- Saudaraku, Indonesia hari ini seperti sebuah kapal yang lambungnya dipenuhi retakan. Air tak lagi sekadar merembes; ia masuk tanpa bisa dibujuk berhenti. Awak kapal sibuk menimba, sementara laju kebocoran selalu lebih cepat daripada tenaga yang tersisa. Kita masih menatap dermaga di kejauhan, tetapi ada saat ketika harapan tak lagi cukup untuk mengubah hukum kenyataan.
Kapal yang demikian bukan sedang berlayar menuju pelabuhan. Ia sedang berpacu menuju karam di tengah jalan.
Dalam keadaan seperti itu, kebijaksanaan bukan lagi soal mempertahankan gengsi kapal, melainkan menyelamatkan setiap jiwa di atasnya. Sebab tidak ada kemenangan dalam memaksa sebuah bahtera yang rapuh menggenapi pelayaran, jika harga yang dibayar adalah tenggelam bersama seluruh penumpangnya.
Namun, yang paling berbahaya bukanlah kebocoran itu sendiri. Yang paling berbahaya adalah penyangkalan. Ketika retakan dianggap goresan biasa, ketika ruang-ruang yang kemasukan air disebut masih aman, ketika orang yang memperingatkan bahaya justru dituduh menyebarkan kepanikan, sesungguhnya kapal telah kehilangan arah jauh sebelum kehilangan daya apung.
Bukankah kita telah terlalu lama hidup dalam kebiasaan seperti itu? Korupsi disebut kewajaran. Ketimpangan dianggap harga pembangunan. Hukum menjelma alat tawar-menawar. Kekuasaan lebih sibuk merawat citra daripada memperbaiki fondasi. Kita mengecat dinding kapal yang lapuk, memasang layar baru, menghias geladak, sementara lunasnya terus digerus air asin.
Kita merayakan ilusi bahwa semuanya masih terkendali, padahal bunyi kayu yang merekah semakin keras terdengar dari bawah kaki kita.
Ada saat ketika sebuah kapal masih bisa diselamatkan dengan tambalan. Tetapi ada pula saat ketika tambalan hanyalah cara menunda karam.
Pada titik itulah, keberanian diuji.
Keberanian bukanlah memaksa kapal mencapai dermaga demi menjaga martabat para nakhodanya. Keberanian adalah mengakui bahwa kapal ini mungkin tidak lagi sanggup membawa seluruh penumpangnya hingga tujuan. Dan pengakuan itu bukanlah kekalahan. Ia adalah awal dari penyelamatan.
Karena yang harus diselamatkan bukan kapal. Yang harus diselamatkan adalah manusia.
Maka sekoci dan pelampung bukanlah lambang menyerah. Ia adalah lambang akal sehat yang masih hidup. Ia adalah rencana kedaruratan ketika keadaan tak lagi dapat dipaksa kembali normal. Setiap masyarakat yang matang selalu menyiapkan jalan keluar sebelum bencana mencapai puncaknya, sebab mereka tahu bahwa kepanikan adalah harga dari kelalaian.
Demikian pula sebuah bangsa.
Ketika kerusakan telah menjalar ke hampir seluruh organ kehidupan—politik, hukum, ekonomi, pendidikan, birokrasi, hingga moral publik—yang dibutuhkan bukan lagi tambalan kebijakan yang bersifat sementara. Yang dibutuhkan adalah keberanian melakukan pembedahan terhadap tatanan yang selama ini justru memproduksi retakan-retakan baru.
Pembedahan bukanlah penghancuran. Pembedahan adalah prosedur penyelamatan
Seorang dokter yang membelah tubuh pasien bukan sedang membenci tubuh itu. Ia justru sedang berusaha mempertahankan kehidupannya. Pisau bedah memang melukai, tetapi ia melukai agar luka yang lebih besar dapat dihentikan. Demikian pula bangsa ini. Ada saat ketika mempertahankan sistem yang sakit justru menjadi tindakan paling berbahaya, sementara membongkar dan membangunnya kembali adalah bentuk cinta yang paling bertanggung jawab.
Karena itu, keberanian hari ini bukan sekadar keberanian mengganti pemimpin, melainkan keberanian memeriksa ulang seluruh rancangan rumah kebangsaan: bagaimana kekuasaan dibatasi, bagaimana hukum dibebaskan dari kepentingan, bagaimana kekayaan negeri dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat, bagaimana pendidikan membentuk manusia yang merdeka berpikir, dan bagaimana negara kembali menjadi pelayan kehidupan, bukan pelayan segelintir kepentingan.
Sejarah tidak pernah mengingat tinggi tiang layar, megahnya lambung, atau indahnya cat pada badan kapal. Sejarah hanya mengingat apakah, ketika retakan itu tak lagi dapat ditambal, masih ada cukup kebijaksanaan untuk menyelamatkan manusianya.
Sebab bangsa tidak pernah identik dengan kapalnya.
Bangsa adalah orang-orang yang selamat. Bangsa adalah mereka yang berani belajar dari hampir-karamnya sebuah pelayaran. Bangsa adalah mereka yang, setelah menepi dengan sekoci dan pelampung, bergotong royong membangun bahtera baru dari pengalaman, kejujuran, dan keberanian.
Dunia baru tidak pernah lahir dari penyangkalan. Ia lahir dari keberanian mengakui kenyataan, menyiapkan penyelamatan, dan melakukan pembaruan yang selama ini ditunda. Sebab retakan yang terus disangkal tidak akan pernah menutup dirinya sendiri. Setiap penundaan hanya membuat air semakin dalam, sementara kesempatan untuk menyelamatkan semua orang semakin tipis.
Masih ada sedikit waktu untuk memilih.
Bukan memilih antara optimisme atau pesimisme. Bukan memilih antara mempertahankan kapal lama atau mengutuknya hingga tenggelam. Melainkan memilih apakah kita akan terus memoles lambung yang telah rapuh, atau dengan keberanian yang jernih melakukan penyelamatan, membedah yang sakit, dan menyiapkan bahtera baru yang lebih adil, lebih kokoh, dan lebih layak membawa seluruh anak bangsa menuju dermaga yang kita impikan.