apa sejutu bang?
[06.15, 11/5/2024]

Imam Mahdi: Infrakstruktur yg dimaui konsumen ada 3
-Availability: seperti keberadaan udara untuk napas di mana pun ada
-Reliability: handal seperti kehandalan matahari terbit tak petlu disangsikan
-Affordable: harga terjangkau

@sirait: asik, terims bang,

Imam Mahdi: Aturan mainnya: pasar bebas.... jangan dirubah saat permainan

Imam Mahdi: Interst utamanya: konsumen!

Imam Mahdi: BUMN biarin pada mati, wong jadi sumber korupsi partai & pesta pora BOC- BOD

 

 

Paket Residensial
Cocok untuk keluarga, dengan fitur utamanya internet berkecepatan tinggi dan latensi rendah tanpa batas.
Harga layanan: Rp 750 ribu per bulan (Standar)
Harga perangkat: Rp 7.800.000

Paket Jelajah
Cocok untuk kelompok yang tidak memiliki tempat tinggal tetap atau sering berpindah tempat (nomad) dengan kendaraan RV (Recreational Vehicle) dan karavan. Fitur utamanya tidak ada batasan kuota mobile, portabilitas, dan jeda layanan kurang 10 mph saat bepergian.
Harga layanan: Rp 990.000 per bulan (Mobile - Regional), atau Rp 6.995.480 per bulan (Mobile - Global)
Harga perangkat: Rp 7.800.000

Paket Kapal
Cocok untuk maritim, tanggap darurat, dan bisnis mobile. Paket ini memiliki semua fitur mobile layanan mobile, bisa digunakan saat bepergian atau berlayar, dan mendapat prioritas jaringan.

Harga layanan: Rp 4.345.000 per bulan (Prioritas Mobile - 50 GB), Rp 17.160.000 per bulan (Prioritas Mobile - 1 TB), dan Rp 86.130.000 per bulan (Prioritas Mobile - 5 TB)
Harga perangkat: Rp 43.721.590

Paket Lokasi Tetap
Cocok untuk bisnis dan pengguna dengan permintaan tinggi, dengan fitur utama kuota standar tanpa batas, memiliki IP publik, dan mendapatkan prioritas jaringan.
Harga layanan: Rp 1.100.000 per bulan (Prioritas - 40 GB), Rp 3.025.000 per bulan (Prioritas - 1 TB), Rp 6.116.000 per bulan (Prioritas - 2 TB), dan Rp 12.320.000 per bulan (Prioritas - 6 TB)
Harga perangkat: Rp 7.800.000

Paket Mobilitas Darat
Cocok untuk maritim, tanggap darurat, dan bisnis mobile. Paket ini menawarkan semua fitur mobile layanan global, bisa digunakan saat bepergian dan berlayar, serta mendapat prioritas jaringan.

Harga layanan: Rp 4.345.000 per bulan (Prioritas Mobile - 50 GB), Rp 17.160.000 per bulan (Prioritas Mobile - 1 TB), Rp 86.130.000 per bulan (Prioritas Mobile - 5 TB)
Harga perangkat: Rp 43.721.590

Paket Maritim
Cocok untuk maritim, tanggap darurat, dan bisnis mobile. Paket tersebut menyediakan semua fitur mobile layanan global, lengkap dengan penggunaan bepergian dan berlayar serta mendapatkan prioritas jaringan.
Harga layanan: Rp 4.345.000 per bulan (Prioritas Mobile - 50 GB), Rp 17.160.000 per bulan (Prioritas Mobile - 1 TB), Rp 86.130.000 per bulan (Prioritas Mobile - 5 TB)
Harga perangkat: Rp 43.721.590

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar