Respons Pertamina soal TNI AL Minta Utang BBM Rp3,2 T Diputihkan

Selasa, 29/04/2025 11:30 WIB
Ilustrasi: Gedung Kantor Pusat Pertamina di Jakarta. (Beritacenter)

Ilustrasi: Gedung Kantor Pusat Pertamina di Jakarta. (Beritacenter)

law-justice.co - PT Pertamina (Persero) secara resmi menyatakan bahwa akan berkoordinasi dengan pemerintah terkait dengan usulan TNI Angkatan Laut (AL) yang memiliki tunggakan utang sebesar Rp3,2 triliun terkait dengan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional kapal TNI.

“Terkait dengan usulan pemutihan piutang, tentu kami akan berkoordinasi dengan pemerintah selaku pemegang saham untuk melihat bagaimana regulasinya,” kata VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, Selasa (29/4/2025).

“Karena pengelolaan anggaran BUMN harus dilaporkan ke pemerintah.”

Fadjar mengungkapkan Pertamina berperan sebagai BUMN energi untuk memastikan penyaluran energi ke seluruh masyarakat dan menjaga ketahanan energi nasional.

Untuk menjalankan mandat tersebut, Pertamina harus memiliki kemampuan untuk menjaga operasional perusahaan.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Muhammad Ali membeberkan TNI AL memiliki tunggakan utang BBM ke Pertamina senilai Rp3,2 triliun untuk operasional kapal.

"Untuk bahan bakar memang ini kalau kita berpikir masih sangat terbatas, kemarin ada tunggakan itu bahan bakar Rp2,25 triliun dan saat ini kita sudah dikenakan harus membayar utang lagi Rp 3,2 triliun. Itu sebenarnya tunggakan," kata Ali dalam rapat dengan Komisi I di Kompleks Parlemen, Senin (24/4/2025).

Menurut Ali, tunggakan tersebut sangat mengganggu kegiatan operasional TNI AL. Dia lantas meminta agar tunggakan itu diputihkan oleh Pertamina.

"Jadi, ini mengganggu sekali kegiatan operasional, dan harapannya sebenarnya ini bisa ditiadakan untuk masalah bahan bakar, diputihkan," ujarnya.

Ali berharap pembelian bahan bakar ke depannya dipusatkan di Kementerian Pertahanan. Menurutnya, meski kapal sedang dalam posisi diam atau tidak dioperasikan, segala hal mulai dari diesel dan AC tetap menyala.

"Karena kapal kita ini walaupun diam saja tidak bergerak, tapi dieselnya tetap hidup. Dan untuk menghidupkan air conditioner, AC, karena kalau AC dimatikan, peralatan elektronik akan rusak di dalamnya, itu bahayanya," imbuhnya.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar