Dr. Roy T Pakpahan SH, Pemimpin Redaksi Law-Justice.co

Senyum di Arena Hut Kemerdekaan, Tapi Perang Dibalik Layar?

[INTRO]

Artikel law-justice.co pada Rabu, 19 Agustus 2026, menggambarkan momen ketika Prabowo Subianto, Joko Widodo, dan Gibran Rakabuming Raka duduk berdampingan dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. Prabowo berada di tengah, diapit Jokowi dan Gibran. Gestur ketiganya tampak hangat dan akrab. Pengamat politik Adi Prayitno bahkan menyebut terdapat “chemistry politik yang tidak bisa dibantah” dan menilai gestur ketiganya menunjukkan suasana yang “happy” dan hangat.

Sungguhpun demikian, keakraban Prabowo, Jokowi dan Gibran dalam panggung kenegaraan tidak semestinya buru-buru disimpulkan sebagai bukti bahwa seluruh persoalan politik di antara mereka telah selesai. Sebaliknya, juga tidak tepat jika langsung dianggap sebagai bukti adanya konflik tersembunyi. Yang menarik justru wilayah abu-abunya: sampai sejauh mana hubungan personal dan kepentingan politik ketiga tokoh itu masih berjalan searah?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan karena pemilu 2029 perlahan mulai menjadi horizon politik, meskipun kontestasinya masih jauh. Jika Prabowo ingin melanjutkan pemerintahan untuk periode kedua, jika Gibran memiliki kepentingan mempertahankan atau meningkatkan posisi politiknya, dan jika Jokowi masih memiliki pengaruh serta jaringan politik yang ingin dipertahankan, maka titik temu ketiganya akan terus diuji oleh waktu.

Maka, setidaknya ada tiga pertanyaan mendasar yang layak diajukan untuk membaca lebih jauh makna keakraban tiga tokoh tersebut:  1. Apakah keakraban Prabowo, Jokowi, dan Gibran benar-benar mencerminkan soliditas politik, atau hanya menunjukkan bahwa mereka masih membutuhkan satu sama lain?.  2. Jika Prabowo-Gibran tidak berlanjut pada 2029, apakah Jokowi dan Gibran akan tetap menjadi bagian dari barisan Prabowo atau justru membangun jalan politik sendiri?. 3. Apakah Pilpres 2029 akan menjadi pertarungan antara Prabowo dan kekuatan politik Jokowi-Gibran, atau justru menjadi arena untuk menguji siapa sebenarnya pemegang kendali politik?

Senyum Politik dan Persilangan Kepentingan

Soliditas politik tidak semata-mata dapat diukur dari seberapa akrab seseorang tersenyum, berjabat tangan, atau duduk berdampingan di depan kamera. Soliditas politik baru benar-benar teruji ketika kepentingan mulai berbeda, ketika pilihan politik harus ditentukan, dan ketika masing-masing pihak harus memilih antara kepentingan bersama atau kepentingan politiknya sendiri.

Prabowo-Gibran sendiri memiliki modal politik yang sangat kuat. Dalam Pilpres 2024, pasangan ini memperoleh 96.214.691 suara atau 58,59 persen suara sah nasional. Angka tersebut bukan sekadar statistik elektoral. Ia merupakan legitimasi politik yang membawa Prabowo dan Gibran ke tampuk kekuasaan untuk periode 2024–2029. Dengan modal sebesar itu, pemerintahan Prabowo-Gibran memiliki basis politik yang relatif kuat untuk menjalankan agenda pemerintahannya.

Tetapi politik tidak pernah hanya berbicara tentang siapa yang menang pada hari pemilihan. Politik juga berbicara tentang bagaimana kekuasaan dipertahankan, bagaimana koalisi dibangun, dan bagaimana masa depan politik disiapkan. Karena itu, hubungan Prabowo, Jokowi, dan Gibran tidak cukup dibaca sebagai hubungan personal antara seorang presiden, mantan presiden, dan wakil presiden. Di dalamnya terdapat kepentingan politik yang jauh lebih besar.

Prabowo tentu membutuhkan stabilitas pemerintahan dan dukungan politik agar agenda pemerintahannya dapat berjalan. Jokowi, meskipun sudah tidak lagi menduduki kursi kepresidenan, masih merupakan figur dengan pengaruh politik yang tidak dapat begitu saja diabaikan. Sementara Gibran berada pada posisi yang sangat strategis karena merupakan wakil presiden sekaligus figur yang potensial menjadi bagian penting dari konfigurasi politik nasional pada masa mendatang.

Dengan kata lain, ada sebuah titik temu kepentingan di antara ketiganya. Selama kepentingan tersebut masih beririsan, kerja sama politik akan menjadi pilihan yang rasional. Mereka tidak harus memiliki pandangan yang sama mengenai segala hal. Yang diperlukan adalah adanya cukup banyak kepentingan bersama yang membuat mereka tetap berada dalam satu barisan.

Karena itu pula, munculnya pembicaraan mengenai Pilpres 2029 sebenarnya tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang terlalu dini. Bahkan pada Juni 2026, Ketua DPP PSI Bestari Barus menyampaikan pernyataan bahwa Jokowi meminta PSI mengawal Prabowo-Gibran hingga dua periode. Pernyataan tersebut kemudian memunculkan berbagai respons dari partai politik. Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Gerindra Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah masih ingin fokus bekerja dan belum memikirkan Pilpres 2029.

Dua respons tersebut menunjukkan sesuatu yang menarik. Di satu sisi, ada pihak yang mulai berbicara mengenai keberlanjutan Prabowo-Gibran hingga dua periode. Di sisi lain, ada pihak yang justru berusaha menarik perhatian publik kembali kepada agenda pemerintahan saat ini. Artinya, meskipun Pilpres 2029 masih berada beberapa tahun di depan, isu mengenai siapa yang akan berkuasa dan dalam konfigurasi seperti apa sudah mulai memasuki ruang politik.

Lalu, apakah hal itu berarti hubungan Prabowo, Jokowi dan Gibran sedang tidak solid?. Belum tentu. Justru sebaliknya, pembicaraan mengenai dua periode dapat pula dibaca sebagai indikasi bahwa sebagian kekuatan politik masih menginginkan kesinambungan hubungan tersebut. Tetapi pada saat yang sama, munculnya wacana itu juga menunjukkan bahwa masa depan hubungan politik ketiganya tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi mengenai 2029.

Di sinilah kita perlu membedakan antara soliditas personal, soliditas pemerintahan dan soliditas kepentingan politik. Ketiganya bisa berjalan bersama, tetapi tidak selalu demikian. Seseorang dapat tetap memiliki hubungan personal yang baik dengan orang lain, tetapi mengambil keputusan politik yang berbeda. Begitu pula sebuah pemerintahan dapat berjalan stabil, sementara para aktor politik di dalamnya mulai menyiapkan posisi masing-masing untuk pertarungan berikutnya.

Karena itu, pernyataan Adi Prayitno bahwa “di panggung belakang kita nggak pernah tahu apa hubungan para tokoh ini baik seperti di panggung depan atau justru sebaliknya” patut ditempatkan sebagai sebuah peringatan untuk tidak terlalu cepat membaca politik hanya dari apa yang terlihat di permukaan.

Foto tiga tokoh yang tersenyum bersama memang dapat menjadi simbol persatuan. Tetapi foto tidak pernah mampu menjelaskan seluruh kalkulasi politik yang ada di baliknya. Kamera hanya menangkap beberapa detik dari sebuah peristiwa, sementara politik bekerja dalam rentang waktu yang jauh lebih panjang.

Maka, pertanyaan yang lebih tepat bukan apakah senyum mereka palsu atau tulus. Bisa jadi senyum itu memang tulus. Bisa jadi pula hubungan mereka memang baik-baik saja. Persoalannya adalah apakah hubungan baik tersebut akan bertahan ketika kepentingan politik mulai memasuki fase yang berbeda.

Sebab, dalam politik, ketulusan personal tidak selalu identik dengan kesamaan kepentingan politik. Seorang sahabat politik hari ini belum tentu menjadi mitra politik untuk selamanya. Demikian pula, perbedaan kepentingan politik tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai musuh.

Justru di situlah letak dinamika hubungan Prabowo, Jokowi dan Gibran. Mereka mungkin memang masih membutuhkan satu sama lain. Prabowo membutuhkan stabilitas dan dukungan politik; Jokowi membutuhkan ruang untuk mempertahankan pengaruh; sementara Gibran membutuhkan ekosistem politik yang memungkinkan kariernya terus berkembang. Selama kebutuhan-kebutuhan tersebut saling bertemu, soliditas akan menjadi pilihan yang menguntungkan bagi semua pihak.

Tetapi bagaimana jika suatu saat kebutuhan tersebut tidak lagi berada pada titik yang sama?. Di situlah panggung politik 2029 mulai menjadi penting. Sebab, yang sedang diuji bukan sekadar hubungan personal tiga tokoh tersebut, melainkan seberapa kuat kepentingan mereka dapat dipertahankan dalam satu kapal ketika arah pelayaran politik mulai berbeda.

Maka, senyum di panggung Istana boleh saja dibaca sebagai simbol keakraban. Namun politik mengajarkan satu hal: yang menentukan bukan siapa yang tersenyum bersama hari ini, melainkan siapa yang masih berdiri dalam satu barisan ketika pilihan politik yang sesungguhnya harus dibuat

Jika Jalan Politik Berpisah

Sebagai wakil presiden, Gibran saat ini merupakan bagian dari pemerintahan Presiden Prabowo. Tetapi secara politik, ia juga merupakan figur yang memiliki kepentingan dan masa depan politiknya sendiri. Karena itu, apabila pada akhirnya Prabowo tidak memilih Gibran sebagai calon wakil presiden untuk periode berikutnya, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal siapa penggantinya. Pertanyaan yang jauh lebih besar adalah: ke mana Gibran akan melangkah setelah itu?

Apakah ia akan tetap menjadi bagian dari barisan politik Prabowo dan menerima keputusan tersebut sebagai bagian dari dinamika politik? Ataukah ia bersama jaringan politik yang selama ini dibangun Jokowi akan mengambil jalan yang berbeda?

Kemungkinan kedua inilah yang membuat pernyataan Adi Prayitno mengenai “panggung belakang” menjadi relevan. Ketika ia menyebut adanya kemungkinan Jokowi dan Gibran memiliki opsi politik lain apabila skenario Prabowo-Gibran dua periode tidak terwujud, yang dipersoalkan sesungguhnya bukan sekadar hubungan personal antartokoh. Yang dipertaruhkan adalah arah dan pusat gravitasi kekuasaan menjelang Pilpres 2029.

Apalagi, sepanjang 2026 mulai muncul berbagai pembacaan mengenai kemungkinan konfigurasi politik alternatif. Gibran bahkan mulai diperbincangkan dalam sejumlah analisis sebagai figur yang berpotensi memiliki jalan politik sendiri apabila tidak kembali menjadi calon wakil presiden. Di sisi lain, Jokowi juga tetap aktif membangun komunikasi politik. Safari politik dan kedekatannya dengan PSI, misalnya, dibaca sebagian pengamat sebagai bagian dari upaya mempertahankan pengaruh politik sekaligus memastikan bahwa jaringan politik yang telah dibangun tidak kehilangan arah setelah dirinya meninggalkan Istana.

Tentu saja, langkah-langkah tersebut tidak serta-merta dapat dijadikan bukti bahwa Jokowi sedang menyiapkan perlawanan terhadap Prabowo. Menarik kesimpulan sejauh itu justru akan terlalu dini. Tetapi dalam politik, sebuah langkah tidak harus berarti deklarasi perang untuk memiliki makna strategis. Membangun komunikasi, menjaga jaringan, mempertahankan loyalitas pendukung, dan memastikan eksistensi sebuah kendaraan politik dapat menjadi bagian dari persiapan menghadapi berbagai kemungkinan.

Karena itu, dukungan Jokowi terhadap Prabowo-Gibran dua periode dapat dibaca dalam dua perspektif sekaligus. Perspektif pertama adalah perspektif literal: Jokowi memang menginginkan keberlanjutan pemerintahan Prabowo-Gibran. Tidak ada alasan untuk mengingkari pernyataan tersebut. Tetapi perspektif kedua adalah perspektif politik yang lebih luas: dengan memastikan Gibran tetap berada di pusat konfigurasi kekuasaan, Jokowi sekaligus memastikan bahwa putranya memiliki posisi strategis dalam politik nasional, apa pun perkembangan konstelasi politik ke depan.

Di sinilah batas antara loyalitas dan kepentingan menjadi menarik untuk dibicarakan.Dalam politik, seseorang dapat benar-benar loyal kepada mitranya sekaligus tetap memikirkan masa depan politiknya sendiri. Keduanya tidak selalu bertentangan. Jokowi bisa mendukung Prabowo-Gibran dua periode dan pada saat yang sama tetap mempersiapkan berbagai kemungkinan politik bagi Gibran. Sebab, politik yang rasional selalu menyiapkan lebih dari satu skenario.

Karena itu, jika suatu saat Prabowo memutuskan bahwa Gibran bukan lagi pasangan politiknya pada 2029, belum tentu hubungan politik Jokowi dan Prabowo otomatis berakhir. Tetapi juga tidak ada jaminan bahwa Jokowi dan Gibran akan selamanya berada dalam satu barisan dengan Prabowo. Mereka bisa saja tetap bekerja sama, bisa melakukan negosiasi politik, atau bahkan memilih jalan yang berbeda apabila kepentingan politik sudah tidak lagi bertemu.

Di sinilah ungkapan “loyalitas dalam politik” harus dibaca secara realistis. Loyalitas politik bukan selalu berarti kesetiaan tanpa batas. Sering kali loyalitas bertahan selama terdapat kepentingan bersama, visi yang sejalan, dan ruang yang cukup bagi masing-masing pihak untuk mempertahankan kepentingannya.

Maka, persoalan sesungguhnya bukan apakah Jokowi dan Gibran loyal kepada Prabowo hari ini. Mereka bisa saja memang loyal. Persoalan yang lebih menentukan adalah apakah loyalitas itu akan tetap bertahan ketika keputusan politik 2029 mulai menyentuh kepentingan paling mendasar masing-masing pihak.

Jika Prabowo-Gibran kembali berpasangan, maka banyak spekulasi mengenai potensi perpecahan mungkin akan kehilangan relevansinya. Tetapi jika Prabowo memilih pasangan lain, sementara Gibran memiliki ambisi politik yang semakin kuat dan Jokowi tetap memiliki jaringan politik yang signifikan, maka peta politik akan berubah secara dramatis.

Pada titik itulah senyum di panggung akan diuji oleh realitas di belakang panggung.Sebab, seperti diingatkan Adi Prayitno, publik hanya melihat apa yang tampak di depan. Sementara di belakang panggung, para aktor politik tentu melakukan kalkulasi tentang masa depan. Mereka menghitung kekuatan, membaca peluang, mengukur risiko, dan menyiapkan berbagai kemungkinan.

Karena itu, pertanyaan “apakah Jokowi dan Gibran akan tetap bersama Prabowo atau membangun jalan sendiri?” sesungguhnya bukan pertanyaan yang harus dijawab hari ini. Jawabannya baru akan terlihat ketika kepentingan politik benar-benar memasuki titik persimpangan.

Dan justru di situlah letak misteri politik menuju Pilpres 2029: apakah Prabowo, Jokowi dan Gibran akan tetap menjadi tiga aktor dalam satu skenario, atau masing-masing mulai menulis skenario politiknya sendiri?

Jika yang kedua terjadi, maka senyum yang terlihat hari ini bukanlah bukti bahwa “perang” sedang berlangsung. Tetapi ia juga bukan jaminan bahwa perang kepentingan tidak akan pernah terjadi. Sebab dalam politik, teman seperjalanan hari ini belum tentu menjadi pasangan seperjuangan esok hari.

Siapa Pemegang Kendali Menuju 2029?

Saat ini Prabowo memiliki kekuatan sebagai presiden dan sebagai figur yang memenangkan Pilpres 2024. Jokowi memiliki pengalaman dua periode sebagai presiden, jaringan politik, serta pengaruh yang tidak dapat diabaikan. Sementara Gibran memiliki posisi sebagai wakil presiden sekaligus modal politik yang berpotensi terus berkembang. Ketiganya memiliki sumber daya politik yang berbeda.

Maka, pertarungan 2029 jika memang terjadi tidak harus berbentuk Prabowo melawan Jokowi secara langsung. Bisa jadi pertarungan sesungguhnya berlangsung melalui perebutan pengaruh atas partai politik, koalisi, calon wakil presiden, basis pemilih, jaringan relawan, dan opini publik.

Dengan demikian, pertanyaan “siapa melawan siapa?” mungkin bukan pertanyaan yang paling tepat. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: siapa yang mampu menentukan siapa berpasangan dengan siapa, siapa berada di dalam koalisi mana, dan siapa yang akhirnya menjadi pusat kompromi politik nasional?

Dalam politik, kekuasaan tidak selalu terlihat dari siapa yang berdiri paling depan di atas panggung. Kadang-kadang kekuasaan justru terlihat dari siapa yang mampu menentukan siapa yang boleh berada di atas panggung.

Di sinilah isu mengenai Gibran menjadi sangat penting. Jika Gibran kembali menjadi calon wakil presiden Prabowo pada 2029, maka dapat dikatakan bahwa poros Prabowo-Jokowi-Gibran masih memiliki titik temu yang kuat. Tetapi jika Gibran tidak dipilih, lalu tetap mampu mempertahankan pengaruh dan membangun basis politik sendiri, maka situasinya akan jauh lebih kompleks.

Bukan tidak mungkin, pada titik tertentu, publik akan melihat munculnya dua kekuatan yang sama-sama memiliki legitimasi politik: Prabowo dengan kekuatan institusional dan jaringan pemerintahannya, serta Jokowi-Gibran dengan jaringan politik dan basis dukungan yang mereka miliki.

Namun sekali lagi, itu baru kemungkinan. Sampai sekarang tidak ada bukti bahwa Prabowo, Jokowi, dan Gibran sedang mempersiapkan pertarungan terbuka. Bahkan Partai Gerindra pada Juli 2026 menegaskan bahwa hubungan Prabowo dan Gibran saling melengkapi dan kompak. Pernyataan tersebut tentu harus ditempatkan sebagai fakta politik yang tidak boleh diabaikan.

Karena itu, istilah “perang di belakang layar” dalam tulisan ini sebaiknya tidak dipahami sebagai kesimpulan bahwa perang politik benar-benar sedang berlangsung. Kata “perang” lebih tepat digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan kemungkinan kompetisi kepentingan dan perebutan pengaruh yang lazim terjadi menjelang sebuah kontestasi politik besar.

Sebab, politik selalu mengenal kemungkinan. Mereka yang hari ini berada dalam satu barisan bisa saja tetap bersama sampai akhir. Tetapi mereka juga bisa berpisah ketika kepentingan tidak lagi menemukan titik temu.

Dan apabila itu terjadi, Pilpres 2029 bukan lagi sekadar pertanyaan tentang siapa yang akan menjadi presiden dan wakil presiden. Ia akan menjadi ujian terhadap satu hal yang lebih mendasar: siapa sebenarnya yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan konfigurasi kekuasaan Indonesia?

Apakah Prabowo dengan legitimasi elektoral dan kekuatan pemerintahannya? Apakah Jokowi dengan jaringan politik dan pengaruh yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun? Apakah Gibran sebagai generasi baru yang berada tepat di pusat kekuasaan? Atau justru partai politik dan rakyat pemilih yang pada akhirnya menentukan ke mana arah kekuasaan bergerak?

Maka, bisa jadi persoalan terbesar menjelang 2029 bukanlah apakah Prabowo akan “berperang” dengan Jokowi-Gibran. Persoalan sebenarnya adalah apakah ketiganya mampu mempertahankan kepentingan dalam satu orbit politik ketika kepentingan tersebut mulai diuji oleh ambisi, kalkulasi elektoral, dan pilihan tentang masa depan.

Senyum di panggung boleh jadi memang tulus. Keakraban boleh jadi memang nyata. Tetapi dalam politik, persahabatan tidak selalu menghapus kompetisi, dan perbedaan kepentingan tidak selalu berarti permusuhan.

Karena itu, publik tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa “perang di belakang layar” sedang berlangsung. Yang lebih penting adalah terus mengamati siapa yang sedang membangun jaringan, siapa yang sedang mengumpulkan kekuatan, siapa yang mulai menentukan arah koalisi, dan siapa yang pada akhirnya memiliki kemampuan paling besar untuk menentukan masa depan politik Indonesia.

Sebab pada akhirnya, panggung Pilpres 2029 bukan hanya akan menentukan siapa yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi juga siapa yang sesungguhnya memiliki kendali untuk menentukan siapa yang duduk di sana.