Jakarta, - Reynhard Sinaga, pelaku pemerkosa ratusan laki-laki di Manchester benar-benar harus menerima takdir suram dalam hidupnya. Nasibnya kini diujung tanduk setelah Mahkamah Banding Inggris pada Jumat (11/12) kemarin menetapkan hukuman seumur hidup terhadap dirinya.
Tak cukup melenyapkan sisa hidupnya itu, Mahakmah Banding bahkan memperberat lagi hukumannya itu dengan tambahan 40 tahun penjara sebagai syarat bila Reynhard ingin mengajukan permohonan bebas. Sebelumnya, hukuman penjara itu berlaku 30 tahun.
Polisi Manchester Raya, Mabs Hussain, mengatakan pihaknya menyambut positif keputusan Mahkamah Banding tersebut. Tambahan beban hukuman itu dinilai pantas mengingat kejahatan yang dilakukan Reynhard belum pernah terjadi sepanjang berdirinya Britania Raya.
"Kami senang bahwa Sinaga akan mendekam di penjara selama 10 tahun lebih lama," ujar Hussain, sebagaimana dikutip dari BBC Indonesia.
"Dari pembicaraan dengan banyak korban, kami tahu bahwa banyak yang juga menyambut hasil ini dan merasa diperberatnya hukuman ini menggambarkan kekejaman kejahatan yang dilakukan," tambahnya.
Awal tahun lalu, Reynhard dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan waktu minimum 30 tahun sebelum dapat mengajukan permohonan bebas. Desakan memperberat hukuman bagi Reynhard terus berdatangan.
Pada Pertengahan Oktober lalu, Kejaksaan Agung Inggris bahkan mengajukan permohonan hukuman seumur hidup total atau tidak dapat mengajukan permohonan bebas lagi ke Mahkamah Banding.
Jaksa dari Kejaksaan Agung Michael Ellis saat itu menilai kasus perkosaan itu merupakan " lkejahatan seksual yang begitu parah." Hukuman seumur hidup total ini bahkan ditegaskan oleh para hakim bahwa kejahatan itu "tidak tertutup" pada kasus pembunuhan berat saja.
Jaksa mengatakan tambahan hukuman menjadi 40 tahun baru dapat mengajukan permohonan bebas, adalah yang terberat menyangkut kasus bukan pembunuhan. Mengenai berhasil pengungkapan semua korban, Mabs Hussain mengaku hal itu tak lepas dari keberanian para korban sendiri mengakui musibah yang menimpa mereka, meski hal itu sangat lah berat secara psikologis.
"Perhatian utama kasus ini selalu adalah para korban dan upaya mendukung mereka selama pengalaman mengerikan mereka," kata Mabs.