Ungkap Fakta Covid di Wuhan, 2 Jurnalis Dikabarkan Hilang

Sabtu, 15/02/2020 23:30 WIB
korban terjangkit virus corona (Suryakepri)

korban terjangkit virus corona (Suryakepri)

Jakarta, law-justice.co - Fan Bin dan Chen Qiushi diberitakan menghilang secara misterius pasca mengungkap informasi di pusat penyebaran virus corona di kota Wuhan China. Usai membagikan beberapa video online, foto dan kisah dramatis dalam sosial media yang telah dilihat ribuan orang itu diduga menghilang selamanya.

Mereka sengaja masuk kawasan Wuhan untuk membagikan kepada dunia mengenai informasi yang sesungguhnya. Namun sayangnya, sosial media milik Fan dan Chen tiba-tiba sunyi. Tak ayal, pengikut sosial media mereka yang ingin mengetahui perkembangan pun menduga mereka telah hilang selamanya.

Melansir dari berita BBC.com, Fang Bin merupan salah seorang pengusaha di Wuhan. Fang membagikan video tentang wabah virus corona yang diberi nama covid-19 untuk melaporkan situasi aktual di Wuhan dan berjanji melakukan yang terbaik dalam laporannya. Video pertamanya diunggah pada tanggal 25 Januari 2020 lalu ke saluran Youtube yang dilarang China tetapi dapat diakses melalui jaringan pribadi virtual (VPN).

Beberapa video pertama yang dibagikan berisi soal kegiatan Fang berkeliling kota dan menunjukan situasi di berbagai tempat berbeda, Video itu ditonton kurang lebih 1.000 kali. Kemudian, Fang kembali mengunggah videonya pada 1 Februari, Fang merekam semua kejadian yang menyita perhatian orang dan telah ditonton lebih dari 200 ribu kali. Dalam video tersebut Fang menunjukan mayat yang ditumpuk di dalam minibus di luar rumah sakit di Wuhan.

Setelah video itu viral, Fang menuduh polisi menerobos masuk ke rumahnya pada malam hari yang sama dan mengintrogasi tentang video tersebut. Lalu, ia pun dibawa pergi dan diberi peringatan lalu akhirnya dibebaskan polisi. Fang tidak berhenti, pada 9 Februari dirinya kembali membagikan sebuah video durasi 13 detik dengan tulisan "semua orang memberontak menyerahkan kembali kekuasaan pemerintahan kepada rakyat".

Sedangkan Chen merupakan mantan pengacara HAM yang kemudian menjadi jurnalis video. Ia cukup dikenal di kalangan aktivis. Reputasi perjuangan Chen terbangun dan dikenal sejak ia mengabarkan peristiwa protes di Hongkong, Agustus lalu. Saat dia kembali ke daratan China, otoritas China melecehkan dan memberangus akun sosial serta hasil liputannya.

Tidak berhenti sampai disitu, akun sosial media Chen di China yang dilaporkan memiliki 700 ribu pengikut dihapus. Perlakuan Pemerintah China tidak mampu membuat Chen diam. Pada Oktober lalu, Ia kembali membuat akun Youtube yang kini memiliki 400 ribu pengikut. Ia juga memiliki lebih dari 265 pengikut di Twitter. Akhir Juni lalu, Chen memutuskan masuk kedalam Wuhan guna melaporkan situasi yang meburuk di sana.

" Saya akan menggunakan kamera saya untuk mendokumentasikan apa yang sebenarnya terjadi. Saya berjanji tidak akan menutupi kebenaran,` ujar Chen dalam video Youtube pertamanya. Setelah sampai di Wuhan, Chen mengunjungi berbagai rumah sakit lalu melihat kondisi dan berbicara pada para pasien. "Sensornya sangat ketat dan akun orang-orang ditutup jika mereka membagikan konten saya," ujarnya. (BBC.com)

(Lili Handayani\Yudi Rachman)
Share:



Berita Terkait

Komentar