Putin: Ada Peluang Capai Kesepakatan Akhiri Perang Ukraina

Kamis, 03/09/2026 21:43 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Sindonews)

Presiden Rusia Vladimir Putin. (Sindonews)

law-justice.co - Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan ada peluang untuk mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina, pada Kamis (3/9). Pernyataan itu disampaikan ketika Ukraina juga berharap ada "dinamika baru" dalam upaya perdamaian.

Putin menyampaikan pandangan tersebut saat berpidato di Eastern Economic Forum (EEF). Ia mengatakan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan China, siap mendukung penyelesaian damai.

"Kami berterima kasih kepada semua pihak yang berusaha berkontribusi pada penyelesaian ini. Apakah ada peluang? Menurut saya, ya, ada," kata Putin.

Meski demikian, Putin menegaskan Rusia dan Ukraina tetap menjadi pihak utama yang harus menyelesaikan konflik tersebut.

"Pada akhirnya, masalah ini harus diselesaikan oleh negara-negara yang terlibat dalam konflik, Rusia dan Ukraina," kata Putin.

Di Kyiv, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha juga menyampaikan harapan terhadap perkembangan baru dalam proses perdamaian. Ia mengatakan keterlibatan politik dan diplomatik di berbagai negara mulai kembali aktif.

"Saya yakin bahwa kini kita akan memiliki dinamika baru dalam upaya perdamaian, seiring kembalinya fase aktif keterlibatan politik dan diplomatik di banyak ibu kota di seluruh dunia," beber Sybiha kepada wartawan.

Sybiha tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai perkembangan tersebut. Ia hanya meminta wartawan untuk mengikuti berita selanjutnya.

Pernyataan optimistis dari kedua pihak muncul setelah perang Ukraina berlangsung sekitar empat setengah tahun.

Pertemuan terakhir kedua pihak dalam pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat berlangsung pada Februari. Sejak itu, Rusia dan Ukraina justru meningkatkan serangan jarak jauh ke wilayah masing-masing.

Konflik di laut juga semakin meningkat setelah kedua pihak menyerang pelabuhan dan kapal dagang. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga biji-bijian di pasar global.

Harga kontrak berjangka gandum di Chicago turun lebih dari 2% akibat pernyataan Putin.

Namun, Putin dan Sybiha tidak memberikan alasan spesifik mengenai kemungkinan tercapainya kemajuan dalam perundingan. Putin justru menilai sejumlah tindakan Ukraina dapat menghambat proses perdamaian.

Putin menyebut Ukraina melakukan serangan terhadap kapal dagang sipil dan mengancam pesawat sipil. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai "terorisme negara" yang dapat "memperumit prospek perundingan damai bilateral".

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya memperingatkan maskapai penerbangan dan perusahaan asuransi bahwa aktivitas drone Ukraina membuat wilayah udara Rusia berbahaya.

Namun, Zelenskyy menegaskan Ukraina hanya menargetkan fasilitas militer Rusia dan tidak bermaksud mengancam pesawat sipil.

Ukraina juga meminta badan penerbangan PBB mendorong negara anggotanya melarang operasi penerbangan di wilayah udara Rusia. Ukraina telah menutup wilayah udaranya bagi penerbangan sipil internasional sejak invasi Rusia pada 2022.

Putin mengatakan komunikasi antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung.

"Sulit bagi saya untuk mengatakan saat ini sejauh mana kontak-kontak ini mengarah pada perjanjian damai, mengingat pernyataan-pernyataan yang baru-baru ini kami dengar dari pimpinan tertinggi Ukraina," jelasnya.

"Namun, kontak tersebut memang ada dan terus berlanjut secara berkelanjutan, sekali lagi, terutama melalui saluran intelijen," tambahnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menyatakan negaranya siap membantu proses perdamaian.

Jika India dapat membantu, dengan cara apa pun, kami siap," kata Jaishankar.

Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan kepada Putin pada hari Senin bahwa perang di Ukraina harus diakhiri demi kemanusiaan dan bahwa New Delhi akan mendukung setiap upaya untuk menghentikan pertempuran.

Perdana Menteri India Narendra Modi sebelumnya juga meminta Putin mengakhiri perang Ukraina demi kemanusiaan.

Modi juga mengatakan India siap mendukung setiap upaya untuk menghentikan pertempuran.

(Yudi Rachman\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar