[INTRO]
Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Prancis telah menewaskan sekitar 2.000 orang hanya dalam waktu sepekan. Suhu yang sangat tinggi menyebabkan meningkatnya risiko kesehatan, terutama bagi lansia, anak-anak, dan warga yang memiliki penyakit bawaan.
Pemerintah Prancis telah mengeluarkan peringatan cuaca dan meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan saat suhu berada di puncaknya. Sejumlah fasilitas umum juga dibuka sebagai tempat berlindung bagi warga dari cuaca panas.
Para ahli menyebut gelombang panas yang semakin sering terjadi merupakan salah satu dampak perubahan iklim. Selain meningkatkan angka kematian, cuaca ekstrem juga memicu kebakaran hutan, mengganggu aktivitas ekonomi, dan membebani sistem layanan kesehatan di berbagai wilayah Eropa.
Otoritas setempat terus mengimbau masyarakat untuk menjaga asupan cairan, menghindari paparan sinar matahari secara langsung, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala seperti pusing, lemas, atau kesulitan bernapas akibat suhu yang sangat tinggi.
Angka baru ini menandai peningkatan tajam dari perkiraan sebelumnya yaitu setidaknya 1.000 kematian terkait panas.Otoritas Kesehatan Masyarakat Prancis mengatakan dalam laporan terbaru bahwa telah terjadi "peningkatan 29,1 persen. Angka itu sesuai dengan 2.025 kematian tambahan dibandingkan dengan pekan sebelumnya" sambil mencatat bahwa angka tersebut mungkin "merupakan perkiraan yang kurang tepat".Laporan tersebut menyebutkan bahwa jumlah kematian meningkat sebesar 62 persen di wilayah Paris selama sepekan puncak gelombang panas sejak 22 Juni. Lonjakan serupa juga dilaporkan di wilayah Pays de la Loire