Jakarta, - Sudah tidak terhitung banyaknya kebusukan dan kebiadaban Jokowi terkuak sejak turun dari jabatan. Seandainya rencana tiga periode dulu terlaksana, maka apa yang dilakukan Jokowi sudah pasti akan dianggap sebagai keharuman dan kebanggaan bangsa. Para buzzer dan ternak akan mengamplifikasi kebohongan setiap hari tanpa henti, memutarbalikkan kezaliman menjadi kemuliaan.
Jokowi adalah anatema par excellence dalam sejarah republik. Jokowi adalah kesalahan sejarah. Jokowi melawan kodrat dan fitrah manusia yang selalu mendambakan kebenaran dan keadilan. Jokowi diturunkan Allah SWT ke atas dunia untuk menguji iman kita semua, apakah kita bisa bertahan memperjuangkan kebenaran, atau sebaliknya, gampang tergiur sogokan benda duniawi. Mirip fungsi setan dan iblis.
Intelijen senior Sri Rajasa Chandra dalam sebuah podcast mengeluarkan pernyataan yang sangat mengejutkan bahwa semua kekisruhan yang terjadi selama pemerintahan Prabowo sekarang ini disebabkan oleh Jokowi. Tujuannya memang sengaja untuk mengganggu jalannya pemerintahan yang sah.
Sebagai orang intelijen, Sri Rajasa memiliki informasi yang cukup untuk mendukung tuduhannya itu. Kasus terakhir yang marak dan tiba-tiba muncul entah dari mana adalah viralnya bendera dan logo One Piece bergambar tengkorak yang disebut-sebut sebagai ekspresi warga negara dalam melawan ketidakadilan.
Pertanyaan yang muncul kemudian, ketidakadilan oleh siapa yang harus dilawan? Bukankah pemerintahan yang sah sekarang ini dipimpin Presiden Prabowo Subianto? Maka bila kita berhati-hati menjawab dua pertanyaan ini, sebetulnya yang disasar oleh gerakan One Piece adalah melawan Prabowo yang dituduh sebagai penyebab ketidakadilan. Tidak ada alternatif lain.
Menurut Sri Rajasa, viralnya bendera One Piece melibatkan operasi yang didukung oleh dana besar. Gerakan ini dimobilisasi secara rapi. Tidak mungkin bendera ini bisa cepat beredar dan viral ke berbagai tempat seperti api yang menjalar membakar rumput kering. Tiba-tiba sopir truk memasangnya, banyak orang mengenakan kaos dengan gambar One Piece, dan logonya diposting di media sosial secara masif.
Orang yang pertama kali mengenakan logo One Piece adalah Gibran sendiri pada masa kampanye pilpres dulu. Menko Polkam mengancam akan menindak tegas orang-orang yang mengibarkan bendera One Piece menjelang perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus. Tapi ancaman itu tak kunjung dilaksanakan.
Kata Sri Rajasa, Jokowilah orang yang berada di balik viralnya bendera One Piece. Jokowi berusaha memecah perhatian rakyat yang tertuju kepada Prabowo melalui gerakan kontroversial ini. Jokowi tidak rela rakyat fokus melihat program-program yang dilaksanakan Prabowo, karena itu artinya kerugian bagi Gibran yang sudah bersiap mencalonkan diri menjadi wapres pada 2029.
Pernyataan Sri Rajasa banyak benarnya bila ditelaah secara mendalam. Konsentrasi publik perlu dialihkan ke sesuatu yang dianggap perlawanan terhadap pemerintahan yang sah. Tentu Jokowi adalah orang yang sangat berkepentingan untuk mengalihkan perhatian publik dari pemeriksaan kroninya yang diduga terlibat korupsi.
Berita korupsi yang menyasar kroni dan keluarga akan sangat merugikan karena mencoreng pencitraan dangkal yang selama ini dibangun. Berita buruk korupsi akan menggerus nama baik—seandainya Jokowi, keluarga, dan kroni—punya nama baik, karena semakin hari terlihat kebusukan Jokowi selama 10 tahun memerintah.
Tak cukup dengan memviralkan dan mengarusutamakan logo One Piece, Jokowi dan geng Solo, kata Sri Rajasa, juga telah melampaui batas yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Pendukung Jokowi di Riau, kata Sri Rajasa, terpantau terakhir kali mengadakan rapat gelap dalam rangka menuntut Riau merdeka.
