Juwono Sudarsono, Menhan Sipil Pertama Arsitek Reformasi Pertahanan
Prof. DR. Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan RI pertama dari kalangan sipil. (Fajar)
Kabar duka itu datang dari Jakarta. Juwono Sudarsono mengembuskan napas terakhir pada pukul 13.45 WIB di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan. Ia berpulang di usia 84 tahun, menutup perjalanan panjang seorang cendekiawan yang menjelma menjadi negarawan. Konfirmasi kepergian Juwono disampaikan Kepala Biro Humas dan Informasi Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo. Jenazah rencananya disemayamkan di Kementerian Pertahanan sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata—tempat peristirahatan terakhir para tokoh bangsa.
Namun, bagi banyak kalangan, Juwono bukan sekadar mantan pejabat negara. Ia adalah representasi generasi akademisi yang masuk ke lingkar kekuasaan untuk memastikan negara tetap berjalan di jalur rasionalitas dan tata kelola yang modern. Lahir di Ciamis, Jawa Barat, 5 Maret 1942, Juwono tumbuh dari lingkungan keluarga pemerintahan. Namun, jalan hidupnya ditempa kuat oleh dunia akademik. Ia mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia, lalu melanjutkan studi ke University of California Berkeley dan London School of Economics hingga meraih gelar doktor di bidang hubungan internasional.
Dunia kampus bukan sekadar tempatnya belajar, tetapi juga ruang pengabdian. Ia menjadi guru besar di Universitas Indonesia, bahkan sempat mengajar di Columbia University. Di sana, ia dikenal sebagai akademisi yang tajam, tetapi tetap membumi dalam melihat realitas politik global.
Kariernya melintasi berbagai rezim. Pada akhir pemerintahan Soeharto, ia dipercaya menjadi Menteri Lingkungan Hidup. Lalu di era B. J. Habibie, ia menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, titik paling menentukan datang ketika Presiden Abdurahman Wahid memberikan amanah sebagai Menteri Pertahanan—jabatan yang kemudian kembali dipercayakan kepadanya oleh Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2004–2009. Juwono menjadi orang sipil pertama yang menduduki jabatan Menhan.
Sebagai Menhan, dia dikenal juga sebagai arsitek reformasi pertahanan nasional. Di masa jabatannya, berbagai rancangan undang-undang di sektor pertahanan mulai disusun, dari Komponen Cadangan hingga Keamanan Nasional. Upaya tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pertahanan yang lebih terstruktur dan adaptif terhadap tantangan global. Di tengah dinamika politik dan keamanan, Juwono dikenal sebagai sosok yang tenang, argumentatif, dan jauh dari retorika populis. Ia lebih memilih bekerja dalam sunyi, menyusun konsep, dan memastikan kebijakan negara berdiri di atas pijakan ilmiah.
Selain itu, Juwono memperkenalkan pendekatan yang berbeda. Ia tidak melihat pertahanan semata dari kekuatan militer, melainkan sebagai sistem yang bertumpu pada kualitas manusia, ilmu pengetahuan, dan keadilan sosial. Gagasannya tentang pertahanan nonmiliter menjadi fondasi penting dalam membangun strategi yang lebih komprehensif dan adaptif.
Sebagai intelektual, Juwono juga aktif menulis dan terlibat dalam forum akademik global. Ia pernah menjabat dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, memperkuat perannya sebagai jembatan antara dunia ilmu pengetahuan dan kebijakan publik.
Kini, kepergiannya meninggalkan ruang kosong—bukan hanya di pemerintahan, tetapi juga di dunia intelektual kebijakan publik. Juwono Sudarsono telah menunjukkan bahwa seorang akademisi dapat menjadi arsitek negara, tanpa kehilangan integritas keilmuannya. Ia pergi, tetapi gagasan dan jejaknya akan tetap hidup dalam setiap upaya membangun pertahanan Indonesia yang modern, rasional, dan berdaulat.


Komentar