Noda Hitam Sejarah RI, Soekarno Rela Disebut Sebagai Mandor Romusha

Sabtu, 01/07/2023 06:35 WIB
Soekarno mandor romusha (Dok.Perpusnas)

Soekarno mandor romusha (Dok.Perpusnas)

law-justice.co - Romusha menjadi noda hitam dalam perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan dimana jutaan pemuda Indonesia menjadi budak Jepang.

Sementara para wanita-wanita mudanya menjadi pemuas nafsu tentara Jepang.

Perkiraan jumlah rakyat Indonesia yang dikjadikan Romusha Jepang sangat bervariasi, antara 2 juta hingga 10 juta jiwa.


Perpustakaan Kongres Amerika Serikat memperkirakan terdapat 4 hingga 10 juta Romusha dari Jawa yang dikerahkan oleh Jepang selama tiga tahun pendudukannya di Indonesia, dengan korban tewas mencapai ratusan ribu orang.

Mereka tak hanya dipaksa bekerja di Indonesia, melainkan ke negara-negara jajahan Jepang lainnya, seperti Myanmar, Malaysia, dan Thailand.

Fakta baru dari Romusha pun terungkap. Tokoh besar Indonesia yang dijuluki sebagai Bapak Proklamator ternyata terlibat dalam pengerahan Romusha untuk Jepang.

Soekarno mengaku tak punya pilihan lain selain membantu Jepang untuk menang dalam Perang Dunia II dengan cara mengirimkan rakyat Indonesia sebagai pekerja.

Imbalannya, Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Untuk memuluskan akal bulusnya, Jepang membentuk Putera (Pusat Tenaga Kerja) pada 1942 yang diketuai oleh Soekarno, dan dibantu oleh Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur.

Jepang memilih tokoh-tokoh tersebut dengan harapan harapan dapat menarik dan mengakomodas lebih banyak Romusha yang akan diperbudak Jepang.

Praktik kerja Romusha Jepang masa itu tidak saja diperkerkerjakan di Indonesia, namun juga ke negera seberang seperti di Birma untuk membangun jalur keret api.

Parahnya lagi, di beberapa daerah yang telah kehabisan tenaga kerja laki-laki, juga memperkerjakan para ibu-ibu dalam proyek-proyek Jepang.

Di balik terlaksananya program kerja paksa tersebut, ada tokoh besar Indonesia yang berada di belakangnya, yaitu Soekarno.

Soekarno terlibat jelas dalam program tersebut, di mana ia meengkampanyekan dan menulis pengesahan atar jalannya program tersebut.

Alih-alih menjadi Pahlawan Kerja sebagaimana yang didoktrinkan Jepang dan Soekarno, pekerja paksa yang didaftarkan Soekarno justru menjadi budak dan teramat menderita.

Atas sikap Soekarno tersebut, ia menerima ragam kritikan dan dituduh sebagai mandor dan sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kesengsaraan rakyat akibat Romusha.

Pengakuan Soekarno

Soekarno mengakui kebenaran tuduhan ini dalam biografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams.

Aku Sukarno yang mengirim mereka pergi bekerja. Ya, akulah orangnya. Aku mengirim mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya, akulah orangnya. (Adams, 2019: 232).

Dalam pengakuan lebih lanjut, Soekarno menggambarkan penyesalan yang mendalam setelah ia meninjau para pekerja paksa di Banten yang bagai tengkorak hidup.

"Dan akulah yang memberikan mereka kepada orang Jepang. Rasanya mengerikan sekali, bukankah begitu? Ada orang yang mengatakan, rakyat tidak mau membaca ini, benar begitu? Yah, aku tidak marah kepada mereka. Tidak seorang pun yang suka kepada kebenaran yang menyedihkan," lanjutnya.

Lebih jauh lagi, Soekarno menjadi gambar utama dalam poster-poster kampanye ajakan bergabung dalam program Romusha dengan gimmick memegang cangkul dan sebagainya bersama pekerja lainnya.

Soekarno kala itu pernah didatangi sekelompok mahasiswa yang menanyakan perihal maksud Soekarno yang mendukung dan memberikan rakyat Indonesia kepada Jepang.

"Bagiku, dengan memberikan kepada Jepang sesuatu yang mereka perlukan, sebagai imbalannya aku dapat menuntut lebih banyak konsesi yang kuperlukan, yaitu cara yang positif menuju kemerdekaan," tulisnya.

Ia juga menyatakan pengakuan penyesalannya karena langkah keliru yang telah ia ambil, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa saat itu kecuali menuruti Jepang guna mencapai kemerdekaan tanpa pertumpahan darah.

Referensi:

Adams, C. (2019). Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Yayasan Bung Karno.

Putri, T. A., Syaiful, M., & Arif, S. (2019). Propaganda Jepang dalam Melancarkan Kebijakan Pendudukan di Indonesia, Tahun 1942-1945. garuda.kemdikbud.go.id.

(Kiki Agung\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar