[INTRO]
Sejumlah bank BUMN yang tergabung dalam Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), yaitu Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN, menunjukkan kinerja yang paradoks. Kondisi paradoks terlihat pada laporan kinerja Himbara pada tahun 2025. Di satu sisi menunjukkan adanya peningkatan total aset dan dana pihak ketiga (DPK), namun secara bersamaan juga mencatatkan terjadinya penurunan laba dan melemahnya fungsi intermediasi bank.
Hal tersebut tidak sesuai dengan mandat yang diberikan oleh Undang-Undang BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan Undang-Undang Perbankan yaitu untuk meningkatkan laba, memperkuat fungsi intermediasi, dan mendukung perekonomian nasional. Seharusnya, kenaikan total aset dan DPK diikuti dengan kenaikan laba, penguatan fungsi intermediasi, dan juga memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.Laporan kinerja Himbara 2025 menunjukkan kenaikan total aset dan DPK Himbara tidak diikuti dengan kenaikan laba. Total aset Himbara pada 2025 mencapai Rp6.855,17 triliun atau naik 13,89 persen dibanding tahun 2024 yang hanya sebesar Rp6.019,15 triliun. Jumlah tersebut sekaligus memperkokoh aset Himbara yang mencapai 50,23 persen dari total aset seluruh bank umum yang sebesar Rp13.646,42 triliun. Namun demikian, Himbara hanya membukukan laba sebesar Rp136,48 triliun, atau menyusut 2,6 persen dibanding 2024 yang sebesar Rp140,19 triliun.Rinciannya, pada 2025 Bank Mandiri berhasil mencatatkan total aset hingga mencapai Rp2.829,95 triliun atau naik secara signifikan 16,6 persen dibanding periode tahun sebelumnya yang sebesar Rp2.427,22 triliun. Namun, Bank Mandiri hanya mampu membukukan laba Rp56,29 triliun atau naik tipis 0,92 persen dibanding tahun 2024. Lalu, BRI mencatatkan total aset sebesar Rp2.135,37 triliun atau naik 7,1 persen dibanding tahun 2024, namun labanya tergerus hanya menjadi Rp56,65 triliun atau turun 5,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp59,95 triliun.BNI juga berhasil meningkatkan total aset hingga mencapai Rp1.162,06 triliun atau naik 20,5 persen dibanding tahun 2024 yang hanya Rp1.130,13 triliun. Namun, BNI hanya mampu mencetak laba Rp20,04 triliun atau terkontraksi 6,6 persen dibanding tahun 2024. Sementara itu, BTN mampu mencatatkan total aset sebesar Rp527,79 triliu atau naik 12,4 persen dibanding tahun 2024 yang sebesar Rp469,62 triliun. Selain itu, BTN juga mampu meningkatkan laba mencapai Rp3,5 triliun atau naik 16,4 persen dibanding tahun 2024 yang hanya sebesar Rp3,0 triliun.Penurunan profitabilitas Himbara juga terlihat pada indikator NIM (Net Interest Margin) yang mengalami penyusutan. Penurunan NIM mengindikasikan berkurangnya kemampuan bank untuk menghasilkan laba bersih dari aset produktifnya. Setidaknya sebanyak tiga bank Himbara mengalami penurunan angka NIM, sehingga hanya satu bank yang mencatatkan NIM yang meningkat.Pada 2025, angka NIM Bank Mandiri tercatat sebesar 4,89 persen atau mengalami penyusutan sebesar 0,26 poin persen dibanding 2024 yang sebesar 5,15 persen. Lalu, NIM BRI dan BNI yang masing-masing tercatat sebesar 7,8 persen dan 3,8 persen atau terkontraksi sebesar 0,1 poin persen dan 0,4 poin persen. Sementara itu, NIM BTN tercatat sebesar 4,2 persen atau mengalami kenaikan sebesar 1,3 poin persen dibanding 2024 yang sebesar 2,9 persen.Himbara juga kurang optimal melaksanakan fungsi intermediasi perbankan. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) Himbara selama 2025 mencapai Rp5.050,83 triliun atau melonjak hingga 18,80 persen dibanding tahun 2024. Namun demikian, penyaluran kredit hanya naik 13,40 persen atau tercatat sebesar Rp4.716,58 triliun.Peningkatan DPK yang cukup signifikan tidak diimbangi dengan penyaluran kredit yang berimbang. Hal tersebut mengindikasikan terjadinya pelemahan fungsi intermediasi Bank Himbara. Penurunan fungsi intermediasi juga dipertegas oleh indikator LDR (Loan to Deposit Ratio) yaitu rasio yang menunjukkan seberapa besar dana yang disalurkan dalam bentuk kredit dibandingkan dengan total dana yang dihimpun (DPK). Sebanyak tiga bank Himbara menunjukkan penurunan angka LDR, hanya satu bank Himbara yang mengalami peningkatan LDR.Sepanjang 2025, Bank Mandiri mampu menghimpun DPK hingga mencapai Rp2.105,76 triliun, namun hanya menyalurkan kredit sebesar Rp1.894,99 triliun. Sehingga, angka LDR-nya hanya sebesar 87,6 persen atau turun 7,48 poin persen dibanding tahun 2024 yang sebesar 95,1 persen. Lalu, BNI mampu menghimpun DPK sebesar Rp1.040,83 triliun, namun hanya menyalurkan kredit sebesar Rp899,53 triliun. Sehingga, angka LDR-nya hanya tercatat sebesar 86,4 persen atau turun 9,7 poin persen dibanding 2024 yang sebesar 96,1 persen.Sementara itu, BTN menghasilkan DPK sebesar Rp437,40 triliun, namun hanya menyalurkan kredit sebesar Rp400,58 triliun. Sehingga, angka LDR tercatat sebesar 91,6 persen, atau turun 2,21 poin persen dibanding 2024 yang sebesar 93,46 persen.Sebenarnya BRI mampu mengoptimalkan fungsi intermediasi secara lebih baik. Angka LDR BRI naik dari 88,85 persen pada 2024 menjadi 91,40 persen pada 2025, atau naik 2,55 poin persen. Penyaluran kredit pada 2025 tercatat sebesar Rp1.521,48 triliun, naik sebesar Rp166,8 triliun atau 12,3 persen dibanding 2024 yang sebesar Rp1.354,64 triliun.Namun, fungsi intermediasi BRI yang cukup optimal tidak diikuti keberpihakan terhadap sektor UMKM. Data menunjukkan, BRI lebih banyak memberikan tambahan kredit untuk segmen korporasi dengan porsi mencapai Rp98,2 triliun atau 58,87 persen dari total kenaikan kredit. Sementara kredit untuk segmen UMKM hanya bertambah Rp26,9 triliun atau 16,06 persen dari total peningkatan kredit BRI.Penurunan fungsi intermediasi Himbara memberikan andil terhadap tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025. BPS (Badan Pusat Statistik) telah mengumumkan sepanjang 2025 ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,11 persen. Capaian tersebut masih di bawah target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan dalam APBN 2025 yakni sebesar 5,2 persen.Sinyalemen perekonomian yang kurang bergairah sudah terlihat sejak pertengahan tahun 2025. Oleh karena itu Pemerintah mengambil sejumlah langkah strategis untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, yaitu meluncurkan stimulus ekonomi dan juga mengguyur likuiditas melalui penempatan dana pemerintah di Himbara.Pemerintah memindahkan dana yang semula disimpan di Bank Indonesia ke perbankan yang mayoritas merupakan bank-bank anggota Himbara. Pada tahap pertama penempatan dana mencapai Rp200 triliun dan tahap kedua mencapai Rp76 triliun. Penempatan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan likuiditas, memperkuat kredit perbankan, dan mendorong penguatan pertumbuhan ekonomi.Selain dari sisi fiskal, Bank Indonesia selaku otoritas moneter juga telah mengambil kebijakan akomodatif untuk mendorong penguatan kredit perbankan. Sepanjang 2025, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan atau BI rate sebanyak lima kali dengan total 125 basispoin (bps) dari semula 6 persen menjadi 4,75 persen.Bauran kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif kurang direspon oleh Bank Himbara. Hal tersebut terlihat dari kurang optimalnya Himbara mengucurkan kredit. Perekonomian Indonesia pada 2025 yang mampu tumbuh mencapai 5,11 persen, yang tertinggi sejak 2022, merupakan kondisi yang seharusnya didukung pengucuran kredit yang lebih besar. Namun, Himbara memilih untuk mengerem laju kredit.Di sisi yang lain, penempatan dana Himbara di SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) dan SBN (Surat Berharga Negara), serta instrumen lainnya meningkat cukup signifikan. Pada 2025, penempatan tersebut mencapai Rp1.554,92 triliun atau naik 18,50 persen dibanding tahun 2024.Kondisi paradoks yang terjadi pada 2025 tidak boleh terulang kembali pada 2026. Apalagi pada 2026 ini pemerintah telah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi yaitu mencapai 5,4 persen. Himbara selaku BUMN sudah seharusnya berkontribusi lebih besar untuk bangsa dan negara. Karena itu, Himbara perlu melaksanakan mandat undang-undang secara lebih optimal, yaitu mempertebal laba, meningkatkan fungsi intermediasi, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.