Kelompok Termul & Jokower Disebut Ingin Makzulkan Presiden Prabowo

Jakarta, - Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu kembali melontarkan pernyataan mengejutkan terkait dinamika politik di lingkaran kekuasaan saat ini, khususnya kepemimpinan Presiden RI, Prabowo Subianto.

Dalam diskusi bertajuk "Apakah Gerakan Pemakzulan Prabowo Itu Realistis?" di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis (7/5/2026), Said menyebut ancaman pemakzulan justru datang dari pendukung setia Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi.

Said menggunakan istilah Termul (Ternak Mulyono) dan Jokower untuk merujuk pada kelompok yang menurutnya merasa terusik oleh kebijakan Presiden Prabowo.

Zona Nyaman Oligarki Terusik

Menurut Said Didu, gelombang ketidaksukaan kelompok tersebut dipicu oleh langkah berani Prabowo dalam menertibkan aset negara.

Dia menilai Prabowo mulai menyentuh zona nyaman para oligarki dan oknum aparat yang selama ini tidak tersentuh.

"Judul (diskusi) ini saya pikir yang paling senang dengan judulnya adalah Termul dan Jokower. Karena merekalah yang sebenarnya yang ingin memakzulkan Prabowo. Bukan orang-orang yang ada dalam ruangan ini," tegas Said Didu.

Said menambahkan bahwa kemarahan ini merupakan reaksi dari para "politisi busuk" yang selama ini berlindung di balik ketiak oligarki.

"Baru kali ini ada presiden yang berani menyentuh oligarki. Dan mereka marah semua kepada Prabowo. Karena politisi busuk berlindung di mereka. Politisi busuk berlindung di oligarki," ujarnya.

Lobi Khusus dan `Pengepungan` di Ring Satu

Said Didu juga menyoroti komposisi orang-orang di sekeliling Prabowo yang menurutnya sarat akan titipan kepentingan rezim lama.

Dia meyakini ada lobi khusus yang sengaja menempatkan figur-figur loyalis Jokowi di ring satu kekuasaan untuk membatasi ruang gerak Presiden Prabowo.

Dia secara spesifik menyebut beberapa nama, di antaranya Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman dan Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi.

"Coba bayangkan ada Jokower ditempatkan dan saya yakin adalah lobi khusus yang menempatkan sekitar Prabowo. Apakah kita harus diam melihat Prabowo dikepung oleh mereka?" ungkap sosok yang pernah menjabat Staf Khusus Menteri ESDM ini.

Frustrasi dengan Kompromi Politik Presiden Prabowo
Meskipun dikenal sebagai pengkritik tajam, Said Didu mengaku telah menemui Prabowo Subianto secara langsung untuk menyampaikan keluh kesahnya.

Dia mengapresiasi niat baik sang Presiden melalui Tim Penertiban Kawasan Hutan (PKH), namun dia mengaku frustrasi dengan gaya politik Prabowo yang dianggap terlalu banyak berkompromi.

"Saya ketemu Prabowo saya bilang, `Pak Prabowo saya percaya niat Bapak, tapi saya frustasi dengan cara Bapak`. Dan saya bisa gila dengan cara Bapak terlalu berbelok-belok," kenang Said.

Said memperingatkan bahwa saat ini Prabowo berada pada titik krusial.

Jika tidak berani mengambil keputusan ekstrem untuk lepas dari bayang-bayang rezim lama, program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga hilirisasi justru berisiko menjadi "senjata" yang digunakan untuk menjatuhkannya.