Nilai Rupiah Terus Tertekan,Pertumbuhan Ekonomi Tergantung Ada Vaksin?

Minggu, 27/09/2020 08:54 WIB
Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah Terus Menurun. (Medium)

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah Terus Menurun. (Medium)

Jakarta, law-justice.co - Nilai tukar Rupiah terus berada dalam tekanan beberapa hari terakhir hingga sempat masuk di level Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun Rupiah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (25/9) berhasil membalikkan keadaan dan ditutup menguat 0,12% ke level Rp 14.873 per dolar AS.

Dalam sepekan, kurs rupiah spot masih melemah 0,94%. Kurs referensi Jisdor di Bank Indonesia (BI) menunjukkan posisi rupiah pada Rp 14.951 per dolar AS, melemah tipis 0,01% dalam sehari. Akibatnya hanya dalam sepekan, kurs Jisdor melemah 1,24%.

Diperkirakan nilau tukar Rupiah pada pekan depan masih akan terus tertekan dan sulit keluar dari tekanan ekonomi global dan nasional yang masih terus lesu. Menurut Ekonom Indef Bhima Yudhistira kepada Kontan mengatakan secara fundamental rupiah sebenarnya dalam kondisi yang kurang baik. Hal ini dipengaruhi sentimen dari dalam negeri yang menekan kinerja mata uang Garuda dalam beberapa hari terakhir. Hal ini lantas membuat investor merombak portfolio.

“Isu-isu seperti penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi pemerintah di kuartal ke III-2020 sampai isu resesi ekonomi masih menghantui. Sentimen negatif akibat diperpanjangnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga menurunkan proyeksi terhadap pemulihan ekonomi hingga akhir tahun,” ujar Bhima.

Bhima menyebut penanganan Covid19 di Indonesia juga terbukti belum memberi harapan bagi terbentuknya sentimen positif di pasar. Jumlah kasus positif yang selalu bertambah di atas 4.000 orang tiap harinya semakin membuat investor pesimistis karena artinya semakin lama juga Covid19 berlangsung.

Tren negatif rupiah dinilai Bhima masih akan terus terjadi menyusul data fundamental ekonomi di negara maju dan berkembang yang terus direvisi turun. Sementara sentimen global juga masih menunggu kepastian pemilu AS hingga November mendatang. Bhima memperkirakan level Rp 15.000 per dolar AS bisa ditembus rupiah pada perdagangan pekan depan

Walau rupiah berkinerja buruk terhadap dolar AS, jika dipasangkan dengan mata uang lain, rupiah disebut Bhima bergerak cenderung bervariasi. Misalnya, rupiah melemah terhadap yen Jepang 0,32%, dolar Hongkong 1,13%, won Korea 2,18%, dolar Taiwan 0,65%. Namun, kurs rupiah berhasil menguat terhadap euro 0,53%, dolar Australia 2,18%, ringgit Malaysia 0,16%, dan dolar Singapura 0,03%.  

“Jika kurs rupiah menembus Rp 15.000, kurs yang menjadi favorit tentunya dolar AS. Ini sejalan dengan indeks dolar yang meningkat 1,72% dalam sepekan terakhir ke level 94,5. Yen Jepang juga menjadi safe haven yang prospektif di tengah situasi ketidakpastian ekonomi,” tegas Bhima.

Akibat Kontraksi Ekonomi

Adanya kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 diperkirakan akan berlanjut hingga kuartal III 2020. Hal itu didorong dari banyaknya indikator perekonomian yang belum mencapai tingkat seperti sebelum pandemi.

Beberapa indikator tersebut di antaranya ialah inflasi, penjualan mobil, dan penjualan ritel. Inflasi inti pada bulan Agustus 2020 masih mengalami perlambatan hingga hanya bertumbuh sebesar 2,07%, sementara penjualan mobil dan ritel masih mengalami kontraksi sebesar 71,67% dan 12,28%.

Para pengamat ekonomi menilai agar perekonomian Indonesia dapat segera pulih tentu akan bergantung pada penemuan vaksin dan bagaimana pemerintah dapat menyediakannya bagi masyarakat.

“Hal ini disebabkan bahwa apabila belum ada vaksin, maka perilaku konsumsi masyarakat belum akan pulih ke kondisi sebelum Covid-19, yang kemudian akan menghambat pemulihan perekonomian.

Oleh karena itu, untuk menggerakkan kembali perekonomian Indonesia, selain program perlindungan sosial yang bersifat jangka pendek, menurutnya pemerintah perlu sedari awal memikirkan jalur logistik untuk distribusi vaksin sehingga ketika nantinya vaksin sudah didapat masyarakat yang membutuhkan akan segera mendapat layanan tersebut.

(Warta Wartawati\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar