Dr. Roy T Pakpahan SH, Pemimpin Redaksi Law-Justice.co

81 Tahun Merdeka Menuju Indonesia Emas 2045; Jadikah Negara Besar?

[INTRO]

Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia semestinya tidak berhenti pada upacara, pengibaran Sang Merah Putih, perlombaan, dan seremoni kenegaraan. Kemerdekaan adalah kesempatan untuk bercermin: setelah 81 tahun merdeka, sesungguhnya sudah sejauh mana Indonesia berjalan?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena hanya tersisa sekitar 19 tahun menuju 2045, tahun ketika Indonesia genap berusia satu abad. Selama ini kita sering berbicara tentang Indonesia Emas 2045 seolah-olah masa depan tersebut akan datang dengan sendirinya. Padahal, usia 100 tahun tidak otomatis membuat sebuah negara menjadi emas.

Indonesia bisa saja berusia satu abad sebagai negara dengan ekonomi besar, penduduk lebih dari 280 juta jiwa, kekayaan sumber daya alam melimpah, dan posisi geografis yang strategis. Namun, semua itu tidak cukup jika kualitas manusianya tertinggal, industrinya rapuh, teknologinya bergantung pada negara lain, ketimpangan masih lebar, institusinya lemah, dan kebijakan publik lebih sering tunduk pada kepentingan jangka pendek.

Karena itu, pertanyaan paling jujur menjelang kemerdekaan ke-81 bukanlah seberapa besar potensi Indonesia?”, melainkan “mengapa setelah 81 tahun merdeka begitu banyak potensi kita belum berubah menjadi kekuatan nyata?”

Potensi Besar, Hasil yang Belum Sebanding

Indonesia sesungguhnya memiliki hampir semua modal yang dibutuhkan untuk menjadi kekuatan besar. Kita memiliki wilayah yang luas, sumber daya alam, posisi strategis di antara Samudra Hindia dan Pasifik, pasar domestik yang besar, bonus demografi, serta peran penting di ASEAN dan Indo-Pasifik.

Tetapi sejarah pembangunan mengajarkan satu hal: potensi bukan prestasi.Minyak, gas, batu bara, nikel, kelapa sawit, hasil laut, dan berbagai komoditas lainnya tidak dengan sendirinya menciptakan kesejahteraan. Sumber daya alam hanya menjadi kekuatan apabila negara memiliki kemampuan menguasai teknologi, mengembangkan industri pengolahan, menciptakan rantai pasok nasional, dan memastikan nilai tambah sebesar mungkin tinggal di dalam negeri.

Di sinilah kita perlu kritis terhadap paradigma pembangunan yang terlalu mudah merasa puas hanya karena produksi meningkat atau investasi masuk. Investasi memang penting. Hilirisasi juga penting. Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih menentukan: siapa yang menguasai teknologi? Siapa yang menikmati nilai tambah terbesar? Seberapa besar industri nasional tumbuh? Berapa banyak pekerjaan berkualitas tercipta? Dan apakah Indonesia benar-benar naik kelas dalam rantai nilai global?

Jangan sampai kita hanya mengubah posisi dari eksportir bahan mentah menjadi eksportir produk setengah jadi, sementara teknologi, pembiayaan, mesin, dan keuntungan strategis tetap berada di tangan pihak lain.Jika demikian, kita memang melakukan industrialisasi, tetapi belum tentu mencapai kedaulatan ekonomi.

Bonus Demografi: Berkah atau Petaka?

Bonus demografi sering disebut sebagai salah satu modal terbesar Indonesia menuju 2045. Namun, bonus demografi bukan hadiah otomatis. Penduduk usia produktif yang besar hanya menjadi keuntungan jika mereka sehat, berpendidikan, terampil, produktif, dan memperoleh pekerjaan yang layak.

Jika tidak, bonus demografi justru dapat berubah menjadi tekanan sosial. Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan manusia tidak cukup dilihat dari jumlah sekolah, jumlah perguruan tinggi, atau angka partisipasi pendidikan. Yang lebih penting adalah kualitas pembelajaran dan relevansinya terhadap perubahan dunia.

Kita sedang memasuki era ketika kecerdasan buatan, otomasi, robotika, bioteknologi, komputasi, energi baru, dan berbagai teknologi lainnya akan mengubah struktur pekerjaan. Pertanyaannya: apakah sistem pendidikan Indonesia sedang mempersiapkan manusia untuk menghadapi perubahan tersebut, atau masih mempersiapkan generasi untuk dunia kerja masa lalu?

Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang pandai mengerjakan ujian. Indonesia membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, menciptakan inovasi, bekerja lintas disiplin, memahami teknologi, berkomunikasi, berkolaborasi, sekaligus memiliki karakter dan integritas.

Lebih dari itu, Indonesia membutuhkan ekosistem yang membuat anak-anak muda terbaiknya tidak merasa bahwa satu-satunya jalan menuju masa depan adalah mencari kesempatan di luar negeri.

Kita Terlalu Sering Mengganti Visi dengan Slogan

Indonesia memiliki banyak dokumen perencanaan pembangunan, target besar, dan jargon kebijakan. Namun persoalan fundamental kita bukan kekurangan visi.Kita justru sering kekurangan konsistensi.Pembangunan jangka panjang membutuhkan kesinambungan kebijakan lintas pemerintahan. Infrastruktur, pendidikan, riset, industrialisasi, energi, pangan, dan pengembangan manusia tidak dapat menghasilkan perubahan besar hanya dalam satu periode politik.

Inilah salah satu kritik penting terhadap cara kita mengelola pembangunan.Kita terlalu mudah terjebak pada orientasi jangka pendek. Kebijakan yang manfaatnya baru terlihat 10 atau 20 tahun kemudian sering kalah menarik dibandingkan program yang hasilnya dapat segera dipamerkan.

Padahal, negara besar dibangun melalui kesabaran strategis.Jepang, Korea Selatan, China, Singapura, dan berbagai negara lainnya tidak menjadi kuat dalam semalam. Mereka membangun institusi, industri, pendidikan, teknologi, infrastruktur, dan sumber daya manusia secara konsisten selama puluhan tahun.

Indonesia juga membutuhkan kesabaran strategis semacam itu. Jika setiap pergantian pemerintahan selalu diikuti perubahan prioritas yang terlalu besar, maka visi 2045 akan tetap menjadi dokumen indah yang kalah oleh kepentingan politik lima tahunan.

Geopolitik Dunia Berubah, Indonesia Jangan Hanya Menjadi Penonton

Dunia pada 2026 jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Persaingan Amerika Serikat dan China, konflik geopolitik, perang dagang, perebutan teknologi, keamanan rantai pasok, energi, pangan, perubahan iklim, hingga perang siber menunjukkan bahwa kekuatan sebuah negara tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah tank dan kapal perang.Teknologi, data, energi, pangan, industri, keuangan, dan kemampuan mengendalikan rantai pasok kini merupakan bagian dari kekuatan nasional.

Dalam konteks tersebut, politik luar negeri bebas dan aktif tetap relevan. Namun bebas dan aktif tidak boleh dimaknai sebagai sekadar menjaga hubungan baik dengan semua pihak.

Politik luar negeri harus memiliki daya tawar.Indonesia harus mampu bekerja sama dengan Amerika Serikat, China, Jepang, India, Uni Eropa, Australia, Timur Tengah, dan berbagai kekuatan lainnya tanpa kehilangan kemampuan menentukan kepentingan sendiri.

Namun diplomasi yang kuat membutuhkan fondasi domestik yang kuat pula.Sulit menjadi kekuatan strategis jika industri pertahanan masih bergantung pada teknologi asing, energi rentan terhadap gejolak global, teknologi digital didominasi perusahaan luar, dan industri nasional belum menguasai rantai pasok strategis.

Karena itu, diplomasi dan pembangunan nasional tidak boleh dipisahkan. Diplomasi yang kuat lahir dari negara yang memiliki kapasitas ekonomi, teknologi, pertahanan, dan institusi yang kuat.

Ketahanan Pangan dan Energi Bukan Sekadar Urusan Ekonomi

Perubahan geopolitik dunia juga menunjukkan bahwa pangan dan energi merupakan instrumen kekuasaan.Negara yang tidak mampu memastikan kebutuhan pangan rakyatnya akan mudah terpengaruh oleh gejolak global. Demikian pula negara yang terlalu rentan terhadap perubahan harga dan pasokan energi.

Indonesia harus membangun ketahanan pangan yang lebih komprehensif. Persoalannya bukan hanya produksi beras, tetapi juga kesejahteraan petani, regenerasi petani, produktivitas lahan, teknologi pertanian, irigasi, distribusi, penyimpanan, logistik, diversifikasi pangan, gizi, dan kemampuan menghadapi perubahan iklim.

Demikian pula energi. Indonesia membutuhkan energi yang murah, aman, berkelanjutan, sekaligus mendukung industrialisasi.Transisi energi tidak boleh sekadar menjadi slogan hijau. Ia harus menjadi strategi industri nasional.

