Menhut Raja Juli Akui Terima Amplop, KPK Didesak Profesional

Jakarta, - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didesak untuk bisa profesional dalam kasus dugaan korupsi Bupati Kuantan Singingi (Kuansing),Suhardiman Amby, di tengah isu keterlibatan Menteri Kehutanan (Mehut), Raja Juli Antoni.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH), Abdul Razak Nasution menilai, sikap Raja Juli yang mengembalikan amplop diduga berisi uang yang ditinggalkan Bupati Kuansing, saat beraudiensi di Kantor Kementerian Kehutanan pada 2 Juni 2026, adalah langkah positif.

"Jangan sampai kejujuran dan ketegasan seorang pejabat justru dijadikan bahan tuduhan tanpa bukti. Itu sangat merugikan dan berpotensi meredupkan semangat pejabat lain yang ingin bersih," ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 5 Juli 2026.

Razak mengapresiasi langkah KPK yang melaksanakan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Bupati Kuansing bersama Sekretaris Daerah Zulkarnain, serta Direktur Utama PT Mitra Ideal Consultant Ardileh, pada 29 Juni 2026.

Namun menurutnya, PP HIMMAH juga memberikan apresiasi tinggi terhadap Raja Juli yang berani menyampaikan secara jujur adanya pemebrian uang dari Bupati Kuansing.

"Kami sangat mengapresiasi sikap kesatria Menteri Raja Juli Antoni, yang tetap konsisten menolak segala bentuk suap," sambungnya.

Razak juga mengajak masyarakat agar tidak terpancing narasi liar yang menyebutkan keterlibatan Raja Juli dalam kasus tersebut.

"Sudah jelas Bapak Menteri secara rinci memberikan klarifikasi terbuka atas tuduhan itu," ujar Razak.

Razak menambahkan, justru sikap Menteri Raja Juli Antoni membuktikan bahwa ia berdiri tegak di jalur kebenaran. Ia bukan pihak yang terlibat, melainkan saksi sekaligus pihak yang tegas menolak upaya penyogokan sejak awal.

"Jangan biarkan isu melenceng membuat penegakan hukum terganggu. Mari kita jaga ketertiban informasi dan dukung upaya pemberantasan korupsi yang bersih dan adil," ajaknya.

"Kami berharap semangat integritas ini terus dijaga. PP HIMMAH siap menjadi pengawal agar kebenaran tetap tegak, dan narasi kebohongan segera padam," demikian Razak menutup.