-
Pemerintah Indonesia akhirnya memiliki hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi (C551) dari Italia ternyata sudah dari beberapa bulan lalu dimedia sudah menuai sorotan tajam. Meski berlabel gratis, kapal perang tua tersebut dinilai berpotensi menjadi `beban berat` bagi anggaran pertahanan nasional di masa depan.
Salah satunya adalah Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, mengingatkan pemerintah agar tidak tergiur dengan embel-embel hibah tanpa perhitungan matang. Ia mengutip pepatah industri militer yang menyebut tidak ada yang lebih mahal daripada kapal gratis.
"Keputusan ini harus dikaji secara menyeluruh, tidak hanya dilihat dari nilai hibahnya," ujar TB Hasanuddin di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Tubagus (TB) Hasanuddin dalam Rapat Kerja Komisi I DPR RI bersama Menteri Pertahanan, Menteri Keuangan, Panglima TNI, serta para Kepala Staf Angkatan di Kompleks Parlemen, Senayan sekitar beberapa bulan sebelumnya , tepatnya bulan Mei 2026.
Berdasarkan analisis The National Interest, biaya perawatan tahunan kapal ini mencapai 5 juta euro atau sekitar Rp101 miliar. Jika pemerintah memutuskan untuk melakukan pembongkaran atau decommissioning, biayanya membengkak hingga 19 juta euro atau setara Rp387 miliar. Angka tersebut belum termasuk biaya operasional harian yang dipastikan sangat tinggi.
Masalah Usia dan Ketidakcocokan Armada
Selain faktor biaya, TB Hasanuddin menyoroti usia kapal yang sudah menyentuh 41 tahun sejak bertugas pada 1985. Dengan rata-rata masa pakai kapal perang di angka 30 hingga 40 tahun, Giuseppe Garibaldi praktis sudah berada di ujung usia operasionalnya.
"Kalaupun dilakukan modernisasi, kemungkinan hanya bisa digunakan sekitar 10 tahun ke depan dengan biaya yang tidak sedikit untuk pembaruan radar, sistem senjata, hingga pelatihan kru," tegas politisi PDI Perjuangan tersebut.
Persoalan lain yang tak kalah pelik adalah interoperabilitas. Kapal induk ini dirancang khusus untuk pesawat tempur jenis Short Take-Off and Vertical Landing (STOVL) seperti AV-8B Harrier II. Masalahnya, Indonesia saat ini tidak memiliki armada tersebut. Membeli pesawat baru yang kompatibel hanya akan menambah tekanan baru pada ruang fiskal negara.
Kutipan pengamat dari media sosial bu Vera membandingkan antara biaya kapal tua vs kapal baru
Simak Biaya Kapal Tua :
👉Usia kapal 41 tahun.
👉Biaya Perbaikan/Perawatan Rp7,2 hingga Rp16,8 T
👉Biaya Pemeliharaan Rp.101 M per bulan = Rp.1 Trilyun tahun.
👉BBM 1.8 Milyar/hari (jika status kapal jalan Berlayar)
👉Gaji dan Tunjangan kru 3.5 Milyar/bulan.
👉Kekuatan Masa pakai kapal tua diperkirakan 10 tahun
Simak Biaya Kapal Baru:
👉 1 unit Fregat baru Rp. 5 Trilyun.
👉 Setara 3 Fregat Baru
Rp. 15 Trilyun vs Perawatan/ Perbaikan 1 Kapal Tua Rp.16 Trilyun
Uang itu juga menghasilkan insinyur yang lebih hebat, galangan yang lebih maju
Diberitakan : Menhan dan Pejabat TNI Lihat Isi Kapal Induk KRI Sriwijaya, Awak Media tak Boleh Ikut.
Respons Kemhan: Gunakan Pendekatan Biaya Siklus Hidup
Menanggapi kritik tersebut, Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI memastikan bahwa setiap pengadaan alutsista, termasuk melalui mekanisme hibah, dilakukan secara hati-hati dan terukur.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menyatakan bahwa pemerintah belum menetapkan angka final terkait biaya perawatan karena masih dalam tahap verifikasi teknis yang komprehensif.
"Kemhan menggunakan pendekatan life cycle cost, yaitu mempertimbangkan seluruh aspek biaya sejak awal hingga operasional jangka panjang, termasuk logistik dan potensi modernisasi," jelas Rico kepada Inilah.com.
Ia menambahkan, berbagai skema pengelolaan tengah dipertimbangkan agar pemanfaatan kapal induk tersebut tetap efisien dan proporsional sesuai kebutuhan operasi TNI AL. Rico menjamin pemerintah akan mengedepankan prinsip akuntabilitas dan kepentingan nasional dalam mengambil keputusan akhir.
Sebelumnya, Parlemen Italia telah merestui rencana hibah ini pada 28 April 2026. Langkah Roma tersebut dipandang sebagai upaya mempererat hubungan bilateral sekaligus menghindari beban biaya penghapusan aset militer mereka yang sudah menua.