Agenda utama dari gerakan ribut-ribut ini untuk mengganggu pemerintahan Prabowo dan memecah konsentrasi publik dari sorotan kejahatan yang dilakukan Jokowi. Jokowi dan geng Solo menunjukkan perlawanan yang keras terhadap eksistensi dan memudarnya peran mereka dalam pemerintahan Prabowo.
Rapat Riau merdeka dilaksanakan menyusul dikeluarkannya keputusan abolisi dan amnesti hukum presiden kepada dua orang yang dianggap sebagai korban peradilan sesat. Kedua korban disebut menjadi sasaran kebencian Jokowi melalui aparat hukum yang masih dikuasainya di pemerintahan Prabowo.
Pemberian abolisi dan amnesti oleh presiden ini dianggap titik balik memburuknya hubungan Jokowi dan Prabowo. Sebagai pihak yang menginginkan kedua orang itu masuk penjara, tentu Jokowi tidak bisa menerima keputusan Prabowo. Jokowi pasti merasa sudah dikhianati dan dilangkahi oleh Prabowo, karenanya harus melawan balik.
Rencana Jokowi dan geng Solo begitu rapi. Di samping Riau, gerakan memisahkan diri dari NKRI juga pernah punya jejak di Aceh, Bali, Papua, dan Minahasa (Sulawesi Utara). Bukan tidak mungkin bila Riau kembali mendeklarasikan kemerdekaan, maka keempat daerah tersebut juga akan melakukan hal yang sama.
Bila itu terjadi, maka Prabowo akan full konsentrasi mengurusai masalah separatisme, dan lupa pada pemberantasan korupsi yang menyasar geng Solo. Geng Solo, kata Sri Rajasa, sangat paham psikologi Prabowo yang tidak suka didemo, apa lagi terhadap gerakan separatisme. Ini akan membuat Prabowo naik pitam sehingga kehilangan keseimbangan.
Bila mereka bisa mempermainkan emosi Prabowo melalui provokasi separatisme ini, maka dengan gampang bisa mengatur ritme permainan khususnya menyangkut kasus korupsi geng Solo. Plot dan rancangan busuk ini tentu saja hanya bisa dilaksanakan karena Jokowi masih menguasai banyak lembaga penting di pemerintahan Prabowo.
Gerakan Jokowi yang dilakukan secara terbuka tentu saja ada. Menyusul pemberian abolisi dan amnesti, kader PSI ramai-ramai menuntut diturunkannya Prabowo. Mau seperti apa pun kita melihat sikap frontal ini, ini tidak bisa tidak adalah sikap Jokowi yang sedang marah karena mulai ditinggalkan Prabowo.
Kabar baiknya, komplotan Jokowi sudah mulai retak dari dalam. Pelan-pelan gerombolan yang eksis karena imbalan uang dan jabatan ini akan bubar dengan sendirinya. Selama uang terus mengalir ke para ternak, maka gonggongan dan teriakan mereka akan terus terdengar membela Jokowi. Tetapi begitu uang berhenti mengalir, maka saat itulah Jokowi akan ditinggalkan dengan sepenuhnya.
Salah satu cara menghentikan Jokowi dan para ternak adalah dengan memotong sumber dananya. Prabowo jangan ragu mengusut sumber dana Jokowi yang dipakai untuk melakukan adu domba dan merusak bangsa selama ini. Kemungkinan besar itu berasal dari dana korupsi selama 10 tahun yang ditengarai sejumlah kalangan.
Dalam perkembangan terbaru, salah satu kepala termul yang menjabat sebagai menteri, mengatakan bahwa dia tegak lurus dengan Prabowo dan siap bergabung dengan Gerindra. Dia tahu Jokowi bukan lagi tempat bersandar, karenanya dia sedang cari selamat atas keterlibatannya dalam kejahatan judi online. Apakah Prabowo dan Gerindra akan menerima manusia jenis ini sebagai kadernya? Biarkan hati nurani yang menjawabnya.
Akhirnya, ini yang kesekian kali publik mengingatkan Prabowo untuk bertindak tegas terhadap Jokowi. Semakin lama Prabowo menunda menyingkirkan Jokowi dan geng Solo, maka semakin membahayakan pemerintahannya, dan tentu saja juga membahayakan bangsa dan negara. Karena Jokowi bukanlah sekutu yang bisa dipercaya.
Prabowo harus menunggu kejadian apa lagi agar cepat siuman dari keadaan yang berbahaya ini? Jangan sampai dia berdiri di sisi yang salah dalam sejarah.