PBNU Tinjau Kesiapan Jelang Pembukaan Muktamar Ke-35 di Jombang

Rabu, 26/08/2026 17:12 WIB
PBNU (Republika)

PBNU (Republika)

law-justice.co - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memastikan Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, bebas dari penyusup dan berjalan tertib. Pihak panitia menerapkan pendaftaran berbasis digital hingga aturan ketat penggunaan pengeras suara di area persidangan.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya meninjau langsung kesiapan arena musyawarah, Rabu (26/8). Ia menyoroti dua aspek teknis yang dinilai krusial untuk menjaga kekhidmatan kelancaran agenda tertinggi NU tersebut.

"Saya kira di setiap venue persidangan perlu ada layar besar yang bisa meninjau keberlangsungan persidangan," jelas Gus Yahya.

Gus Yahya juga memberikan peringatan khusus mengenai tata tertib berbicara saat sidang berlangsung guna mencegah perdebatan liar.

"Disiplin mic itu penting. Jangan biarkan orang pegang mic kecuali dipersilakan oleh pimpinan sidang," tegasnya.

Sebelum mengecek arena, Gus Yahya menyempatkan diri sowan ke Ndalem Kasepuhan KH Chasbullah. Di tengah perbincangan, ia meyakini kelancaran muktamar ini tidak lepas dari restu pendiri NU, KH A Wahab Chasbullah.

"Saya kira Mbah Wahab yang menjadi wasilah Muktamar Tambakberas ini. Saya selalu matur ke Mbah Wahab, Mbah Wahab sudah pasrah ke Kiai Rozaq: `Wis awakmu turu ae, wis ono Kiai Rozaq,`" selorohnya.

Ia juga merespons kekhawatiran sejumlah peziarah yang takut perhelatan muktamar akan berujung ricuh.

"Lah, ditunggoni Mbah Wahab kok rusuh," lanjutnya.

Gus Yahya menutup pertemuan itu dengan mengenang kelakar almarhum KH Amanullah terkait dinamika khas warga lokal.

"Orang Jombang yang di Jakarta saja ruwet, apalagi yang di Jombang," tawa Gus Yahya menirukan almarhum Kiai Amanullah.

Di sisi lain, upaya pengamanan teknis muktamar telah disimulasikan oleh Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama Sekretaris Steering Committee Prof Mohammad Nuh dan Bendahara Umum Agus Gudfan Arief. Mereka menjajal langsung sistem registrasi peserta yang kini murni berbasis digital.

"Dua hari menjelang pembukaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, saya, Prof Nuh, Gus Gudfan, dan beberapa pengurus PBNU melakukan simulasi registrasi peserta. Luar biasa, kali ini semuanya sudah menyesuaikan dengan tuntutan zaman, berbasis barcode," jelas Gus Ipul.

Mantan Wakil Gubernur Jawa Timur ini menjelaskan, alur pendaftaran menggunakan barcode dipastikan membuat proses verifikasi menjadi cepat dan presisi sebelum peserta diarahkan ke zona akomodasi masing-masing.

"InsyaAllah jika semua pihak disiplin dan tertib, tidak akan ada penumpukan antrean yang panjang. Semuanya berjalan nyaman dan presisi karena sistem sudah terintegrasi dengan data tunggal," tegasnya.

Sistem ini sekaligus difungsikan sebagai filter keamanan. Panitia telah mengunci Daftar Peserta Tetap (DPT) sehingga menutup rapat celah bagi peserta ilegal atau pengganti.

"Datanya sudah valid, DPT-nya sudah ditetapkan, nama-nama pengurus peserta tertera jelas. Dengan demikian, diharapkan tidak ada peserta susupan atau peserta pengganti. Seluruhnya adalah peserta sah yang memenuhi persyaratan organisasi," tegasnya menambahkan.

Gus Ipul memuji kinerja panitia pusat dan lokal yang mampu merampungkan persiapan infrastruktur muktamar, dari penginapan hingga fasilitas medis, hanya dalam waktu efektif 50 hari.

"Apresiasi setinggi-tingginya kepada tim Kesekretariatan Panitia Muktamar dan keluarga besar Ponpes Bahrul Ulum. Dalam kurun 50 hari, mereka bekerja cermat dan cepat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya," tutur Sekjen PBNU tersebut.

Kesiapan penuh ini diharapkan membuat para muktamirin bisa berkonsentrasi membedah substansi masa depan NU, mengingat muktamar kali ini menjadi momen sejarah masuknya NU ke abad kedua.

"Kami berharap peserta fokus memberikan gagasan terbaik. Sehingga Muktamar Ke-35-yang menjadi muktamar perdana di abad kedua NU-dapat menghasilkan keputusan strategis agar jam`iyah kita makin maju, relevan, dan membumi. Tata kelola organisasi makin tertata, warga NU terlayani dan terbela, serta keilmuan para ulama terus menuntun peradaban zaman," urainya.

"Ini awal abad kedua NU, muktamar kembali ke pangkuan para muassis. Dari Tambakberas, Jombang, semoga ini menjadi muktamar yang menggembirakan, penuh berkah, dan berakhir dengan kelancaran," pungkas Gus Ipul.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar