Ternyata, Bos ISIS Pernah Jadi Tahanan dan Bekerja Sama dengan AS

Sabtu, 10/04/2021 06:17 WIB
Pemimpin baru ISIS  Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi pernah menjadi tahanan dan bekerja sama dengan AS (Tribunnews)

Pemimpin baru ISIS Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi pernah menjadi tahanan dan bekerja sama dengan AS (Tribunnews)

law-justice.co - Setelah kematian Abu Bakr al-Baghdadi selama operasi militer AS di Suriah Tahun 2019, kepemimpinan ISIS diambil alih oleh Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi. Bos baru ISIS ini ternyatapernah ditahan oleh militer AS. Dia bahkan menjalin kerja sama dengan tentara AS dengan memberikan informasi penting tentang kelompok teror tersebut, sehingga AS berhasil menumpas al-Baghdadi.

Catatan riwayat al-Qurashi ini terungkap dari dokumen AS yang tak dipublikasikan, yang diperoleh The Washington Post. Menurut dokumen itu, al-Qurashi adalah mantan tahanan yang membantu AS melenyapkan rivalnya di organisasi teroris cikal bakal kelompok ISIS. Dia bekerja dengan AS ketika dia berada di penjara pada akhir tahun 2000-an untuk mengidentifikasi para petinggi kelompok teroris.

Laporan tersebut didasarkan pada interogasi rahasia sebelumnya yang mencatat informasi penting yang diserahkan al-Qurashi kepada Amerika. Dokumen AS menyebut dia kadang-kadang ingin membocorkan informasi yang membantu pasukan AS melakukan operasi kritis terhadap kelompok teror itu.

Itu termasuk informasi yang membantu pasukan AS menemukan markas besar media rahasia ISIS.

“Tahanan tampaknya lebih kooperatif dengan setiap sesi,” bunyi laporan tahun 2008 yang diperoleh oleh The Washington Post, menggunakan nama asli al-Qurashi, yakni Amir Muhammad Sa`id Abd-al-Rahman al-Mawla. "Tahanan memberikan banyak informasi tentang rekanan ISIS.”

Al-Qurashi ditahan pada akhir 2007 atau awal 2008 dengan catatan interogasi dihentikan pada Juli 2008. Dokumen tersebut tak menyebutkan kapan dia dibebaskan AS

Namun, selama dua bulan—saat jadi tahanan AS—dia memberikan "harta karun" berupa informasi penting bagi AS, termasuk menyediakan nomor telepon 19 pejabat kelompok cikal bakal ISIS. Kelompok teroris itu sendiri secara resmi dideklarasikan oleh pemipin pertamanya, Abu Bakr al-Baghdadi, di Mosul, Irak, pada 2014.

Al-Qurashi, lanjut laporan The Washington Postkemarin, juga membantu AS untuk mengembangkan sketsa para pemimpin kelompok teroris.

Pada titik yang tidak diketahui al-Qurashi berhenti bekerja sama, dan laporan tersebut mengatakan bahwa dia menjadi "cemas" atas statusnya. "Menunjukkan bahwa dia mengharapkan imbalan atas jumlah informasi yang dia berikan," tulis The Washington Post.

Pemerintah Amerika belum berkomentar atas bocornya dokumen tentang sosok pemimpin baru ISIS tersebut. Sosok al-Qurashi kini jadi buron, di mana Amerika menawarkan hadiah USD10 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya.

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar