Jenderal TNI ini Rela Pasang Badan Bela Ponpes Al Zaytun (1)

Selasa, 20/06/2023 18:40 WIB
Kivlan Zen (Foto: Kompas)

Kivlan Zen (Foto: Kompas)

law-justice.co - Inilah profil Kivlan Zen, purnawirawan jenderal TNI yang pasang badan membela Panji Gumilang, pimpinan Ponpes Al-Zaytun.

Kivlan Zen membantah semua tudingan yang mengarah kepada Panji Gumilang pimpinan Ponpes Al-Zaytun.

Menurut Kivlan Zen, Panji Gumilang dikenal pimpinan Ponpes Al Zaytun seorang nasionalis, tegas, dan sangat berkomitmen membela negara.

Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu mengenal Panji Gumilang sejak 10 tahun lalu.

Pasalnya dia pernah mengajar di Universitas Al-Zaytun milik Panji Gumilang pada 2013 silam.

"Masih sama dari pertama kenal, enggak ada perubahan. Yang saya lihat, tegas orangnya, aturan, pimpinan kepada bangsa dan negara, enggak neko-neko (macam-macam)," ungkapnya.

Dia juga membantah tudingan ajaran sesat yang dialamatkan kepada Panji Gumilang.

Selama ini, Panji Gumilang dituduh membentuk NII (Negara Islam Indoensia) hingga membentuk pasukan tentara dan badan intelijen sendiri.

Namun itu tidak terlihat di mata Kivlan Zen yang melihatnya sangat kuat rasa nasionalismenya tetpai dengan bimbingan ruh-ruh Islami dan ajaran Pancasila.

"Bahwa orang dia menyimpang ajarannya, sejauh ini saya tidak melihat karena kalau dia mengucapkan Assalamu Alaikum ya Assalamu Alaikum," sambungnya.

Selain itu, Kivlan Zen menuturkan bahwa dalam ajaran sholat pun juga masih sama dengan syariat Islam.

Lebih lanjut, soal poin-poin isu yang beredar di masyarakat tentang berkaitan dengan mazhab Bung Karno yang dianut Ponpes Al-Zaytun, dan lanjutan salam Yahudi yang dinyanyikan daam kegiatan keagamaan pun dibantah oleh Kivlan Zen.

"Kalau ucapan mazhab tentang pelaksanaan ibadah dan cara berpikir keislaman, saya enggak mendengar," tuturnya.

"Kalau yang itu (Mazhab Bung Karno) mungkin saja, karena saya lihat dia betul-betul melaksanakan itu, kecintaan bangsa dan tanah air itu,ya cinta kepada Bung karno ditunjukkan," pungkasnya.

Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen menjawab soal azan yang dilakukan di Pondok Pesantren Al-Zaytun yang dikatakan berbeda dari biasanya.

"Adzannya berbeda itu, bukan berbedanya yang dikatakan itu ngarang. Dia soalnya mengikuti bagaimana waktu Bilal bin Rabah," ungkap Kivlan Zen.

"Kan kalau azan kita selama ini kan mendayu-dayu, sementara kalau dia itu tegas," sambungnya.

Profil

Kivlan Zen lahir di Langsa, Aceh, pada 24 Desember 1946.

Dibesarkan dari keluarga perantau Minangkabau, Kivlan Zen menghabiskan masa kecilnya dari Sekolah Dasar hingga Universitas di Medan, Sumatra Utara.

Sebelum menempuh pendidikan militer, Kivlan Zen sangat aktif berorganisasi.

Saat masih siswa dan mahasiswa, Kivlan giat mengikuti keigatan organisasi pelajar.

Dia bergabung ke Pelajar Islam Indonesia (PII) pada 1962.

Lalu pada 1965, dia dipercayai sebagai sekretaris Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Medan dan Ketua Departemen Penerangan KAMI Medan.

Dia juga aktif dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).

Sempat bersekolah di di Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sumatra Utara, Kivlan Zen kemudian berubah haluang masuk Akademi Militer Magelang.

Kivlan lulus angkatan 1971 dan langsung mengabdi di kesatuan Infanteri, Kostrad, Angkatan Darat.

Kariernya dimulai sebagai Komandan Peleton saat usianya menginjak 27 tahun.

Banyak tugas menumpas pemberontak dan penyandera dia laksanakan dengan kemenangan.

Kivlan kemudian menjabat berbagai posisi di Militer yang sebagian besar dijabat pada posisi komando tempur, mulai dari Danton Akabri Darat, Danden Banmin Brigif Linud-18, Danuonif-303 Brigif-13/ Kostrad hingga Kaskostrad (Kepala Staf Kostrad).

Dia berhasil meringkus Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 1974, dan bertugas di Timor-Timur (kini Timor Leste).

Keberhasilannya diganjar kenaikan pangkat.

Kariernya mulai terlihat cemerlang saat diberi tugas sebagai Kepala Staf Brigade Infanteri Linud 1/Cilodong/Kostrad (Kasdivif I Kostrad) dengan pangkat Kolonel pada tahun 1990.

Kariernya terus menaik dengan menjabat Kepala Staf Daerah Militer VII/Wirabuana, dengan pangkat Brigadir Jenderal.

Tak lama kemudian, naik jabatan menjadi Panglima Divisi Infanteri 2/Kostrad, berpangkat Mayor Jenderal dan terakhir menjabat Kepala Staf Kostrad pada 1998.

Saat itu Panglima Kostradnya dipegang Letjen Prabowo Subianto.

Sayang, situasi politik 1998, peralihan kepemimpinan dari rezim Orde Baru ke Reformasi menyeret pergantian pucuk pimpinan di tubuh militer Indonesia karena adanya intrik politik.

Parbowo dicopot, demikian juga Kivlan Zen dimutasi ke Mabes TNI AD.

Tak lama setelah itu, dia pensiun dari militer.

Meski sudah purnawirawan dengan pangkat terakhir mayor jenderal, nama Kivlan masih membetot perhatian pemerintah dan masyarakat luas.

Pada 2016, Kivlan diminta sebagai negosiator untuk menyelamatkan 18 Warga Negara Indonesia (WNI) dari penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf.

Dia berhasil melakukannya tanpa uang tebusan melainkan dengan negosiasi.

Belakangan nama Kivlan ramai menjadi perbincangan bahkan seolah-olah menjadi momok penguasa atau para jenderal seniornya.

Kivlan sering menunjukkan sikap kritisnya pada pemerintah.

Meski dituduh makar dan provokator pada 2017, dia terus menyuarakan kekritisannya layaknya aktivis demi keutuhan NKRI.

(Kiki Agung\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar