Pabrik Mobil AS Pindah ke China, Trump Hujat GM

Jakarta, law-justice.co - Donald Trump geram atas langkah bisnis perusahaan otomotif asal Amerika Serikat (AS) General Motors (GM) yang memindahkan pabriknya ke China saat kedua negara tengah perang dagang.

Presiden AS itu menyebut GM saat ini menjadi produsen `kecil` di kampungnya.

Baca juga : PT Amerta Indah Otsuka Buka Lowongan Kerja, Cek Syaratnya

Sebelumnya, GM mengumumkan akan menutup empat pabriknya di AS, menyusul penghematan untuk mengantisipasi perubahan industri otomotif global.

Dengan menutup sebanyak empat pabrik dan tiga pabrik lainnya yang tersebar di sejumlah negara, GM mengklaim bisa menghemat biaya sekitar Rp87 triliun.

Baca juga : Ini Alasan Israel-AS Panik ICC Akan Rilis Perintah Tangkap Netanyahu?

"General Motors, yang dulunya Giant of Detroit, sekarang salah satu produsen mobil terkecil di sana," kata Trump dalam sebuah cuitan pada akun Twitter resminya seperti dilansir CNN Indonesia, Selasa (3/9/2019).

Trump mengatakan GM harus membuat keputusan agar namanya kembali `disegani` dengan memindahkan fasilitas produksi dari China ke Amerika Serikat.

Baca juga : Ini Tangisan Haru Usai Lolos ke Semifinal Uber Cup 2024

GM mencoba merespons cuitan Trump yang dinilai tidak mendasar itu.

"Operasi GM di Cina bukan ancaman bagi pekerjaan AS," kata perusahaan itu dalam lembar fakta.

Selain itu catatan perusahaan patungannya telah mengirim US$16 miliar pendapatan ekuitas kepada GM sejak 2010. Kemudian ada investasi senilai US$23 miliar dalam operasi di Amerika Serikat sejak 2009.

Dikabarkan tenaga kerja GM di AS telah merosot sekitar 4.000an sejak akhir 2018.

Berangnya Trump dengan GM muncul saat pembicaraan kontrak dengan serikat pekerja yang berasal dari tiga produsen otomotif Detroit yaitu GM, Ford, dan Fiat Chrysler.

Di China GM sudah menjual 3,6 juta kendaraan tahun lalu. Jumlah itu yang merupakan 43 persen dari penjualan GM di seluruh dunia. GM membukukan pendapatan ekuitas US$2 miliar dari operasi di China 2018.