Ambruk, Pagi Ini Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar Amerika Serikat

Senin, 09/03/2026 09:55 WIB
Nilai tukar rupiah merosot (bisnis)

Nilai tukar rupiah merosot (bisnis)

law-justice.co - Pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin 9 Maret 2026, nilai tukar rupiah resmi tembus level psikologis Rp17.000.

Hal ini dipicu sentimen global terkait serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran yang membuat harga komoditas minyak melonjak.

Melansir Bloomberg, awal pekan ini (9/3) rupiah terpantau melemah 84 poin atau 0,50 persen terhadap mata uang AS ke level Rp17.090 per dolar AS pukul 09.03 WIB.

Adapun pada perdagangan Jumat (6/3) sore, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.925 per dolar AS. Mata uang Garuda melemah 20 poin atau 0,12 persen dari perdagangan sebelumnya.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp16.919 per dolar AS.

Mata uang di kawasan Asia bergerak bervariasi. Yen Jepang menguat 0,62 persen, baht Thailand menguat 0,44 persen, yuan China melemah 0,08 persen, peso Filipina menguat 0,66 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,15 persen.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia resmi tembus level US$100 barel per hari pada Minggu (8/3), imbas perang Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Lonjakan tersebut sekaligus menjadi rekor tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 lalu.

Melansir CNN, lonjakan harga minyak mentah terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor bahwa perang yang diinisiasi AS dan Israel ke Iran akan memiliki dampak panjang. Hal tersebut memicu pembatasan berkepanjangan pada aliran distribusi minyak Timur Tengah.

Harga minyak mentah acuan jenis Brent tercatat mengalami kenaikan 12,63 persen ke level US$ 104 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS tercatat naik 14,7 persen.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong memperkirakan rupiah melemah terhadap dolar AS imbas kenaikan harga minyak mentah.

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati US$100 per barel dikhawatirkan akan berdampak besar pada perekonomian global dan inflasi," ujar Lukman seperti melansir cnnindonesia.com, Senin (9/3).

Hari ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp16.850 per dolar AS - Rp17.000 per dolar AS.

Sebelumnya, ekonom menilai kondisi rupiah tembus RP17 ribu belum menjadikan Indonesia masuk dalam kategori krisis. Namun, tetap membawa konsekuensi nyata bagi perekonomian jika tren pelemahan berlangsung berkepanjangan.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita menilai dampak pelemahan rupiah sudah mulai terasa, terutama bagi sektor-sektor yang bergantung pada impor dan pembiayaan berbasis valuta asing.

Dia menambahkan tekanan juga berpotensi menjalar ke inflasi apabila tidak segera direspons dengan kebijakan yang tepat.

"Pelemahan rupiah yang mendekati Rp17.000 dampaknya nyata tapi belum krisis. Yang paling cepat dirasakan masyarakat adalah tekanan harga barang impor dan beban utang, baik di sektor usaha maupun APBN. Kalau dibiarkan lama, inflasi bisa ikut terdorong," ujarnya.

 

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar