Jakarta, - Partai Demokrat AS merebut mayoritas Senat dengan lebih dari 51 kursi, dan mengakhiri dominasi Partai Republik di Kongres. Hasil ini dipahami sebagai anjloknya dukungan bagi Trump di kantung-kantung suara konservatif.
Di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, Demokrat juga diproyeksikan meraih mayoritas. Sejumlah media Amerika, termasuk CNN, memperkirakan partai tersebut akan menguasai kamar legislatif itu meski penghitungan suara masih berlangsung ketika laporan ini diturunkan.
Pemilu paruh waktu dianggap sebagai ujian penting opini publik bagi Trump, hampir dua tahun setelah ia kembali ke Gedung Putih. Seluruh 435 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat dan 35 dari 100 kursi Senat diperebutkan dalam pemilihan ini. Sebelumnya, Partai Republik mengendalikan kedua kamar tersebut.
Trump mengatakan dirinya siap menerima hasil pemilu. Dalam wawancara dengan The New York Times, ia juga menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan Partai Demokrat.
"Kami akan bekerja sama dengan Demokrat dan menantikan kerja sama tersebut," jelas Trump.
Menang di Basis Tradisional Republik
Keberhasilan Demokrat merebut mayoritas Senat ditopang kemenangan di sejumlah negara bagian yang selama ini dikenal sebagai basis Partai Republik.
Di North Carolina, mantan Gubernur Roy Cooper berhasil memenangkan kursi Senat yang sebelumnya dikuasai Republik. Sementara di South Carolina, dokter anak Annie Andrews menjadi kandidat Demokrat pertama dalam lebih dari 20 tahun yang berhasil merebut kursi Senat.
Kemenangan penting lainnya terjadi di Texas. Politikus Demokrat berusia 37 tahun, James Talarico, mengalahkan kandidat Republik, Ken Paxton.
Hasil tersebut tergolong bersejarah karena untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, Texas kembali memiliki senator dari Partai Demokrat. Paxton sebelumnya mendapat dukungan langsung dari Trump, sementara miliarder teknologi Elon Musk mengucurkan lebih dari 150 juta dolar AS untuk mendukung kampanyenya.
Demokrat juga mencetak kemenangan bersejarah di Kansas. Untuk pertama kalinya sejak 94 tahun terakhir, partai itu berhasil memenangkan kursi Senat di negara bagian tersebut setelah Adam Hamilton mengungguli Roger Marshall.
Partai Republik juga kehilangan sejumlah kursi lain, termasuk di Ohio.
Di DPR AS, Demokrat juga mencatat tambahan kursi dari sedikitnya 12 daerah pemilihan yang sebelumnya dikuasai Republik. Pergeseran terjadi antara lain di Pennsylvania, North Carolina, New Jersey, dan Kentucky.
Agenda Trump Terancam Tersendat
Mayoritas Demokrat di Kongres berpotensi menyulitkan pemerintahan Trump dalam menjalankan agenda politiknya.
Jika menguasai DPR, Demokrat dapat menghambat berbagai rancangan undang-undang yang diajukan Gedung Putih serta meningkatkan tekanan dalam pembahasan anggaran negara.
Selain itu, mereka juga bisa membuka berbagai penyelidikan terhadap Trump dan pemerintahannya. Sejumlah isu yang kemungkinan menjadi sasaran antara lain bisnis keluarga Trump, kebijakan penegakan imigrasi, hingga proyek-proyek pembangunan yang menuai kontroversi.
Tokoh Demokrat Hakeem Jeffries bahkan berpeluang mencetak sejarah sebagai ketua DPR AS pertama yang berasal dari komunitas kulit hitam.
Di sisi lain, peluang munculnya kembali upaya pemakzulan terhadap Trump juga terbuka. Namun, proses pemakzulan tetap membutuhkan dukungan dua pertiga anggota Senat agar dapat berujung pada pemberhentian presiden dari jabatannya.
Ekonomi Jadi Faktor Penentu
Pemilu kali ini juga menjadi arena penilaian publik terhadap kinerja ekonomi pemerintahan Trump.
Berdasarkan jajak pendapat terhadap sekitar 100.000 pemilih, sebanyak 62 persen responden menyalahkan Trump atas kenaikan harga kebutuhan hidup. Sebanyak 37 persen mengaku tidak puas dengan kondisi negara, sementara 38 persen menyatakan kemarahan terhadap situasi saat ini.
Bagi 39 persen pemilih, persoalan ekonomi menjadi isu paling penting dalam menentukan pilihan.
Kenaikan tajam harga bahan bakar akibat konflik dengan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi persepsi publik. Di sejumlah wilayah AS, harga bensin dilaporkan melonjak lebih dari 70 persen.
Survei yang sama menunjukkan hampir dua pertiga responden menilai kebijakan tarif impor Trump justru merugikan perekonomian. Dalam urusan ekonomi, Demokrat memperoleh tingkat kepercayaan 43 persen, lebih tinggi dibanding Republik yang meraih 38 persen.
Sepanjang kampanye, Trump terlibat aktif mendukung kandidat-kandidat Republik. Ia bahkan beberapa kali meminta para pendukung membayangkan seolah dirinya ikut maju dalam pemilu tersebut.
Georgia Cetak Sejarah
Pemilihan gubernur juga menghadirkan sejumlah hasil yang mencuri perhatian.
Di Georgia, kandidat Demokrat Keisha Lance Bottoms mengalahkan Rick Jackson dari Partai Republik. Mantan wali kota Atlanta itu menjadi perempuan kulit hitam pertama yang terpilih sebagai gubernur Georgia.
Kemenangan tersebut sekaligus mengakhiri penantian Demokrat yang sejak 1998 belum pernah memenangkan pemilihan gubernur di negara bagian tersebut.
Bottoms menang meski lawannya menggelontorkan lebih dari 200 juta dolar AS dari dana pribadi untuk kampanye. Dalam kampanyenya, ia menjanjikan kenaikan upah minimum dan perluasan program asuransi kesehatan Medicaid.
Sementara itu, Partai Republik mempertahankan dominasinya di Florida. Kandidat yang didukung Trump, Byron Donalds, memenangkan pemilihan gubernur dan menjadi gubernur kulit hitam pertama di negara bagian tersebut.
Diwarnai Gangguan Teknis
Pelaksanaan pemilu tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sejumlah negara bagian melaporkan gangguan pada mesin pemungutan suara.
Di Westchester County, New York, masalah teknis menyebabkan banyak surat suara tidak dapat dipindai. Otoritas setempat memperkirakan hingga 250.000 surat suara terdampak.
Kontroversi juga muncul setelah Departemen Kehakiman AS mengerahkan sekitar 1.000 pengamat pemilu ke seluruh negara bagian. Partai Demokrat menilai langkah itu berpotensi menimbulkan intimidasi terhadap pemilih.
Namun pemerintah AS membantah tuduhan tersebut dan menyebut pengerahan pengamat itu sebagai operasi pengawasan pemilu terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Hasil pemilu paruh waktu ini menandai perubahan penting dalam peta politik Amerika Serikat. Selain menggeser keseimbangan kekuasaan di Kongres, kemenangan Demokrat juga berpotensi membatasi ruang gerak Presiden Donald Trump dalam menjalankan agenda pemerintahannya hingga akhir masa jabatan.