Pernah Minta Anies Mundur, Ini Jejak Dosen UGM Penuduh `Diskusi Makar`

Rabu, 03/06/2020 12:07 WIB
Seorang dosen Universitas Gajah Mada bernama Bagas Pujilaksono. (Portal Islam)

Seorang dosen Universitas Gajah Mada bernama Bagas Pujilaksono. (Portal Islam)

Jakarta, law-justice.co - Seorang dosen Universitas Gajah Mada bernama Bagas Pujilaksono resmi dilaporkan Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Ni`matul Huda ke Polda DIY.

Hal ini sebagai dampak batalnya diskusi yang digelar mahasiswa Fakultas Hukum UGM terkait kajian pemakzulan Presiden beberapa waktu lalu.

Prof Ni`matul Huda membuat dua laporan dimana salah satu laporannya terkait dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Bagas Pujilaksono.

Sebelumnya, di media sosial kajian tersebut ramai dibicarakan seusai tersebar luas pernyataan salah seorang Dosen Fakultas Teknik UGM yakni Bagas Pujilaksono Widyakanigara yang menduga bahwa diskusi tersebut mengarah kepada aksi makar.

Seperti melansir suara.com, merunut rekam jejaknya, Bagas Pujilaksono Widyakanigara bukan kali ini saja terlibat kontroversi. Dia juga pernah beberapa kali membuat pernyataan yang kerap mencuri perhatian:

1. Minta Anies Baswedan mundur

Sosok Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan ternyata juga pernah mendapat perhatian Bagas.

Bagas pernah membuat pernyataan secara tertulis meminta agar Anies mundur dari jabatannya karena dianggap gagal memimpin ibu kota.

"Sekali lagi sebagai sesama muslim dan alumnus Universitas Gadjah Mada memohon pak Anies mundurlah secara terhormat. Balik ke kampung menjadi ilmuwan, anda lebih pantas dan terhormat. Jaga nama baik almamatermu," tulisnya.

Pernyataan tersebut sebagai tanggapan atas penanganan banjir di Jakarta yang dianggap kurang pas.

"Yang saya fahami warga DKI saat ini butuh solusi nyata atas musibah banjir, bukan kelitan-kelitan innocent atau wacana-wacana kerdil atau bualan konyol! Warga DKI Jakarta butuh solusi nyata atas musibah banjir agar bisa melanjutkan kehidupannya," tulisnya.

2. Malu punya anggota dewan seperti Hanum Rais

Oktober lalu, dia pernah membuat heboh dengan membuat pernyataan dan mengaku malu memiliki anggota dewan seperti Hanum Rais.

Bagas itu saat itu menanggapi kicauan anak Amien Rais tersebut yang menyebut bahwa peristiwa penusukan yang menimpa Menko Polhukam kala itu Wiranto sebagai rekayasa.

Menurutnya ucapan Hanum tersebut tak berdasar bahkan kualitasnya sama seperti hoaks dalam kasus Ratna Sarumpaet.

"Jujur saya sebagai Dosen UGM dan warga Jogja amat malu mempunyai anggota dewan seperti bu Hanum Rais," ujarnya dalam keterangan tertulis.

3. Minta bubarkan BMKG

Pada akhir tahun 2018 lalu, Bagas juga pernah membuat surat terbuka meminta agar BMKG dibubarkan.

Menurut dia, BMKG gagal mengantisipasi bencana tsunami di Selat Sunda hingga banyak menimbulkan korban jiwa.

Dosen Teknik Fisika itupun menyebut bahwa pimpinan BMKG sudah seharusnya dirombak karena gagal memberikan peringatan dini pada masyarakat.

Surat pernyataan yang dibuatkan ditujukan untuk Presiden Jokowi.

"Bukan bermaksud menyalahkan siapapun. Namun kasus tsunami Selat Sunda jelas ini adalah bentuk kegagalan BMKG dalam memberikan early warning kepada rakyat sehingga harus jatuh banyak korban. Hal ini tidak harus terjadi jika kinerja BMKG sesuai tupoksinya. Ini kegagalan BMKG untuk kedua kalinya pascatsunami Palu. Rombak pimpinan BMKG dari pucuk hingga ekor agar ke depan kinerja BMKG lebih bermutu, utamanya dalam memberikan pelayanan peringatan dini ke masyarakat," tulisnya.

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar