Rupiah Makin Jatuh ke Rp18.049 per Dolar AS Sore Ini
Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp 15.000 Per Dollar AS (foto: tribune)
Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan mayoritas mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,01 persen, peso Filipina naik 0,20 persen, yen Jepang terapresiasi 0,11 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,10 persen.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia masih berada di zona merah. Ringgit Malaysia melemah 0,52 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,27 persen, dan dolar Singapura turun 0,07 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan serupa juga terjadi di kelompok mata uang negara maju yang cenderung bervariasi. Euro Eropa menguat 0,09 persen, poundsterling Inggris naik 0,08 persen, dan franc Swiss terapresiasi 0,11 persen.
Sementara itu, dolar Australia terkoreksi 0,02 persen dan dolar Kanada melemah 0,14 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang mendorong penguatan dolar AS.
Menurutnya, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang kembali memanas. Meski Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, ketidakpastian tetap tinggi setelah muncul laporan serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain serta operasi militer AS di sekitar Selat Hormuz.
Di saat yang sama, data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai sentimen pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap membengkaknya defisit fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia, potensi reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI, serta menyusutnya surplus neraca perdagangan.
Selain itu, inflasi Mei yang mencapai 3,08 persen juga menunjukkan mulai meningkatnya tekanan harga di dalam negeri, termasuk dampak pelemahan rupiah terhadap barang-barang impor.
"Data perdagangan April menunjukkan surplus memudar karena biaya impor minyak yang melonjak tinggi melampaui ekspor. Inflasi Mei meningkat menjadi 3,08 persen, di atas titik tengah target bank sentral dampak dari kenaikan harga-harga barang impor," ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada perdagangan besok di kisaran Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS.

Komentar