Menhut Raja Juli Buka Suara soal Desakan Mundur: Kritik Itu Vitamin
Menhut Raja Juli Antoni (kiri) dalam penyerahan SK bagi warga yang direlokasi dari TN Tesso Nilo di Desa Bagan Limau, Kabupaten Palalawan, Riau, Sabtu (20/12/2025). (Antara)
law-justice.co - Pemuda di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), mendesak Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mundur dari jabatannya.
Merespons desakan tersebut, Raja Juli menegaskan akan tetap bekerja menangani kebakaran dan kabut asap yang berdampak ke masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Raja Juli saat meninjau langsung lokasi karhutla di kawasan Taman Nasional Sebangau, Jalan Tjilik Riwut KM 23, Palangka Raya, seperti dikutip dari Detik, Selasa (13/10).
Ia menyampaikan bahwa pemerintah pusat dan daerah memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap selama sekitar tiga bulan terakhir.
"Kami dari pemerintah pusat maupun daerah mempunyai empati yang sangat dalam terhadap masyarakat yang tiga bulan terakhir terpapar asap. Ini memotivasi kami untuk bekerja lebih sungguh-sungguh. Sama sekali kita tidak lepas tangan atau cuci tangan," kata Raja Juli, Selasa (13/10).
Menurutnya, kondisi yang dihadapi masyarakat harus menjadi dorongan untuk meningkatkan upaya penanganan karhutla, terutama di wilayah yang masih menyimpan potensi kebakaran dan asap.
Raja Juli juga menyatakan terbuka terhadap kritik yang disampaikan masyarakat. Ia menilai berbagai masukan, termasuk kritik, dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk meningkatkan upaya penanganan kebakaran.
"Kritik, saran, bahkan kritik pedas sekalipun kami terima sebagai vitamin untuk bekerja lebih keras lagi. Kami butuh dukungan seluruh masyarakat agar kita bisa bersama-sama menghadapi bencana ini," jelasnya.
Sejumlah pemuda menggelar aksi protes di depan hotel tempat Raja Juli menginap pada Senin (12/10) malam. Mereka menilai penanganan karhutla di Kalteng belum memberikan hasil nyata dan meminta pemerintah pusat mengambil langkah lebih tegas.
Salah seorang perwakilan pemuda yang mengikuti aksi, Aris, secara terbuka meminta Raja Juli mengundurkan diri apabila tidak mampu menghadirkan solusi konkret atas persoalan karhutla di Kalteng.
"Kalau tidak bisa menjadi Menteri, mending mengundurkan diri saja dari Menteri Kehutanan," seru Aris dalam aksi tersebut.
Aris menilai penanganan karhutla harus menjadi prioritas karena dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan dan keselamatan masyarakat. Ia menyoroti kabut asap pekat yang dirasakan warga dari berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak dan lanjut usia.
Ia juga mempertanyakan dampak nyata dari kunjungan Menhut ke Kalteng yang menurutnya telah dilakukan berulang kali, tetapi belum dirasakan secara signifikan oleh masyarakat di lapangan.
"Dia sudah datang berapa kali ke Kalimantan Tengah, tapi kedatangan beliau hari ini sudah hampir kesekian kali tidak memberikan dampak sama sekali pun," pungkasnya.
Aris berharap pemerintah pusat memperkuat langkah penanganan karhutla dengan tindakan yang lebih konkret dan tegas. Menurutnya, masyarakat membutuhkan solusi atas kebakaran dan kabut asap yang terus mengganggu kehidupan sehari-hari.

Komentar