Ledakan Bak Bom Atom Hantam Ibu Kota Lebanon, Ternyata Ini Penyebabnya

Rabu, 05/08/2020 08:28 WIB
Dua Ledakan Bak Bom Atom Guncang Ibu Kota Lebanon, 73 Orang Tewas. (Bisnis).

Dua Ledakan Bak Bom Atom Guncang Ibu Kota Lebanon, 73 Orang Tewas. (Bisnis).

Jakarta, law-justice.co - Dua ledakan besar mengguncang kota Beirut, Lebanon, Selasa 4 Agustus 2020 sore kemarin.

Ledakan tersebut terjadi di area pelabuhan dan memporak-porandakan sebagian besar kota.

Sebanyak 73 orang dikabarkan tewas dan ribuan lainnya terluka ketika dua ledakan besar bak bom atom itu terjadi.

Kepulan asap berwarna oranye membubung ke langit setelah ledakan kedua terjadi. Diikuti gelombang kejut mirip tornado yang menyapu Beirut.

Perdana Menteri Libanon, Hassan Diab menyatakan, sebanyak 2.750 ammonium nitrat yang merupakan pupuk pertanian disinyalir menjaid penyebab insiden.

Pupuk itu, kata PM Diab, disimpan selama bertahun-tahun dalam gudang di tepi laut.

"Memicu bencana alam dalam setiap arti," kata dia seperti melansir cnbcindonesia.com, Rabu 5 Agustus 2020.

Dia menegaskan, pihaknya akan segera menggelar penyelidikan untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab.

"Apa yang terjadi hari ini tidak akan dibiarkan begitu saja. Mereka yang bertanggung jawab akan menerima akibatnya," janjinya.

Sebelumnya, Kepala Keamanan Umum, Abbas Ibrahim, mengatakan beberapa tahun sebelumnya pihakny mengamankan "material berdaya ledak tinggi".

Material tersebut disimpan dalam gudang yang berlokasi beberapa menit berjalan kaki dari kawasan distrik hiburan malam dan pusat perbelanjaan.

Saking masifnya insiden, ledakan itu bisa terdengar hingga ke negara tetangga seperti Siprus yang terletak 240 kilometer jauhnya.

Seorang prajurit anonim mengungkapkan, apa yang terjadi di lokasi kejadian begitu kacau. Banyak mayat bergelimpangan dengan ambulans terus mengevakuasi.

"Ini seperti bom atom," timpal Makrouhie Yerganian, pensiunan guru berusia 70-an yang sudah bertahun-tahun tinggal dekat pelabuhan.

Dia menuturkan, insiden seperti itu belum pernah dia rasakan sebelumnya. Bahkan ketika Lebanon diguncang perang saudara 1975-1990.

Yerganian menerangkan, semua bangunan di sekitar tempat tinggalnya langsung kolaps, dengan sang paman yang berusia 91 tahun tewas karena luka-lukanya.

Rumah sakit yang sudah kewalahan menangani pasien virus corona dilaporkan tak bisa berkutik dengan masuknya para korban luka.

Adapun Palang Merah Lebanon menyerukan adanya donasi darah bagi para korban luka.

 

 

 

 

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar