Dr. Roy T Pakpahan SH, Pemimpin Redaksi Law-Justice.co

Prabowo, Gibran dan Pertarungan Narasi Menuju 2029

[INTRO]

Politik nasional tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh narasi yang berkembang di ruang publik. Dalam era media digital, persepsi sering kali bergerak lebih cepat daripada fakta, sehingga siapa yang berhasil membangun citra dan mengendalikan opini publik kerap memperoleh keuntungan politik yang tidak kalah penting dibanding keberhasilan menjalankan pemerintahan.

Beberapa bulan terakhir, publik menyaksikan dinamika yang menarik dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Di satu sisi, Presiden Prabowo berada di garis depan menghadapi berbagai persoalan yang menjadi sorotan masyarakat, mulai dari tantangan ekonomi, implementasi program prioritas pemerintah, hingga kritik terhadap berbagai kebijakan strategis. Sebagai kepala pemerintahan, hampir seluruh keberhasilan maupun kegagalan pemerintah secara politik bermuara kepada dirinya.

Di sisi lain, Wakil Presiden Gibran terlihat lebih banyak menjalankan agenda-agenda yang berorientasi pada pelayanan publik, kunjungan ke daerah, dan aktivitas yang membangun kedekatan dengan masyarakat. Situasi ini kemudian memunculkan beragam tafsir di ruang publik. Ada yang memandangnya sebagai pembagian tugas yang lazim dalam sistem presidensial. Namun, ada pula yang menilai muncul gejala pembentukan identitas politik yang berbeda antara Presiden dan Wakil Presiden sebagai bagian dari investasi politik jangka panjang.

Berbagai spekulasi tersebut semakin menguat ketika ruang digital dipenuhi pertarungan narasi yang melibatkan elite politik, partai-partai pendukung, media sosial, para pendengung (buzzer), influencer, hingga berbagai kelompok kepentingan. Dalam situasi seperti ini, sering kali sulit membedakan mana kritik yang lahir secara organik dari masyarakat, mana yang merupakan bagian dari kompetisi politik, dan mana yang sekadar perang persepsi untuk memengaruhi opini publik.

Dari perspektif tersebut, setidaknya terdapat tiga pertanyaan mendasar yang layak menjadi bahan perenungan dan diskusi. Pertama, apakah Prabowo dan Gibran masih berada dalam satu narasi kepemimpinan yang sama, atau justru telah membangun panggung politik masing-masing?. Kedua, mengapa kritik publik lebih banyak diarahkan kepada Presiden Prabowo, sementara Gibran relatif berada di luar pusaran kritik?

Apakah hal itu merupakan konsekuensi yang wajar dalam sistem presidensial, atau mencerminkan pertarungan framing di ruang publik yang membentuk persepsi masyarakat?. Ketiga, apakah dinamika politik yang berkembang saat ini merupakan bagian dari proses kompetisi menuju Pilpres 2029, dan jika demikian, bagaimana seharusnya Presiden Prabowo menjaga soliditas pemerintahan sekaligus memastikan agenda pembangunan tidak terganggu oleh meningkatnya kontestasi politik?

Mulai Pecah Kongsi ?

Pertanyaan mengenai apakah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih berada dalam satu narasi kepemimpinan yang sama sesungguhnya merupakan salah satu isu politik paling menarik untuk dicermati sejak pemerintahan ini berjalan. Dalam sistem presidensial Indonesia, Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu paket oleh rakyat, sehingga secara konstitusional keduanya diharapkan menjalankan visi, misi, dan agenda pemerintahan secara terpadu. Karena itu, publik pada dasarnya berharap melihat satu arah kepemimpinan, satu strategi komunikasi politik, dan satu pesan yang konsisten kepada masyarakat.

Namun, dinamika yang berkembang belakangan memunculkan beragam tafsir. Presiden Prabowo lebih sering tampil sebagai aktor utama yang memikul seluruh beban pemerintahan. Hampir setiap persoalan nasional mulai dari implementasi program prioritas, kondisi ekonomi, dinamika fiskal, hingga berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah bermuara kepada Presiden. Posisi tersebut memang merupakan konsekuensi logis dari sistem presidensial, di mana seluruh tanggung jawab pemerintahan berada di pundak kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.

Sebaliknya, Wakil Presiden Gibran lebih banyak tampil melalui kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat, kunjungan kerja ke berbagai daerah, peninjauan program pemerintah, serta aktivitas yang membangun kedekatan dengan publik. Dari sudut pandang pemerintahan, pembagian peran seperti ini bukan sesuatu yang luar biasa karena Wakil Presiden memang membantu Presiden menjalankan tugas-tugas tertentu. Akan tetapi, dari perspektif komunikasi politik, muncul pertanyaan apakah pola tersebut sekadar pembagian kerja yang telah dirancang sejak awal atau justru mulai membentuk identitas politik yang berbeda di mata masyarakat.

Perbedaan gaya kepemimpinan juga menjadi faktor yang memperkuat persepsi tersebut. Prabowo dikenal memiliki karakter yang tegas, lugas, dan sering tampil memberikan pernyataan mengenai isu-isu strategis nasional maupun internasional. Sebaliknya, Gibran cenderung menampilkan citra yang lebih sederhana, dekat dengan masyarakat, dan lebih banyak hadir melalui aktivitas lapangan daripada pernyataan politik yang konfrontatif.

Perbedaan gaya ini sebenarnya dapat saling melengkapi dalam sebuah pemerintahan. Namun, ketika ruang publik mulai membandingkan keduanya secara terus-menerus, perbedaan gaya tersebut berpotensi berkembang menjadi persepsi bahwa masing-masing sedang membangun panggung politiknya sendiri.

Fenomena ini semakin menarik karena komunikasi politik pada era digital tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah. Media sosial, influencer, kelompok pendukung, dan berbagai komunitas digital ikut membentuk persepsi masyarakat melalui narasi yang beragam.

Dalam situasi seperti itu, setiap aktivitas Presiden maupun Wakil Presiden mudah ditafsirkan sebagai bagian dari strategi politik jangka panjang, terlebih ketika Indonesia mulai memasuki fase awal menuju kontestasi politik 2029. Kunjungan kerja, penyerahan bantuan sosial, dialog dengan masyarakat, hingga aktivitas seremonial dapat dipersepsikan bukan hanya sebagai pelaksanaan tugas pemerintahan, tetapi juga sebagai upaya membangun modal politik.

Meskipun demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti yang secara meyakinkan menunjukkan bahwa Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran menjalankan agenda politik yang saling bertentangan. Sebagian besar interpretasi yang berkembang masih bertumpu pada pembacaan terhadap simbol, gaya komunikasi, intensitas pemberitaan, serta dinamika persepsi di ruang publik.

Karena itu, akan terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa keduanya telah berada pada jalur politik yang berbeda. Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa muncul persepsi mengenai adanya diferensiasi citra politik antara Presiden dan Wakil Presiden, dan persepsi itulah yang kini menjadi bagian dari pertarungan narasi politik nasional.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh kesamaan visi dalam dokumen resmi, tetapi juga oleh kemampuan para pemimpinnya menampilkan soliditas di hadapan publik. Jika perbedaan gaya komunikasi dan aktivitas politik terus ditafsirkan sebagai persaingan internal, maka ruang spekulasi akan semakin terbuka dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan politik.

Sebaliknya, apabila Presiden dan Wakil Presiden mampu menunjukkan koordinasi yang konsisten, komunikasi yang harmonis, dan kesamaan arah dalam setiap kebijakan strategis, maka berbagai spekulasi mengenai adanya "dua panggung politik" akan kehilangan relevansinya. Di sinilah tantangan terbesar pemerintahan Prabowo-Gibran: bukan hanya mengelola negara, tetapi juga mengelola persepsi publik agar tetap melihat adanya satu kepemimpinan, satu komando, dan satu tujuan dalam menjalankan pemerintahan.

Mengapa Prabowo Jadi Sasaran Tembak ?

Dinamika politik yang berkembang belakangan memperlihatkan adanya fenomena yang menarik untuk dicermati. Hampir seluruh isu strategis yang menjadi perhatian public mulai dari implementasi program Makan Bergizi Gratis, kondisi fiskal negara, nilai tukar rupiah, dinamika pasar modal, hingga berbagai kebijakan pemerintah yang menuai kontroversi lebih sering dilekatkan pada sosok Presiden Prabowo. Di sisi lain, Wakil Presiden Gibran relatif lebih jarang menjadi sasaran kritik dengan intensitas yang sama, meskipun secara politik ia merupakan bagian dari pemerintahan yang sama dan ikut bertanggung jawab terhadap keberhasilan maupun kegagalan agenda pemerintah.

Terdapat beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan fenomena tersebut. Penjelasan pertama adalah faktor kelembagaan. Dalam praktik pemerintahan presidensial di berbagai negara, perhatian publik memang cenderung terpusat pada Presiden sebagai pengambil keputusan tertinggi. Oleh karena itu, wajar apabila apresiasi maupun kritik lebih banyak mengarah kepada Presiden daripada Wakil Presiden.

Penjelasan kedua berkaitan dengan strategi komunikasi politik. Gaya komunikasi Presiden Prabowo yang lebih sering menyampaikan berbagai isu strategis membuat dirinya menjadi wajah utama pemerintahan. Sebaliknya, Gibran lebih banyak tampil melalui kunjungan kerja, kegiatan pelayanan masyarakat, peninjauan program pemerintah, dan aktivitas yang membangun kedekatan dengan publik. Perbedaan pola komunikasi tersebut dapat menghasilkan persepsi yang berbeda di mata masyarakat. Presiden dipersepsikan sebagai pemikul beban persoalan negara, sedangkan Wakil Presiden lebih identik dengan aktivitas yang bersifat solutif dan dekat dengan rakyat.

Di sinilah kemudian muncul pertanyaan yang lebih menarik: apakah perbedaan persepsi tersebut berkembang secara alami, ataukah dipengaruhi oleh pertarungan framing di ruang publik? Dalam era digital, opini publik tidak lagi terbentuk semata-mata melalui media arus utama. Media sosial, influencer, komunitas digital, algoritma platform, serta berbagai kelompok pendukung politik memiliki kemampuan besar dalam membentuk persepsi masyarakat.

Isu tertentu dapat diperbesar, sementara isu lainnya dapat tenggelam. Tokoh tertentu dapat terus-menerus menjadi sasaran kritik, sementara tokoh lain memperoleh ruang pemberitaan yang lebih positif. Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan telah menjadi karakter politik modern di banyak negara.

Karena itu, tidak mengherankan apabila muncul dugaan bahwa kompetisi politik saat ini tidak hanya berlangsung dalam arena kebijakan, tetapi juga dalam arena persepsi. Berbagai narasi yang beredar di media sosial sering kali mendorong publik membangun kesimpulan tertentu mengenai siapa yang dianggap bertanggung jawab atas berbagai persoalan nasional dan siapa yang dipersepsikan sebagai figur yang relatif tidak tersentuh oleh kritik.

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, sejumlah pengamat politik memandang bahwa fenomena yang terjadi tidak sepenuhnya bersifat spontan. Mereka melihat adanya pola komunikasi yang terstruktur dan saling menguatkan, sehingga memunculkan dugaan tentang berlangsungnya semacam “cyber warfare” atau perang narasi di ruang digital.

Dalam perspektif tersebut, sasaran utamanya adalah membentuk persepsi negatif terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto melalui penggiringan opini publik secara terus-menerus. Berbagai kritik, isu, maupun konten yang beredar dinilai berpotensi menumbuhkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Apabila persepsi semacam itu berhasil mengakar, maka figur lain yang diposisikan relatif jauh dari beban kritik dapat memperoleh keuntungan politik karena dipandang sebagai alternatif atau bahkan "penyelamat" di mata sebagian publik.

Pembacaan tersebut semakin menguat ketika sebagian kalangan mengamati berbagai aktivitas politik mantan Presiden Joko Widodo setelah tidak lagi menjabat. Intensitas kunjungan ke sejumlah daerah dipandang bukan semata-mata sebagai agenda silaturahmi atau kegiatan sosial biasa, melainkan sebagai bagian dari upaya mempertahankan pengaruh politik pasca-kekuasaan. Dalam politik, setiap pergerakan tokoh nasional hampir selalu memiliki dimensi simbolik yang membuka ruang bagi beragam interpretasi.

Semua manuver dan gerilya tadi tentu membutuhkan dana sangat besar. Publik percaya, Jokowi punya uang sangat banyak. Politisi senior PDIP Beathor Suryadi, misalnya, yakin di rumah Jokowi ada bungker berisi duit. Jumlahnya sangat fantastis, ratusan triliun. Dia bahkan menyebut masih ada sejumlah bungker di beberapa tempat lain.

Meski begitu, ikhtiar menjatuhkan Prabowo dan segera menaikkan Gibran berkelindan dengan kepentingan oligarki. Mereka siap dengan senang hati mendanai semua gerakan kolosal ini. Biaya safari politik Jokowi, gerilya PSI, dan bayaran para buzzer/influencer cuma remah-remah bagi oligarki.

Kompetisi Menuju Pilpres 2029

Sulit untuk memungkiri bahwa dinamika politik nasional saat ini mulai diwarnai oleh nuansa kompetisi menuju Pilpres 2029. Pengalaman politik Indonesia menunjukkan bahwa kontestasi kepemimpinan nasional tidak pernah benar-benar dimulai pada tahun terakhir masa jabatan pemerintahan.

