Kaya Raya dari `Orang Tua` ke ABC, Ini Rekam Jejak Husain Djojonegoro

Minggu, 26/09/2021 12:43 WIB

Jakarta, law-justice.co - Tidak ada yang menyangka, begitu yang mungkin kita bisa bayangkan dari kehidupan Husain Djojonegoro.

Bagaimana tidak? Di masa muda, pendidikan lelaki kelahiran 1949 silam itu cukup berantakan dan tidak jelas, meski kemudian dia berhasil selesai sampai tingkat Sekolah Menengah Tingkat Atas.

Di tengah masa lalu itu, Husain justru tumbuh menjadi sosok yang sukses. Bahkan, dia masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia.

Pada 2020 kemarin saja misalnya, Forbes menempatkan Husain Djojonegoro dan keluarganya ke dalam peringkat 23 orang paling kaya di Indonesia dengan total harta mencapai US$1,32 miliar.

Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp14.243 per dolar AS, total kekayaan itu mencapai Rp18,8 triliun. Kisah perjalanan sukses itu, dia mulai saat baru berusia 15 tahun.

Namun, sebelum menapaki usaha hingga sukses seperti sekarang ini, Husain memang sebenarnya berasal dari kalangan keluarga pengusaha.

Seperti melansir cnnindonesia.com, ayah Husain adalah Chandra Djojonegoro alias Chu Sam Yak. Dia merupakan perintis dari perusahaan produsen minuman anggur tradisional Cap Orang Tua.

Merek itu yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Grup Orang Tua dan ABC.

Di tengah upayanya dalam merintis usaha, Chandra dihadapkan pada kelakuan anaknya. Karena itulah, dia kemudian menggembleng lelaki yang juga punya nama Chu Kok Seng itu untuk bekerja menjadi sales di sebuah pabrik sandal.

Tak hanya itu, dia juga meminta Husain membantu menjual anggur tradisional yang diproduksi perusahaannya. Upaya Chandra tersebut berhasil.

Dalam waktu lima tahun, Chandra meyakini anaknya punya jiwa dagang tinggi. Atas dasar itulah, dia langsung memberikan kepercayaan kepada Husain dengan menunjuknya menjadi direktur di PT International Chemical Industrial Co. Ltd yang didirikannya pada 1959 lalu.

Perusahaan itu bergerak dalam bidang produksi batu baterai bermerek ABC. Seiring dengan berjalannya waktu, Husain mampu membawa perusahaan tersebut tumbuh membesar.

Pada 1969 misalnya, perusahaan berhasil menambah pabrik kedua di Jakarta dan pada 1982, pabrik ketiga di Surabaya. Secara kolektif, pabrik-pabrik ini memiliki total kapasitas produksi 1,8 miliar per tahun.

Ini terjadi akibat kecemerlangannya. Di tengah persaingan dengan Eveready, National, Siaga dan belum banyaknya perusahaan yang memasang iklan, di awal kepemimpinannya, strategi itu diterapkannya.

Dia gencar mengiklankan baterai ABC. Usahanya membuat kinerja penjualan baterai ABC cemerlang.

Selain strategi iklan, kehidupan masyarakat saat itu yang masih belum banyak yang tersentuh aliran listrik juga membuat kiprah penjualan batu baterai ABC moncer. Meski hanya menimbulkan penerangan ala kadarnya, ABC mampu merajai pasar Indonesia.

Berkat nama ABC yang mudah dikenal masyarakat dan tiga pabrik yang dimiliki, perusahaannya berhasil menguasai 60 persen-70 persen pangsa pasar baterai nasional.

Pencapaian itu tak lantas membuatnya puas. Pada 1973, perusahaannya makin agresif dengan mengakuisisi kepemilikan 31 persen saham PT Uni Djaja yang merupakan produsen kamput di Medan.

Langkah itu berlanjut. Pada 1974, perusahaannya memperluas cakupan usaha ke sektor makanan dengan mendirikan CV Central Foods Industrial Corporation atau Central Food.

Pada masa awal usaha, perusahaan ini mengembangkan produk unggulan kecap.

Menggunakan brand ABC yang sudah tertanam dalam pikiran masyarakat, perusahaan mengembangkan kecap bermerek ABC dengan varian manis, asin dan sedang.

Tak berhenti sampai di situ, perusahaan melebarkan produksi mereka ke Sirup ABC, Saus Tomat ABC dan sambal ABC. Pelebaran pangsa pasar ini membuat perusahaan semakin berkibar.

Bahkan pada 1980, produk ABC, seperti sirup maupun sambal ABC mulai merajai pasar Indonesia. Tak hanya itu, produk-produk itu kemudian diekspor ke Amerika, Kanada, Australia, Singapura, Timor Leste dan sejumlah negara lainnya.

Perusahaan juga melebarkan pangsa pasarnya ke bisnis sikat dan pasta gigi bermerk Formula. Grup ABC di bawah tangan Husain juga melayani produksi dengan nama merek sesuai yang diminta mitra mereka di luar negeri.

Layanan ekspor ini memberikan sumbangan pendapatan sampai dengan 40 persen bagi ABC. Sukses di situ, cakupan bisnis kelompok usaha ABC dan Orang Tua terus menggurita ke mana-mana.

Pada 1983, perusahaan membangun perusahaan produsen pembalut wanita bermerek Innosense, Honeysoft dan Modess untuk PT Johnson & Johnson Indonesia. Setelah Chandra Djojonegoro dan Chu Sok Sam meninggal pada akhir 1980-an lalu, bisnis kelompok usaha ABC semakin menggurita.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar