Rupiah Menguat Menjadi Rp 17.827 per Dolar AS Diakhir Pekan
Dolar Bukan Segalanya: Asia Tunjukkan Taring Ekonomi
Setelah Harga emas kembali menguat pada perdagangan akhir pekan setelah dolar Amerika Serikat (AS) ikut melemah. Pergerakan tersebut terjadi setelah data inflasi AS keluar sesuai dengan perkiraan pasar, sehingga memberikan ruang bagi investor untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada periode berikutnya.
Secara mingguan, harga emas mencatat kenaikan sebesar 0,79%. Kinerja tersebut sekaligus memperpanjang tren penguatan emas yang telah berlangsung selama dua pekan berturut-turut.
Pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor yang mendukung harga emas karena komoditas tersebut diperdagangkan dalam mata uang dolar. Ketika dolar melemah, emas cenderung menjadi lebih menarik bagi investor yang memegang mata uang lainnya.
Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ditopang sentimen global yang membaik dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Melansir Bloomberg pada Jumat (14/8/2026), kurs rupiah di pasar spot menguat Rp 50 atau 0,28% secara harian menjadi Rp 17.827 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah spot menguat 0,39% dari posisi Rp 17.897 per dolar AS.
Analis mata uang dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menyebut pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir turut dipengaruhi oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY) serta meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Harga minyak dan konflik Iran-AS menjadi salah satu ancaman. Jika harga minyak terus tinggi, Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak dolar untuk impor energi. Kondisi tersebut dapat kembali menekan rupiah.
Melansir Bloomberg pada kemarin hari Jumat (14/8/2026), kurs rupiah di pasar spot menguat Rp 50 atau 0,28% secara harian menjadi Rp 17.827 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah spot menguat 0,39% dari posisi Rp 17.897 per dolar AS.
Selain itu, masih ada kekhawatiran mengenai independensi BI, kebijakan fiskal, dan arus modal asing. Karena itu, penguatan rupiah tidak otomatis berlanjut meskipun sentimen terhadap BI membaik.



Komentar