Justru sejak awal periode pemerintahan, berbagai aktor politik telah mulai membangun modal elektoral, memperkuat jejaring kekuasaan, mengonsolidasikan partai politik, serta membentuk persepsi publik mengenai siapa yang layak menjadi pemimpin berikutnya. Dalam konteks tersebut, berbagai aktivitas politik yang terjadi hari ini dapat dipahami sebagai bagian dari proses konsolidasi jangka panjang, meskipun belum tentu seluruhnya merupakan kampanye politik yang terencana.

Fenomena meningkatnya intensitas kunjungan para tokoh nasional ke daerah, menguatnya komunikasi politik antarpartai, semakin aktifnya organisasi sayap politik, hingga pertarungan narasi di media sosial merupakan gejala yang lazim menjelang siklus suksesi kepemimpinan. Di era digital, kompetisi tidak lagi semata-mata berlangsung melalui rapat umum atau kampanye terbuka, tetapi juga melalui pembentukan citra, pengelolaan opini publik, dan penguasaan ruang informasi. Persepsi masyarakat menjadi aset politik yang nilainya hampir setara dengan kekuatan organisasi dan sumber daya politik itu sendiri.

Di sisi lain, berbagai tafsir yang berkembang mengenai hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Wakil Presiden Gibran menunjukkan bahwa ruang publik telah memasuki fase ketika hampir setiap kebijakan, kunjungan kerja, maupun pernyataan politik dibaca dalam perspektif Pilpres 2029.

Apa yang mungkin merupakan bagian dari pelaksanaan tugas pemerintahan oleh sebagian kalangan dapat dipersepsikan oleh pihak lain sebagai langkah membangun posisi politik. Perbedaan penafsiran semacam ini merupakan konsekuensi dari tingginya polarisasi opini di masyarakat dan derasnya arus informasi yang terus membentuk persepsi publik. Meski demikian, penting untuk membedakan antara dinamika politik yang merupakan bagian dari kompetisi demokratis dengan dugaan mengenai adanya skenario politik tertentu.

Dalam sistem demokrasi, setiap partai politik maupun tokoh publik memiliki ruang untuk membangun pengaruh dan mempersiapkan diri menghadapi kontestasi politik berikutnya selama dilakukan dalam koridor konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, tidak semua aktivitas politik dapat serta-merta dimaknai sebagai upaya melemahkan pemerintahan atau sebagai strategi menggantikan kekuasaan sebelum waktunya. Analisis semacam itu memerlukan bukti yang kuat, bukan semata-mata pembacaan terhadap simbol, persepsi, atau dinamika media sosial.

Terlepas dari berbagai spekulasi yang berkembang, tantangan terbesar Presiden Prabowo sesungguhnya bukan hanya menjalankan program-program pemerintahan, melainkan juga menjaga kohesi politik di dalam koalisi pemerintah. Stabilitas politik merupakan prasyarat utama bagi keberhasilan pembangunan ekonomi, kepastian investasi, dan kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Karena itu, Presiden perlu memastikan bahwa seluruh jajaran pemerintahan, termasuk para pembantu dan mitra koalisinya, tetap bergerak dalam satu arah kebijakan dan satu narasi kepemimpinan yang jelas. Komunikasi yang terbuka, koordinasi yang kuat, dan pembagian peran yang tegas menjadi instrumen penting untuk mencegah lahirnya persepsi mengenai adanya dualisme kepemimpinan atau persaingan internal yang dapat mengganggu efektivitas pemerintahan.

Selain itu, Presiden juga perlu mengedepankan tata kelola pemerintahan yang transparan, memperkuat penegakan hukum secara adil, serta memastikan bahwa setiap kebijakan strategis dijelaskan kepada publik secara konsisten. Dalam situasi ketika ruang digital dipenuhi berbagai informasi, opini, bahkan disinformasi, kemampuan pemerintah mengelola komunikasi publik menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menyusun kebijakan. Pemerintahan yang mampu menjelaskan arah kebijakannya secara terbuka akan lebih sulit digoyahkan oleh spekulasi dan pertarungan narasi yang berkembang di ruang publik.

Pada akhirnya, apakah dinamika politik hari ini merupakan bagian dari kompetisi menuju Pilpres 2029 hanya waktu yang akan memberikan jawaban yang lebih pasti. Namun, satu hal yang tidak dapat diabaikan adalah bahwa kompetisi politik tidak boleh mengorbankan stabilitas pemerintahan dan kepentingan nasional. Presiden Prabowo menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara membuka ruang demokrasi dan memastikan pemerintahan tetap solid, efektif, serta fokus menjalankan mandat rakyat.

Keberhasilan menjaga keseimbangan tersebut akan menjadi ukuran penting apakah pemerintahan ini mampu mengakhiri masa jabatannya dengan stabilitas politik yang terpelihara sekaligus meninggalkan fondasi yang kuat bagi keberlanjutan demokrasi Indonesia.