Energi baru dan terbarukan harus dikembangkan bukan hanya untuk mengurangi emisi, tetapi juga untuk menciptakan industri, lapangan kerja, teknologi, dan keunggulan ekonomi baru.

Dengan kata lain, Indonesia jangan sampai hanya menjadi pasar teknologi hijau. Indonesia harus menjadi salah satu produsen dan penguasa teknologinya.Masalah Terbesar Kita Mungkin Bukan Kurangnya Sumber Daya, Melainkan Kualitas Institusi

Di balik seluruh perdebatan mengenai ekonomi, teknologi, pangan, energi, dan geopolitik terdapat satu persoalan yang sering kurang mendapatkan perhatian: institusi. Negara dengan sumber daya terbatas dapat menjadi maju apabila memiliki institusi yang efektif, hukum yang dapat dipercaya, birokrasi yang profesional, kebijakan yang konsisten, dan tata kelola yang baik. Sebaliknya, negara dengan sumber daya melimpah dapat terjebak dalam stagnasi jika institusinya lemah.Karena itu, perjalanan menuju Indonesia Emas harus diikuti reformasi kelembagaan yang serius.

Kita membutuhkan birokrasi yang bekerja berdasarkan kompetensi, bukan kedekatan. Regulasi yang memberikan kepastian, bukan ketidakpastian. Penegakan hukum yang memberikan rasa keadilan, bukan persepsi bahwa hukum dapat berbeda tergantung siapa yang berhadapan dengannya.

Tanpa institusi yang kuat, berbagai program pembangunan akan selalu berhadapan dengan persoalan yang sama: korupsi, inefisiensi, konflik kepentingan, kebijakan yang tidak konsisten, dan rendahnya kepercayaan publik. Indonesia Emas tidak mungkin dibangun hanya dengan proyek fisik. Ia harus dibangun dengan kualitas institusi.

Jangan Sampai Demokrasi Kehilangan Substansinya

Kemajuan ekonomi juga tidak boleh dipisahkan dari kualitas demokrasi. Indonesia telah menempuh perjalanan panjang dalam demokratisasi. Namun demokrasi tidak cukup hanya diukur dari keberadaan pemilu dan pergantian kekuasaan.

Demokrasi juga membutuhkan kebebasan berpendapat, pers yang sehat, masyarakat sipil yang kuat, lembaga negara yang saling mengawasi, serta ruang publik yang memungkinkan kritik berkembang tanpa rasa takut.

Kritik bukan musuh pembangunan. Justru negara yang ingin menjadi besar harus mampu menerima kritik. Sebab kebijakan yang tidak pernah dikritik bukan berarti selalu benar; bisa jadi masyarakat sudah kehilangan ruang untuk mengkritiknya.

Menuju 2045, Indonesia membutuhkan demokrasi yang matang: demokrasi yang tidak hanya menghasilkan kompetisi politik, tetapi juga menghasilkan pemerintahan yang efektif dan kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan jangka panjang.

Pertahanan Nasional Harus Mengikuti Perubahan Zaman

Indonesia juga perlu memikirkan kembali konsep pertahanan nasional. Ancaman terhadap negara tidak lagi hanya berupa invasi militer. Ancaman dapat muncul melalui serangan siber, disinformasi, gangguan infrastruktur digital, ketergantungan teknologi, gangguan rantai pasok, krisis energi, hingga konflik di wilayah maritim.

Sebagai negara kepulauan dengan posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia membutuhkan kekuatan pertahanan yang mampu melindungi wilayah sekaligus menjaga kepentingan ekonomi dan sumber daya nasional.

Tetapi modernisasi pertahanan tidak boleh berhenti pada membeli alutsista. Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa besar kemampuan Indonesia menguasai teknologi pertahanan?. Jika setiap peningkatan kekuatan pertahanan hanya diterjemahkan menjadi pembelian dari luar negeri, maka kita memperkuat pertahanan tanpa sepenuhnya memperkuat kemandirian strategis. Indonesia membutuhkan industri pertahanan yang mampu melakukan riset, produksi, integrasi sistem, dan pengembangan teknologi secara berkelanjutan.

2045 Harus Menjadi Target yang Bisa Diukur

Salah satu kelemahan wacana Indonesia Emas adalah kecenderungannya menjadi narasi yang terlalu abstrak.Kita mengatakan ingin menjadi negara maju. Tetapi bagaimana mengukurnya?. Apakah melalui pendapatan per kapita? Produktivitas tenaga kerja? Kualitas pendidikan? Kesehatan? Kemiskinan? Ketimpangan? Kekuatan industri? Kapasitas riset? Penguasaan teknologi? Kualitas demokrasi? Ketahanan energi? Ketahanan pangan? Atau semuanya?

