Polri Kerahkan SAR Brimob dan Tim DVI Tangani Gempa Flores

- Polri memperkuat operasi penanganan gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan mengerahkan SAR Brimob, tim kesehatan, DVI, hingga anjing pelacak K9. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pencarian dan evakuasi korban di tengah gangguan komunikasi di sejumlah wilayah.

Mabes Polri memperkuat penanganan darurat pascagempa yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) SAR Brimob dari Pasukan Pelopor disiapkan untuk diberangkatkan bersama tim kesehatan, Disaster Victim Identification (DVI), dan anjing pelacak K9.

Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir mengatakan jajaran Polri saat ini memprioritaskan penyelamatan dan evakuasi masyarakat terdampak. Mabes Polri dan Polda NTT juga terus berkoordinasi untuk memenuhi kebutuhan penanganan di lapangan. "Polri tentu berempati terhadap masyarakat yang terdampak gempa di Flores. Polri hadir dan terus memberikan dukungan dalam proses penanganan, khususnya penyelamatan dan evakuasi masyarakat," kata Isir dalam keterangannya, Sabtu (15/8) sebagaimana dilansir Detik.

Menurut Isir, Polda NTT telah mengerahkan personel untuk menyisir sejumlah lokasi terdampak. Namun, proses pendataan korban dan kerusakan masih menghadapi kendala akibat gangguan jaringan komunikasi di sejumlah wilayah Flores. "Yang paling utama saat ini adalah keselamatan masyarakat. Untuk data korban dan kerusakan masih terus dihimpun dan diverifikasi karena kondisi di lapangan masih dinamis," ujarnya.

Polri juga menyiagakan dukungan dari Polda NTB, Polda Bali, dan Polda Jawa Timur. Kapal tipe A serta pesawat CN-295 disiapkan untuk mendukung mobilisasi logistik dan bantuan sosial dari Kapolri.

Selain personel, Polri mengirimkan dukungan komunikasi berupa 10 unit WiFi portable Wontech. Bantuan tahap awal juga meliputi 10 set tenda pleton dan 240 dus makanan cepat saji. Isir mengatakan seluruh kekuatan akan dikerahkan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan untuk mempercepat pencarian, pertolongan, dan penanganan korban. "Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya. Dalam kondisi seperti ini, informasi resmi sangat penting agar tidak menimbulkan kepanikan," katanya.