Indonesia membutuhkan indikator keberhasilan yang konkret dan transparan. Masyarakat harus dapat melihat setiap beberapa tahun apakah Indonesia benar-benar bergerak menuju target tersebut atau justru berjalan di tempat.Dengan demikian, Indonesia Emas bukan sekadar slogan nasional, melainkan kontrak antargenerasi.

Pemerintah hari ini memiliki tanggung jawab kepada generasi yang akan hidup pada 2045. Demikian pula setiap kebijakan yang dibuat sekarang harus dipertanyakan dampaknya terhadap generasi yang bahkan belum memasuki dunia kerja.

Kemerdekaan Abad ke-21 Adalah Kemampuan Menentukan Nasib Sendiri

Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa berjuang untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan. Hari ini bentuk perjuangannya berbeda. Kemerdekaan abad ke-21 bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan fisik. Kemerdekaan juga berarti memiliki kemampuan menentukan pilihan sendiri.

Kita merdeka ketika mampu memberi makan rakyat tanpa terlalu rentan terhadap guncangan eksternal. Kita merdeka ketika mampu menghasilkan teknologi, bukan sekadar menjadi pengguna. Kita merdeka ketika industri nasional mampu bersaing di pasar global.Kita merdeka ketika anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan berkualitas tanpa memandang latar belakang sosial.

Kita merdeka ketika hukum memberikan keadilan dan institusi negara bekerja untuk kepentingan publik. Kita merdeka ketika politik luar negeri mampu menjaga kepentingan nasional tanpa terseret menjadi satelit kekuatan besar. Dan kita merdeka ketika kekayaan alam Indonesia benar-benar menjadi sumber kemakmuran rakyat, bukan sekadar angka besar dalam statistik ekspor.

81 Tahun Merdeka: Saatnya Berhenti Terlalu Puas dengan Potensi

Pada akhirnya, persoalan Indonesia bukan apakah kita memiliki modal untuk menjadi negara besar. Kita jelas memilikinya. Persoalannya adalah apakah kita memiliki keberanian politik, kualitas kepemimpinan, konsistensi kebijakan, kekuatan institusi, dan kapasitas manusia untuk mengubah modal tersebut menjadi kekuatan nyata.Karena itu, HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia harus menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar selebrasi.

Kita perlu berani mengatakan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Kita perlu mengakui bahwa pembangunan belum selalu menghasilkan pemerataan. Kita perlu mengkritisi kualitas pendidikan, produktivitas ekonomi, ketergantungan teknologi, ketahanan pangan dan energi, kualitas institusi, serta konsistensi kebijakan jangka panjang. Kritik bukan bentuk ketidakcintaan kepada Indonesia. Sebaliknya, kritik adalah bentuk kecintaan kepada bangsa yang ingin kita lihat menjadi lebih baik.

Indonesia tidak membutuhkan optimisme kosong. Indonesia membutuhkan optimisme yang disertai evaluasi dan kerja nyata.Sebab 2045 bukanlah hadiah yang akan datang hanya karena kita terus mengucapkan istilah Indonesia Emas. Ia harus diperjuangkan.

Jika generasi 1945 merebut kemerdekaan dengan pengorbanan, maka generasi hari ini memiliki tugas untuk memastikan kemerdekaan tersebut menghasilkan kedaulatan, kesejahteraan, keadilan, dan martabat.

Karena itu, pertanyaan terbesar menjelang usia satu abad Indonesia bukan sekadar apakah Indonesia akan menjadi negara maju?”.Pertanyaannya jauh lebih mendasar:Apakah setelah satu abad merdeka, Indonesia benar-benar mampu menentukan nasibnya sendiri?

Jika jawabannya ya, maka Merah Putih pada 2045 bukan hanya akan berkibar sebagai simbol sebuah negara yang telah berusia 100 tahun. Ia akan berkibar sebagai simbol sebuah bangsa yang akhirnya mampu mengubah potensi menjadi kekuatan, kekayaan menjadi kesejahteraan, demokrasi menjadi pemerintahan yang bermartabat, dan kemerdekaan menjadi kedaulatan yang nyata. Indonesia Emas tidak boleh sekadar menjadi mimpi tentang masa depan. Ia harus menjadi hasil dari keberanian kita mengoreksi hari ini.